Selasa, 15 November 2016

Pernikahan



Mukaddimah Membangun Keluarga dan negara
 Membangun keluarga merupakan upaya yang wajib ditempuh oleh setiap pasangan yang diawali dengan pernikahan. Pernikahan adalah hal mendasar dalam membentuk sebuah keluarga Islami. Tanpa pernikahan, mustahil sebuah keluarga akan mencapai kebahagiaan-kebahagiaan yang dijanjikan Islam. Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah Swt yang menyebarkan agama Islam di bumi ini, memuji institusi keluarga sebagai bagian dari sunah beliau. Karena keluarga (usrah) merupakan elemen terkecil dari daulah dan merupakan tahap awal pembentukan daulah. Dengan demikian,  sebuah pernikahan tidak bisa keluar dari frame (bingkai) qiyadah, daulah dan manhaj nubuwwah sehingga harus betul-betul direncanakan dengan baik dan matang. Termasuk dalam hal pemilihan pasangan hidup, yang bukan hanya sekedar atas pertimbangan kecantikan/ketampanan atau pekerjaan dan status sosial ekonominya, tetapi juga agama dan kualitas keluarga tersebut.
عن جابر ان النبي صلى الله عليه وسلم قال انّ المرأة تنكح لدينها ومالها وجمالها فعليك بذات الدين رواه مسلم والترمذى
Dari Jabir, “sesungguhnya Nabi Saw. Bersabda, ‘Sesungguhnya perempuan itu dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya; maka pilihlah yang beragama’.” (Riwayat Muslim dan Tirmizi) 
Pernikahan adalah sebuah sunnah Ilahi yang tidak mengalami perubahan. Dalam al-Quran, perkawinan tidak hanya diperuntukkan untuk manusia, tapi juga bagi seluruh makhluk hidup. Allah Swt berfirman: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan.” (QS: Adz-Dzaariyat).
 Allamah Thabathabai dalam tafsir al-Mizan menuturkan, “Perkawinan merupakan bagian alamiah dari manusia dan juga seluruh binatang. Tradisi sosial ini terdapat di tengah seluruh bangsa dan akan selalu ada. Hal ini bukti atas dimensi fitrah perkawinan dan mengingat Islam sebagai agama fitrah, maka agama ini memberikan sakralitas kepada pernikahan.”
 Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci untuk mencapai kebahagiaan dan melestarikan generasi manusia. Islam memberikan perhatian khusus kepada masalah ini dan menjadikannya sesuatu yang sakral. Sakralitas pernikahan tertuang dalam berbagai riwayat dan bermacam ungkapan antara lain:
1.      Pernikahan adalah sunnah Rasul Saw. “Nikah adalah sunnahku dan barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”
2.      Keluarga merupakan landasan dan asas yang paling dicintai dalam Islam. Imam Ali Ridha as berkata: “Dalam Islam tidak dibangun sebuah landasan yang paling dicintai oleh Allah Swt selain pernikahan.”
3.      Pernikahan akan menjaga agama seseorang. Imam Jakfar Shadiq as berkata: “Barangsiapa yang sudah melakukan pernikahan, maka ia telah menjaga setengah agamanya dan jagalah setengahnya lagi dengan ketaqwaan.”
4.      Ada banyak keutamaan yang didapatkan oleh orang yang sudah menikah. Imam Jakfar Shadiq berkata: “Dua rakaat shalat yang didirikan oleh orang yang sudah menikah lebih utama dari 70 rakaat shalat orang yang belum berkeluarga.”
Selain riwayat yang mendorong seseorang untuk melakukan pernikahan dan membentuk rumah tangga, Islam juga menyinggung beberapa filosofi pernikahan yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
a.      Pernikahan, kunci ketenangan dan kedamaian
Dalam al-Quran surat Al-A’raf ayat 189, Allah Swt berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya agar dia merasa tenang.” Ayat ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari diri yang satu dan pernikahan sebagai kunci ketenangan. Dalam surat Ar-Ruum ayat 21, Allah Swt berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadnya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
 Pernikahan akan menghadirkan ketenangan, karena laki-laki dan perempuan adalah pelengkap dan pemberi rasa bahagia satu sama lain. Ia tidak akan sempurna tanpa kehadiran pasangannya dan setiap yang kekurangan akan terdorong untuk mencari kesempurnaan. Begitu juga setiap yang membutuhkan akan memiliki kecenderungan alamiah untuk memenuhinya. Oleh karena itu, wajar jika ada daya tarik yang kuat dan alamiah antara seseorang dengan pelengkapnya dan ia akan merasa damai jika sudah meraihnya.
 Dalam pernikahan, manusia akan memperoleh ketenangan dan kedamaian jasmani dan ruhani serta ketenangan dan kedamaian individual dan sosial. Sementara stabilitas kehidupan seseorang akan terganggu dengan meninggalkan pernikahan dan tidak tersalurkannya kebutuhan biologis. Orang yang belum membentuk rumah tangga juga kurang begitu peduli dengan tanggung jawab sosial dan sering terlibat dalam tindakan kriminal. Namun, mereka yang sudah berumah tangga akan merasa lebih bertanggung jawab dan lebih percaya diri, seolah-olah mereka menemukan jati diri baru.
 Setelah menyinggung masalah ketenangan, al-Quran memaparkan prinsip mawaddah dan rahmah. Pada dasarnya, unsur ini adalah perekat dan penyatu masyarakat. Mawaddah dan rahmah antara suami-istri akan menciptakan nuansa kedamaian dan ketenangan.
