Kita
tidak dapat memungkiri bahwa masyarakat Jahiliyah identik dengan kehidupan
nista, pelacuran dan hal-hal lain yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan
ditolak oleh perasaan. Namun begitu, mereka juga mempunyai akhlak mulia dan
terpuji yang amat menawan siapa saja dan membuatnya terkesima dan takjub.
Diantara akhlak tersebut adalah:
Kemurahan hati
Mereka
berlomba-lomba dalam sifat ini dan membangga-banggakannya. Setengah dari
bait-bait Sya'ir mereka penuh dengan ungkapan tentang sifat ini antara pujian
kepada diri sendiri dan kepada orang lain yang memiliki sifat yang sama.
Seseorang terkadang kedatangan tamu di musim dingin yang membeku, kelaparan
yang menggelayut serta dalam kondisi tidak memiliki harta apa-apa selain onta
betina yang merupakan satusatunya sumber hidupnya dan keluarganya, akan tetapi
getaran kemurahan hati yang menggema di dada membuat mereka tidak ragu-ragu
untuk mempersembahkan suguhan istimewa buat tamunya, lantas disembelihlah onta
satu-satunya tersebut.
Diantara
pengaruh sifat murah hati tersebut; mereka sampai-sampai rela menanggung denda
yang berlipat dan beban-beban berat demi upaya mencegah pertumpahan darah dan
lenyapnya jiwa. Mereka berbangga dengan hal itu dan memuji-muji diri dihadapan
para tokoh dan pemuka. Pengaruh lain dari sifat tersebut, mereka memuji-muji
diri karena minum khamar/arak.
Hal ini
sebenarnya bukanlah lantaran bangga dengan esensi minum-minum itu, tetapi
lantaran hal itu merupakan sarana menuju tertanamnya sifat murah hati tersebut,
dan juga sarana yang memudahkan tumbuhnya jiwa yang boros. Dan lantaran itu
pula, mereka menamakan pohon anggur dengan al-Karom (murah hati) sedangkan arak
yang terbuat dari anggur itu mereka namakan bintul Karom. Jika anda membuka
kembali Diwan (Buku-buku/lembaran-lembaran yang mengoleksi) sya'ir-sya'ir
Jahiliyah, anda akan menemukan satu bab yang bertema: al-Madih wal fakhr
(puji-pujian dan kebanggaan diri). Dalam hal ini, 'Antarah bin Syaddad al-'Absy
mengurai bait-bait syairnya dalam Mu'allaqah-nya (Mu'allaqah artinya yang
digantungkan maksudnya bahwa kumpulan sya'ir-sya'ir tujuh Penyair 'Arab
terkenal pada masa itu yang dinamakan dengan al-Mu'allaqat as-Sab', termasuk
diantaranya 'Antarah ini, digantungkan secara bersama di dinding ka'bah
sehingga semua orang yang melakukan thawaf dapat mengetahui sekaligus
membacanya-penj):
"Sungguh
aku telah menenggak arak di tempat mulia sesudah wanita-wanita penghibur
ditelantarkan dengan cangkir dari kaca kuning diatas nampan nan terangkai bunga
dalam genggaman tangan dingin Saat aku menenggak, sungguh aku habiskan seluruh
Hartaku,namun begitu, kehormatanku masih sadarkan Kala aku tersadarkan, takkan
lengah menyongsong panggilan Sebagaimana hal itu melekat pada sifat dan
tabi'atku"
Pengaruh lainnya dari sifat al-Karom adalah mereka menyibukkan diri dalam
bermain judi dimana mereka menganggap hal itu sebagai sarana menuju sifat
tersebut karena dari keuntungan yang diraih dalam berjudi tersebut, mereka persembahkan
buat memberi makan fakir miskin. Atau bisa juga diambil dari sisa keuntungan
yang diraih masingmasing pemenang. Oleh karena itu, anda lihat Al-Qur'an tidak
mengingkari manfa'at dari khamar dan judi (maysir) itu, akan tetapi menyatakan:
"Dan dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (Qs. 2/al-Baqarah:
219).
Menepati Janji
Janji
dalam tradisi mereka adalah laksana agama yang harus dipegang teguh meskipun
untuk mendapatkannya mereka menganggap enteng membunuhi anak-anak mereka dan
menghancurkan tempat tinggal mereka sendiri. Untuk mengetahui hal itu, cukup
dengan membaca kisah Hani' bin Mas'ud asy-Syaibany, as-Samaual bin 'Adiya dan
Hajib bin Zurarah at-Tamimy.
Kebanggan pada diri sendiri dan sifat
pantang menerima pelecehan dan kezhaliman
Implikasi
dari sifat ini, tumbuhnya pada diri mereka keberanian yang amat berlebihan,
cemburu buta dan cepatnya emosi meluap. Mereka adalah orang-orang yang tidak
akan pernah mau mendengar ucapan yang mereka cium berbau penghinaan dan
pelecehan. Dan apabila hal itu terjadi, maka mereka tak segan-segan menghunus
pedang dan mengacungkan tombak, dan mengobarkan peperangan yang panjang. Mereka
juga tidak peduli bila nyawa mereka menjadi taruhannya demi mempertahankan
sifat tersebut.
Tekad yang pantang surut
Bila
mereka sudah bertekad untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap suatu
kemuliaan dan kebanggaan maka tak ada satupun yang dapat menyurutkan tekad
mereka tersebut, bahkan mereka akan nekad menerjang bahaya demi hal itu.
Lemah lembut, tenang dan waspada
Mereka menyanjung
sifat-sifat semacam ini, hanya saja keberadaannya seakan terhalangi oleh amat
berlebihannya sifat pemberani dan ketergesaan mereka dalam mengambil sikap
untuk berperang. Gaya hidup lugu dan polos ala Badui yang belum terkontaminasi
oleh kotoran peradaban dan tipu dayanya Implikasi dari gaya hidup semacam ini,
timbulnya sifat jujur, amanah serta anti menipu dan mengibul.
Kita
melihat bahwa tertanamnya akhlak yang amat berharga ini, disamping letak
geografis jazirah Arab di mata dunia adalah sebagai sebab utama terpilihnya
mereka untuk mengemban risalah yang bersifat umum dan memimpin umat manusia dan
masyarakat dunia. Sebab akhlak ini meskipun sebagiannya dapat membawa kepada
kejahatan dan menimbulkan peristiwa yang tragis, namun sebenarnya ia adalah
akhlak yang amat berharga, dan akan menciptakan keuntungan bagi umat manusia
secara umum setelah adanya sedikit koreksi dan perbaikan atasnya. Dan hal
inilah yang dilakukan oleh Islam ketika datang.
Nampaknya,
akhlak yang paling berharga dan amat bermanfaat menurut mereka setelah sifat
menepati janji adalah sifat kebanggaan pada diri dan tekad pantang surut. Hal
demikian, karena tidak mungkin dapat mengikis kejahatan dan kerusakan yang ada
serta menciptakan sistem yang penuh dengan keadilan dan kebaikan kecuali dengan
kekuatan yang memiliki daya gempur dan tekad yang membaja. Selain sifat-sifat
diatas, mereka juga memiliki sifat-sifat mulia lainnya namun bukanlah maksud
kami menghadirkannya disini untuk melacaknya secara tuntas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar