Rabu, 23 November 2016

DO’A KU

Ya Allah ....
Ampuni dosa-dosa yang terkadang aku tidak tahu kalau itu dosa…
Tuntun dan bimbinglah aku ke jalanMU yang lurus ini,
Bimbinglah diri yang lemah ini agar tetap lurus dalam BERGURU
Serta tuntun juga orang-orang yang selalu besertaku dalam membesarkan namaMU
Terima kasih atas semua karunia yang ENGKAU berikan hingga usiaku yang ke ..........

Ya Allah ....
Jangan ENGKAU berikan kekayaan yang membuat aku sombong
Jangan ENGKAU berikan kemulyaan yang membuat aku lalai
Jangan ENGKAU berikan kekuatan yang membuat aku angkuh
Jangan ENGKAU berikan kesenangan yang membuat aku lupa
Jangan ENGKAU berikan kenikmatan yang membuat aku kufur
Jangan ENGKAU berikan tahta yang membuat aku terpedaya
Jangan ENGKAU berikan pahala yang membuat aku tidak ihklas.

Ya Allah ....
Andai ENGKAU berkenan…
Berikan aku semua dengan kasih dan sayang MU
Hingga aku semakin tahu diri dan mensyukuri segala yang ENGKAU berikan…

Ya Allah ....
Berikan daku sahabat-sahabat yang selalu setia dalam menggapaiMU
Yang tangguh dan tabah dalam segala kesulitan
Yang tidak menjauh bila diberi kesenangan, tidak mengeluh bila diberi cobaan
Berilah saudara-saudaraku karunia yang membuat mereka selalu bersyukur kepadaMu,
Janganlah kami ENGKAU pecah belah
Janganlah kepada kami ENGKAU titipkan dendam kesumat, iri dengki dan sifat-sifat tercela,
Tapi titipkanlah di hati kami sifat saling menyayangi dan mencintai sesama…
Hari ini dan untuk selamanya

Ya Allah ....
Perkenankanlah doa hamba ini….

Surat Cinta dari manusia-manusia yang malamnya penuh cinta



Kami tujukan kepada :
Insan yang tersia-sia malamnya

Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh

Wahai orang-orang yang terpejam matanya,
Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat
cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam
yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada
keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu
bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia.
Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami
berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap,
Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak
mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi
senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta.
Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati
tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan
gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian
hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena,
Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !! Yang setiap malam terpejam
matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh
suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami
adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang
Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu
ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya
terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan
orang- orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat
pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar
tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang
yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup
mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta,
Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah,
Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang
tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi
tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri.

Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu
untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan
yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan
sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati
bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada
keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar
untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu,
keluargamu ?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku
sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang
ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, " Nuruddin
itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan
akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama
pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah
perbincangan seru. Kata mereka, " Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan
karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai
rahasia bersama Tuhan". Aku tersenyum, mereka memang benar.
Kemenangan yang kuraih adalah karena do'a dan sholat-sholat malamku
yang penuh kekhusyu'an.

Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah
Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di
mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh
kemesraan dalam bingkai Tuhan. Gemerisik dedaunan dan desahan angin
seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh
berderai dalam sujud kami yang panjang.

Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan
jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang
membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada
malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah.
Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera
setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat
seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk
menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai,
Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah
yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima
Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku
mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga
sholat berjama'ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur'an
yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling
kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku.
Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata,
pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena,
Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah
orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat
lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari
sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku
untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami
laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan- Nya.
Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari
disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar.
Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu,
di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan.
Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya,
Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka
sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik
matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering
dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat
Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada
wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho'
As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai.
Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.

Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada
tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu,
tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya,
adakah dosa- dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ?
Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ?

Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung
datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani
terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang
pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang
ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat
Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku.

Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu'an kutengadahkan tanganku ke
langit, seraya berdo'a :

"Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang
kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi
sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu
sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ?
Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku
agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya."

Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh
dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh
mendengar do'a seorang pelayan ini. Do'aku dikabulkan oleh Tuhan,
hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah
lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau
pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam
pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya
manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang
makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub
pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam,
Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi.
Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa
menciptakan berbagai karya yang banyak ? Kapan aku beristirahat,
bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku
mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku- bukuku sejenak.
Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku
lanjutkan ibadahku."