 Ayatullah Syahid Murthadha Mutahhari mengatakan, “Tidak mengherankan jika sebagian orang tidak bisa membedakan antara syahwat dan kasih sayang. Mereka mengira bahwa hal yang merekatkan suami-istri hanya terbatas pada hawa nafsu dan syahwat. Mereka tidak mengetahui bahwa ada kecenderungan-kecenderungan lain dalam diri manusia selain sifat egoisme[1] dan oportunis[2], yang justru menjadi sumber pengorbanan dan manifestasi kemanusiaan. Hal ini dalam al-Quran dinamakan mawaddah dan rahmah.”
QS Ar Rum ayat 21
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
Pada intinya, sumber ketertarikan suami-istri dan ketenangan suami di bawah pancaran kasih sayang istri adalah mawaddah dan rahmah yang diberikan Allah Swt kepada keduanya. Tentu saja mawaddah dan rahmah ini terpisah dari hawa nafsu yang juga dimiliki oleh binatang.
b.      Menjaga kemuliaan dan kewibawaan manusia
Masalah penting dalam budaya Islam adalah menjaga kemuliaan dan kewibawaan manusia. Islam melarang segala sesuatu yang akan menjatuhkan harga diri dan kemuliaan seseorang. Dan sebaliknya, mengajurkan sesuatu yang menyebabkan terjaganya kemuliaan manusia. Dalam surat al-Baqarah ayat 187, Allah Swt berfirman: “Istri-istrimu adalah pakaian bagimu dan engkau juga pakaian bagi mereka.” Suami-istri ibarat pakaian satu sama lain dan akan menutupinya dari segala hal yang menjatuhkan kehormatan dan harga diri. Mereka saling menjaga diri agar tidak terseret ke dalam lembah dosa.
 Suami-istri harus saling menjaga rahasia dan menjadi hiasan bagi sesama. Pakaian selain berfungsi sebagai hiasan, juga penutup rahasia keluarga agar aman dari akses orang asing. Mereka juga dianjurkan untuk berupaya menyelesaikan problema-problema rumah tangga secara tertutup, karena al-Quran menilai hubungan rumah dan keluarga sebagai perjanjian yang kuat dan tidak boleh menodainya dengan berbagai alasan. “Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS: An-Nisaa:21).
c.       Pintu menuju keberkahan
Pada dasarnya, kebanyakan laki-laki dan perempuan menghindari menerima tanggung jawab pernikahan dengan bermacam alasan seperti, kemiskinan dan ketidakmampuan finansial. Namun, al-Quran secara jelas mengingatkan bahwa pintu menuju rezeki dan berkah adalah pernikahan. Dalam surat An-Nuur ayat 32, Allah Swt berfirman:
 “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang saleh dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut tidak hanya mengajak kedua orang tua untuk mempersiapkan mukaddimah pernikahan putra-putrinya, tapi juga menyeru siapa saja yang mampu untuk saling membantu. Jika ada kekhawatiran terkait masalah ekonomi, Allah Swt akan menganugerahkan karunia-Nya kepada mereka. Orang-orang yang masih sendiri kurang merasa bertanggung jawab dan tidak memanfaatkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh pendapatan halal. Akan tetapi setelah berumah tangga, mereka akan menjadi seorang pribadi sosial dan merasa bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya. Mereka akan memanfaatkan seluruh kapasitasnya dan mengambil inisiatif untuk mengatasi berbagai problema hidup.
 Imam Jakfar Shadiq as berkata: “Barangsiapa yang meninggalkan perkawinan karena takut miskin, maka ia telah berburuk sangka kepada Allah Swt.” Dalam riwayat lain, Imam Shadiq as berkata: “Rezeki ada bersama istri dan anak-anak.” Selain bantuan materi, pertolongan ghaib Tuhan juga akan membantu orang-orang yang menikah demi menjaga kemuliaan dan kesuciannya.
d.      Kelanjutan dan kelestarian misi risalah
Keluarga merupakan tempat pembinaan dan kaderisasi yang efektif, efisien dan telah terbukti keberhasilannya. Sebagaimana telah kita lihat buktinya sepanjang sejarah perjuangan para pengemban risalah. Dari sebuah keluarga yang istiqomah akan lahir kader yang istiqomah pula. Sebagaimana Ismail a.s, Ishaq a.s, Yaqub a.s, Dawud a.s, dll.
Sehingga membangun sebuah keluarga yang islami sesuai tuntunan sunnah Rosulullah Saw berarti telah membangun sebagian dari pilar-pilar negara islam.
e.       Kesehatan mental dan keterjagaan dari dosa
Kebutuhan biologis merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan pada estetika, kasih sayang dan cinta. Naluri kebinatangan akan membawa manfaat bagi manusia selama disalurkan secara benar, proposional, dan legal, namun akan tergolong sejenis penyakit jika bersikap berlebihan. Kini, para ilmuan menemukan berbagai jenis penyakit akibat menuruti keinginan hawa nafsu dan menyalurkannya dengan cara-cara yang tidak benar.
 Islam mengadopsi dua cara untuk menjaga kesehatan mental seseorang. Jalan pertama adalah pernikahan. Sementara cara kedua adalah menerapkan batasan-batasan tertentu untuk mencegah pergaulan bebas, yang dapat meruntuhkan nilai-nilai dan menghancurkan sebuah bangsa.


[1] Mementingkan diri sendiri
[2] Faham yang semata-mata mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesemptan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar