Selasa, 15 November 2016

Makalah Metode Memahami Islam



BAB 1
METODE MEMAHAMI ISLAM

Sebuah metodologi sama pentingnya dengan konten, bahkan bisa lebih dari itu. Yunani kuno banyak melahirkan filosof besar, tapi dunia tertidur. Dua orang Bacon, penemu metode ilmiah, mampu menggerakkan dunia dan lahirnya renaisans di Eropah, padahal kecerdasan mereka jauh di bawah filosof Yunani.
Hal yang sama berlaku bagi “Islam”. Bagaimana cara orang memahami agama ini sangat tergantung dari bagaimana caranya memandang. Munculnya berbagai merek tentang Islam menunjukkan adanya beragam metodologi dalam memandang Islam. Yang tidak kurang pentingnya adalah metodologi pemahaman Islam bagi mahasiswa umum, yang tentu berbeda dengan mahasiswa IAIN. Metode-metode: kajian isi/dimensi Islam, Al-Qur’an, sejarah Islam, fenomena alam, tipologi, dan pengamalan Islam merupakan beberapa metode yang relatif mudah digunakan oleh mahasiswa umum.


A. Pentingnya Metode Memahami Islam
Sejak sekitar 2400 tahun yang lalu, Eropa (Yunani) banyak melahirkan filosof besar. Tetapi, selama lebih dari seribu tahun, mereka tertidur nyenyak. Mukti Ali menyitir pandangan Ali Syari'ati yang mengungkapkan, bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandegan dan stagnasi dalam berbagai ke­hidupan di Eropa adalah metode pemikiran analogi dari Aristoteles (384-322 SM). Kemudian, di abad pertengahan, sistem kehidupannya bergeser: dari sistem yang feodal kepada sistem yang borjuis, karena terdorong oleh jebolnya tembok pemisah antara Islam Timur dan Kris­ten Barat. Kemudian, dua orang Bacon menemukan dan mengembang­kan metode ilmiah, yang sangat berbeda dengan Aristotdes dalam cara melihat objek; maka berubahlah sains, masyarakat, dan dunia. Akibat­nya, berubah pula kehidupan manusia. Akhirnya, Eropa mengalami Renaisans. Oleh karena itu, perubahan metodologi merupakan faktor fundamental dalam Renaisans. [1]
Bagaimanakah cara orang-orang Islam dalam memahami agamanya? Metode apa yang mereka gunakan?
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita saksikan adanya orang yang gigih berjuang mendakwahkan hal-hal yang tampak sederhana. Mereka memperjuangkan jenggot tebal, celana panjang yang ngatung (bahasa Sunda: berada di atas mata kaki: setengah sampai satu jengkal darinya), jubah, serban, siwak, celak mata, cara-cara duduk, cara berjalan, jilbab, dan cadar. Mereka katakan: Inilah Islam. Lainnya ber­sikeras mendakwahkan teknik ibadah ritual, sambil serta merta me­nyalahkan teknik ibadah ritual yang lain. Ada pula yang secara ekstrim menampilkan sisi damai, sehingga  koruptor dan preman pun merasa tentram berzikir, tanpa meninggalkan korupsi dan premanismenya. Lebih fatal lagi, mereka menyandarkan metodologi demikian kepada tokoh-tokoh yang sebenarnya tidak memahami Islam secara utuh­ dan bulat.
Lantas, jika demikian, di manakah letak kesalahan berpikir mereka? Jawabnya adalah dalam metodologinya. Oleh karena itu, ketepatan suatu metodologi sangat penting dalam memahami Islam, agar penge­tahuan Islam yang benar dapat diraih. Akan tetapi, bagaimanakah caranya?
Tujuan syari’ah (maqashid al-syar'iyah) adalah mutlak harus menjadi sandaran utama metodologi pemahaman Islam. Agama Islam didatangkan dengan lima tujuan utama, yaitu: (1) menjaga agama, (2) menjaga jiwa, (3) menjaga akal, (4) menjaga harta, dan (5) menjaga kehormatan.
Mengapa Al-Quran menetapkan qishash dalam pembunuhan, karena untuk menjaga jiwa. Dengan demikian segala tindakan prepentif untuk menjaga jiwa (keamanan, pengobatan, dll) merupakan anjuran agama. Mengapa khamar diharamkan, karena merusak akal. Demikian juga segala jenis makanan dan minuman atau apa pun nama dan caranya yang merusak akal (seperti narkoba dan sejenisnya) diharamkan. Sebaliknya, segala upaya yang memperkuat akal (seperti: giat belajar, berpikir, memberi bea siswa bagi pelajar potensial, dll) sangat dianjurkan oleh agama. Mengapa riba, pencurian, dan penipuan diharamkan, karena merusak harta. Karena itu segala upaya yang merusak harta - seperti korupsi, pemerasan, dan segala transaksi bisnis yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya - diharamkan. Sebaliknya, segala upaya peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan sangat dianjurkan. Mengapa zina diharamkan, karena merusak kehormatan; dan mengapa menikah dianjurkan, karena menjaga kehormatan. Mengapa ulama (yang benar) menduduki posisi tinggi di hadapan Allah Swt, karena mereka sebagai pewaris Nabi yang bertugas menjaga dan menegakkan agama; dan mengapa ulama yang mudah dibeli (menjual murahan ayat-ayat Allah) tercela dan dikategorikan sebagai al-Ulama al-Su (ulama yang buruk), karena mereka merusak agama. Demikian juga sikap inklusif terhadap mazhab, pemikiran dan keyakinan yang berbeda (tentunya yang dapat dipertanggung-jawabkan) termasuk dalam kategori menjaga agama.
Ulama dan Cendekiawan Muslim banyak yang mengajukan meto­dologi pemahaman Islam. Apa pun modelnya, mereka mengembangkan metodologi atas dasar pemahaman mereka tentang Islam, disertai dengan upaya meng­unggulkan Islam di atas agama-agama lain. Sebagian Ulama dan Cendekiawan Muslim lainnya berusaha pula menerapkan Islam dalam ke­hidupan individual dan sosial. Sebagian ulama mengembangkan metode pemahaman Islam atas dasar isi atau dimensi ajaran Islam.

B. Metode Kajian Isi/Dimensi Islam
Di Indonesia dikenal luas bahwa ajaran Islam ter­diri atas tiga hal, yaitu: 'aqidah [2], syari'ah [3], dan akhlaq.[4]  Pendekatannya sering kali doktriner.[5]
Adapun Syaltut membaginya ke dalam dua bagian besar, yaitu 'aqidah dan syari'ah. Bagi Syaltut, akhlak tidak merupakan satu dimensi khusus melainkan merupakan bagian dari dimensi syari'ah. Pendekatannya, bersifat filosofis-doktriner. Kedua dimensi ajaran Islam, 'aqidah dan syari'ah, diungkapkan oleh Syaltut sebagai berikut:
Nabi Muhammad menerima dari Allah suatu pokok (sumber) yang cukup lengkap bagi Islam berhubungan dengan 'aqidah dan syari'ah, yaitu Al-Quran Al-Karim (Quran Yang Mulia). Menurut ketetapan Allah dan kepercayaan kaum Muslimin, Al-Quran merupakan sumber pertama untuk mengetahui ajaran-ajaran pokok dan dasar dari agama Islam; dan dari Al-Quran dapat diketahui, bahwa Islam mempunyai dua cabang yang pokok. Hakikat Islam tidak akan diperoleh dan pengertian yang benar tidak akan dimiliki kecuali apabila kedua cabang itu benar-benar ada dan nyata serta bersemi dalam pikiran, hati, dan jiwa.[6]