Wahai orang-orang yang tergoda,

Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur
pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu
menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, Engkau masih
punya malam panjang, karena itu tidurlah !!".

Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu
muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah,
bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah
nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian,
berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir,
sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan- ikatan itu.
Wahai orang-orang yang masih terlelap,

Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ?
Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada- Nya,
bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2
rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada
1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia
berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku
akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa
yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata
demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia,
Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya.
Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya.
Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna.
Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ?
Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam.
Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam.
Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk,
bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya,
maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu.

Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya,
mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar.
Semoga...


Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,

(Manusia-Manusia Malam)
Sumber : diambil dari milis muslimsources

Para Kholifah dari Masa ke Masa



Para Khalifah Masa Khulafâ ar-Râsyidîn
No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Abu Bakar ash-Shiddîq
11-13
632-634
2
2
Umar bin al-Khaththâb
13-23
634-644
10
3
‘Utsman bin Afân
23-35
644-656
12
4
‘Alî bin Abi Thâlib
35-40
656-661
5
5
Al-Hasan bin ‘Ali
40-41
661
1
Para Khalifah Masa Umayyah
No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Mu’awiyah bin Abi Sofyân
41-60
661-679
19
2
Yazîd bin bin Mu’awiyah
60-64
679-683
4
3
Mu’awiyah bin Yazîd
64
683

4
Marwân bin al-Hakam
64-65
683-684
1
5
‘Abdul Malik bin Marwân
65-86
684-705
21
6
Al-Walîd bin ‘Abdul Malik
86-96
705-714
10
7
Sulaiman bin ‘Abdul Malik
96-99
714-717
3
8
Umar bin ‘Abdul ‘Azîz
99-101
717-719
2
9
Yazîd bin ‘Abdul Malik
101-105
719-723
4
10
Hisyam bin ‘Abdul Malik
105-125
723-742
20
11
Al-Walîd bin Yazîd
125-126
742-743
1
12
Yazîd bin al-Walîd
126
743

13
Ibrahîm bin al-Walîd
126-127
743-744
1
14
Marwan bin Muhammad
127-132
744-749
5
Para Khalifah Masa Abbasiyah yang Berpusat di Irak
No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Abu al-‘Abbâs as-Saffâh
132-137
749-753
5
2
Abu Ja’far al-Manshûr
137-159
753-774
22
3
Al-Mahdi
159-169
774-785
10
4
Al-Hâdi
169-170
785-786
1
5
Hârûn al-Rasyîd
170-193
786-808
23
6
Al-Amîn
193-198
808-813
5
7
Al-Ma`mûn
198-218
813-833
20
8
Al-Mu’tashim Billah
218-227
833-841
9
9
Al-Wâtsiq Billah
227-232
841-846
5
10
Al-Mutawakkil ‘Alallah
232-247
846-861
15
11
Al-Muntashir Billah
247-248
861-862
1
12
Al-Musta’în Billah
248-252
862-866
4
13
Al-Mu’taz Billah
252-255
866-868
3
14
Al-Muhtadî Billah
255-256
868-869
1
15
Al-Mu’tamad ‘Alallah
256-279
869-892
23
16
Al-Mu’tadhid Billah
279-289
892-901
10
17
Al-Muktafî Billah
289-295
901-907
6
18
Al-Muqtadir Billah
295-320
907-932
25
19
Al-Qâhir Billah
320-322
932-933
2
20
Ar-Râdhî Billah
322-329
933-940
7
21
Al-Muttaqî Lillah
329-333
940-944
4
22
Al-Mustakfî Lillah
333-334
944-945
1
23
Al-Muthî’ Lillah
334-363
945-973
9
24
Ath-Thâi’ Lillah
363-381
973-991
18
25
Al-Qâdir Billah
381-422
991-1030
41
26
Al-Qâim Biamrillah
422-467
1030-1074
45
27
Al-Muqtadî Biamrillah
467-487
1074-1094
10
28
Al-Mustazhhir Billah
487-512
1094-1118
25
29
Al-Musytarsyid Billah
512-529
1118-1134
17
30
Ar-Râsyid Billah
529-530
1134-1135
1
31
Al-Muqtafî Liamrillah
530-555
1135-1160
25
32
Al-Mustanjid Billah
555-566
1160-1170
11
33
Al-Mustadhî Biamrillah
566-575
1170-1179
9
34
An-Nâshir Lidînillah
575-622
1179-1225
47
35
Azh-Zhâhir Biamrillah
622-623
1225-1226
1
36
Al-Mustanshir Billah
623-640
1226-1242
7
37
Al-Mu’tashim Billah
640-656
1242-1258
16
Para Khalifah Masa Abbasiyah yang Berpusat di Mesir
No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Al-Mustanshir Billah (II)
659-661
1260-1262
2
2
Al-Hâkim Biamrillah (I)
661-701
1262-1301
40
3
Al-Mustakfî Billah (I)
701-736
1301-1335
35
4
Al-Wâtsiq Billah (I)
736-742
1335-1341
6
5
Al-Hâkim Biamrillah (II)
742-753
1341-1352
11
6
Al-Mu’tadhid Billah (I)
753-763
1352-1361
10
7
Al-Mutawakkil ‘Alallah (I)
763-785
1361-1383
22
8
Al-Wâtsiq Billah (II)
785-788
1383-1386
3
9
Al-Mu’tashim
788-791
1386-1388
3
10
Al-Mutawakkil ‘Alallah (II)
791-808
1388-1405
17
11
Al-Musta’în Billah
808-815
1405-1412
7
12
Al-Mu’tadhid Billah (II)
815-845
1412-1441
30
13
Al-Mustakfî Billah (II)
845-854
1441-1450
9
14
Al-Qâim Biamrillah
854-859
1450-1454
5
15
Al-Mustanjid Billah
859-884
1454-1479
15
16
Al-Mutawakkil ‘Alallah (III)
884-893
1479-1487
9
17
Al-Mutamassik Billah
893-914
1487-1508
11
18
Al-Mutawakkil ‘Alallah (IV)
914-918
1508-1512
4

Para Khalifah Masa Utsmaniyah
No
Khalifah
Th (H)
Th (M)
ΣTh
1
Salîm al-Ula
918-926
1512-1520
8
2
Sulaiman Qânûnî
926-974
1520-1566
48
3
Salîm ats-Tsanî
974-982
1566-1574
8
4
Murâd ats-Tsâlits
982-1003
1574-1595
21
5
Muhammad ats-Tsâlits
1003-1012
1595-1603
9
6
Ahmad al-Ula
1012-1026
1603-1617
14
7
Mushthafa al-Ula
1026
1617

8
Utsman ats-Tsânî
1026-1031
1617-1621
5
9
Mushthafa al-Ula (ke dua kali)
1031-1032
1621-1622
1
10
Murâd ar-Râbi’
1032-1049
1622-1639
17
11
Ibrâhîm al-Ula
1049-1058
1639-1648
9
12
Muhammad ar-Râbi’
1058-1099
1648-1687
41
13
Sulaiman ats-Tsânî
1099-1102
1687-1691
3
14
Ahmad ats-Tsânî
1102-1106
1991-1994
4
15
Mushthafa ats-Tsânî
1106-1115
1694-1702
9
16
Ahmad ats-Tsâlits
1115-1143
1703-1730
28
17
Mahmûd al-Ula
1143-1168
1730-1754
25
18
Utsman ats-Tsâlits
1168-1171
1754-1757
3
19
Mushthafa ats-Tsâlits
1171-1187
1757-1773
16
20
‘Abdul Hamîd al-Ula
1187-1203
1773-1788
16
21
Salîm ats-Tsâlits
1203-1222
1789-1807
19
22
Mushthafa ar-Râbi’
1222-1223
1807-1808
1
23
Mahmûd ats-Tsânî
1223-1255
1808-1839
32
24
‘Abdul Majîd al-Ula
1255-1277
1839-1861
22
25
‘Abdul ‘Azîz al-Ula
1277-1293
1861-1876
16
26
Murâd al-Khâmis
1293
1876

27
‘Abdul Hamid ats-Tsânî
1293-1328
1876-1909
35
28
Muhammad Rasyad al-Khâmis
1328-1337
1909-1918
9
29
Muhammad Wahîduddin (II)
1337-1340
1918-1922
3
30
‘Abdul Majîd ats-Tsânî
1340-1342
1922-1924
2