Ilmu Agama apa saja yang perlu dipelajari oleh seorang orang Islam? Imam Ghazali menyebutkannya dalam uraian tentang ilmu yang fardhu ‘ain. Termasuk ke dalam ilmu ini adalah pengetahuan tentang: Tauhid yang benar, Zat dan Sifat-sifat Allah, cara beribadah yang benar, halal-haram, termasuk halal-haram dalam bermu’amalah. Selain itu, ilmu yang masuk ke dalam fardhu ‘ain adalah pengetahuan tentang: hal ihwal hati, perbuatan-perbuatan terpuji (sabar, syukur, dermawan, berbudi baik, bergaul dengan baik, benar dalam segala hal, dan ikhlas), serta menjauhi perbuatan-perbuatan tercela (mendengki, iri, menipu, sombong, pamer, pemarah, pembenci, dan kikir). [7]
Fazlur Rahman menampilkan Islam sebagai ajaran yang mendunia. Ia menekankan pentingnya pemahaman atas tiga pokok ajaran Islam, yaitu: mengimani ke-Esa-an Allah, membentuk masyarakat yang adil, dan mengimani hidup sesudah mati. Ditandaskannya bahwa Islam yang benar hanya dapat dipahami melalui pengkajian konteks Sejarah Islam, yaitu dalam situasi dan suasana apa ayat Al-Quran itu diturunkan. Kajian asbab al-nuzul (sebab-sebab dan latar belakang turunnya Al-Quran) digunakan Rahman dengan sangat hati-hati.[8]
Ali Syari'ati juga menampilkan Islam ke tengah-tengah dunia. Menurutnya, Islam adalah sebuah mazhab pemikiran yang menjamin kehidupan manusia, baik individu maupun kelompok, dan misinya adalah membimbing masa depan umat manusia. Ia berpendapat bahwa Islam adalah agama yang universal, humanistik, inovatif, kreatif, dan memberikan bimbingan Ilahiah bagi Muslim dan umat manusia. Ia menegaskan bahwa misi Islam adalah untuk perubahan dan revolusi, serta menerangi penindasan dan ke­tidakadilan. Islam menuntut tanggung jawab penuh, baik dalam teori maupun praktik, dan memberikan model masyarakat serta model pribadinya (Nabi Muhammad saw).[9]
Islam dilukiskan oleh Syari'ati dalam perspektif sejarah sebagai berikut:
Islam bukannya sebuah agama baru, tetapi merupahan bagian integral dari kelanjutan agama-agama besar yang telah di­turunkan secara berkelindan dari seluruh kesejarahan umat. Ber­bagai rasul telah diutus dalam momen yang berbeda untuk me­negakkan agama yang universal sesuai dengan situasi dan kebutuh­an zamannya. Islam. . . erat hubungannya dengan gerakan-gerakan lain, yang dihadirkan untuk menegakkan emansipasi dan meng­ubah pola hidup manusia menjadi lebih sempurna, di sepanjang sejarah.[10] 

Syari'ati yakin bahwa analisis mengenai pendekatan dan metode pemahaman Islam adalah sangat penting. Mengapa demikian? Sebab, analisis ini dapat mengembangkan pemikiran yang benar, yang justru merupakan syarat bagi diperolehnya pengetahuan yang benar; dan bahwa pengetahuan yang benar dapat membimbing iman yang benar. Pendekatan dan metode ini sangat penting karena pemahaman orang (muslim umumnya, dan non-muslim khususnya) tentang Islam kurang memadai.
Dalam kaitannya dengan pemahaman Islam, Syari'ati mengajukan sebuah pertanyaan penting yang amat mendasar: metode apakah yang paling tepat untuk memahami Islam? Pertanyaan ini dijawabnya sendiri secara terinci.
Menurutnya, dalam mencoba mengetahui metode yang tepat itu, kita tidak boleh terperosok ke dalam perangkap penjiplakan metode Barat apa pun, baik metode naturalistik, psikologis, maupun sosiologis.[11] Mengapa demikian? Sebab, peminjaman metode Barat, baik sepenuh­nya maupun dengan beberapa penyesuaian, akan menyimpangkan kenyataan teoretis maupun empiris. Ia menegaskan, bahwa untuk menemukan metode yang tepat dalam memahami Islam, kita harus inovatif dalam menciptakan metode baru, yang mungkin mengandung beberapa unsur dari metode Barat. Pemasukan sebagian dari metode Barat ini perlu, karena ada beberapa pendekatan baru yang telah di­temukan dunia Barat dalam bidang penelitian agama dan perannya dalam masyarakat. Ia menyatakan dengan tegas, bahwa mungkin tidak ada metode yang unik untuk memahami Islam secara komprehensif, karena Islam adalah agama yang multidimensional. Oleh karena itu, penerapan metode plural (berbagai metode) dipandang sebagai lebih realistis. Selanjutnya Syari'ati berkata:
Islam bukanlah agama yang hanya mendasarkan diri pada intuisi mistik manusia dan hanya terbatas pada hubungan antara manusia dan Tuhan semata.[12] Ini hanyalah satu di antara dimensi­-dimensi Islam. Untuk mengkaji dimensi ini metode filosofis harus dipakai, sebab hubungan manusia dengan Tuhan dibicarakan dalam filsafat; dalam arti metafisika yang bersifat umum dan tidak ketat. Kemudian, dimensi yang lain, menyangkut hidup manusia di muka bumi. Untuk kajian ini, kita harus mampu menggunakan metode-metode yang telah mantap di tengah perkembangan ilmu dewasa ini.[13]  

C. Metode Kajian Al-Quran dan Sejarah Islam
   Syari'ati menegaskan bahwa ada dua metode fundamental untuk memahami Islam secara benar. Pertama, pengkajian "Al-Quran", yaitu pengkajian intisari gagasan-gagasan dan output ilmu dari orang yang dikenal sebagai Islam; kedua, pengkajian "Sejarah Islam", yaitu pengkaji­an tentang perkembangan Islam sejak masa Rasul menyampaikan misi­nya hingga masa sekarang.
Dalam menjelaskan kedua metode tersebut, Syari'ati menganalogi­kan "Islam" dengan "kepribadian" seseorang. Agama, dalam konteks metodologi, adalah seperti seorang manusia. Untuk memper­oleh pengetahuan yang benar tentang kepribadian orang besar, seorang peneliti haruslah menempuh dua jalan: Pertama, menyelidiki karya-karya intelektualnya, pengetahuannya, dan karya-karya tertulis­nya; dan kedua, mengkaji secara ekstensif biografinya, ter­masuk di dalamnya segala aktivitasnya (yang besar dan yang kecil) di sepanjang kehidupannya. Demikian pula, kebenaran dalam memahami Islam dapat dicapai dengan mengkaji sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan perkembangan sejarahnya. Syari'ati lebih lanjut me­nandaskan:
Pemahaman dan pengetahuan tentang "Al-Quran" sebagai sumber dari segala ide-ide Islam, dan pengetahuan serta pemaham­an "sejarah Islam" sebagai sumber segala peristiwa yang pernah ter­jadi dalam masa yang berbeda adalah dua metode fundamental untuk mencapai suatu pengetahuan tentang Islam yang benar dan ilmiah. [14]

Syari'ati menyadari bahwa tingkat pengetahuan dan pemahaman terhadap kedua metode itu, Al-Quran dan Sejarah Islam, di kalangan orang Muslim pada umumnya sangat rendah. Implikasi dari yang di­katakannya itu adalah bahwa untuk memahami Islam secara tepat kedua sumber asli tersebut harus dikaji secara komprehensif. Mukti Ali menyebutkan bahwa kedua metode yang diajukan Syari'ati adalah fundamental untuk memahami Islam secara tepat. Tentang kedua metode tersebut Mukti Ali mengungkapkan:
Inilah kedua metode yang harus kita gunakan untuk mem­pelajari Islam. Tetapi sayang sekali bahwa studi Al-Quran dan studi Sejarah Islam adalah sangat lemah di negeri kita, juga di dunia Islam. Kenyataannya, kedua studi itu hanya berada di pinggiran saja dari kelompok studi Islam.[15]

Mukti Ali mengungkapkan rasa kegembiraannya sehubungan dengan munculnya pemikir-pemikir Muslim yang banyak menaruh per­hatian terhadap studi Al-Quran dan studi analisis tentang Sejarah Islam. Kebangkitan rakyat Afrika Utara (Marokko, Aljazair dan Tunisia), seperti disebutkan Farhat Abas, adalah setelah digunakannya metode itu.[16]
       Mas Mansur mengajarkan Islam dengan memberikan Tafsir Al-Quran dan implemen­tasinya terhadap berbagai aspek kehidupan. Metode Mansur, menurut Mukti Ali, membuat mahasiswa dapat memahami Islam secara utuh.[17]
Mukti Ali menungkapkan bahwa bila umat Islam Indo­nesia mau menjadikan lembaga-lembaga pendidikan (madrasah dan perguruan tingginya; pondok pesantren dan masjidnya) sebagai pusat kegiatan, untuk memberikan pelajaran Al-Quran dan sejarah Islam, maka umat Islam akan dapat meletakkan dasar yang paling kukuh untuk ekspansi dan pengembangan pemikiran Islam.
Selain dari itu, dengan pengertian yang utuh terhadap Islam, kita mungkin akan dapat memahami masyarakat secara utuh pula. Ini ber­arti meluaskan jalan ke arah pengukuhan ummat al-wahidah, ummat al-tauhid.

Metode Kajian Teks secara Integral
Al-Quran memiliki sistimatika yang sangat berbeda dengan sistimatika penulisan buku yang pernah dikembangkan oleh manusia. Dalam Al-Quran ada nama surat tapi bukan bab, tema atau judul. Ada ayat dengan nomor berurutan tapi bukan representasi pengurutan kalimata, alinea atau ide. Banyak dibicarakan tentang shalat, zakat, puasa dan lain sebagainya, tapi tidak ditemukan bab shalat, zakat dan puasa  dengan bab seperti yang dikembangkan oleh manusia. Cerita nabi Musa tercecer dalam puluhan tempat dan belasan surat, tapi cerita Nabi Yusup lengkap dan menghabiskan satu surat. Ini sistimatika yang aneh dan unik. Almawdudi memandang kenyataan tersebut sebagai bagian dari kemu'jizatan Al-Quran.
Al-Quran diturunkan berangsur-angsur selama 23 tahun. Selama itu Al-Quran diturunkan sesuai dengan kebutuhan dan permasalah yang berkembang. Tak jarang ayat Al-Quran turun merupakan respon terhadap pertanyaan atau kejadian yang muncul pada saat itu. Dengan demikian penafsirannya di saat itu tidak akan mengalami kesulitan, sebab sudah banyak terarahkan oleh kondisi yang menyertai atau melatarbelakanginya. Kalaupun ada kesulitan, para sahabat dapat dengan mudah bertanya kepada Rasulullah saw.
Kenyataan-kenyataan yang berkaitan dengan Al-Quran tersebut memastikan bahwa pengkajiannya harus dilaksanakan secara integral, tidak parsial, yakni integral dengan ayat lain atau sunnah yang berkaitan dan atau menjadi pelengkap keutuhan maksudnya. Kaitan tersebut dapat berupa: (1) sebab, kondisi atau peristiwa yang menyertai atau mela-tarbelakanginya, (2) syarat, ketentuan atau kondisi yang menjadi persyaratan atas adanya suatu ketetapan, (3) penghalang,  hal-hal yang membatalkan atau membelokkan suatu ketetapan, (4) penjabaran, hal-hal yang merupakan rincian atau penjelasan dari penyataan yang masih bersifak global, (5) pengecuali, sesutu yang dikeluarkan atau dikecualikan dari ketetapan lain yang telah ada, (6) pembatasan, hal-hal membatasi kemutlakan ketetapan lain yang telah ada, (7) penambahan, hal-hal yang merupakan tambahan atau penyempurnaan atas ketetapan terdahulu,  dan lain sebagainya.
Pengkajian Al-Quran tidak boleh dilakukan secara parsial, sepotong-sepotong, yakni dipotong dari kelengkapan kalimat ayatnya, atau dari keutuhan maksudnya yang terdapat pada ayat atau hadis lain. Jika suatu ayat atau hadis yang memiliki kaitan langsung dengan ayat atau hadis lain tergesa-gesa disimpulkan sebelum diintegrasikan, maka bisa jadi kesimpulan itu berbeda atau bahkan bertentangan dengan maksud yang sesungguhnya.

Metode Kajian Sejarah Islam
Pada dasarnya ajaran Islam itu bersifat normatif. Tatkala akan diterapkan dalam kehidupan nyata tak jarang mendapat kedala. Tidak semua aturan normatif itu dapat diaktualisasikan dan dioperasionalkan secara praktis. Sebelum sampai pada tataran praktis kadang perlu proses pengkajian yang ditopang oleh berbagai aspek kehidupan (sosial, politik, budaya dan lain sebagainya) di saat ajaran tersebut muncul, berkembang dan manifes dalam kehidupan nyata. Inilah yang dimaksud dengan kajian sejarah di sini.
Kajian sejarah ini melangkapi kajian teks agar pemahamannya tidak  lepas dari konteksnya. Kajian sejarah yang diarahkan untuk meng-ungkap kontekstual  ini menjadi sangat penting terutama tatkala ditemukan teks yang muncul dilatarbelakangi suatu peristiwa atau kondisi tententu. Suatu teks atau ketetapan yang dilatarabelakangi oleh kon-disi atau peristiwa memiliki nilai/aspek fenomenal dan aspek/nilai esensial.  Masalah jilbab umpamanya. Konsep jilbab kita temukan langsung dalam Al-Quran, tapi konsep ini pun telah ada sebelum Al-Quran turun, yakni mode pakaian wanita Arab yang dapat menutup seluruh tubuh dari kepala sampai kaki dan digunakan sebagai pakaian rangkap luar. Setelah diangkat Al-Quran mau tidak mau jilbab menjadi konsep busana muslimah. Karena itu memiliki aspek/nilai fenomenal, yaitu mode pakaian wanita Arab dahulu, dan aspek/nilai esensial atau ajaran, yakni satrul aurat (menutup aurat), muhafadhah 'ala al-jinsiyah  (memperhatikan jenis kelamin), dan muhafdhah 'ala al-bi'ah (memperhatikan budaya lingkungan). Apakah mengikuti Islam itu berarti mengikuti ajaran Islam plus budaya Arabnya? Atau mengikuti ajarannya saja?

Metode Kajian Fenomena Alam
Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang langsung mengangkat fenomena alam yang sulit bahkan tidak mungkin dipahami jika tidak dibantu dengan kajian kealaman.  Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa kata alam  berasal dari kata 'alamah yang berarti "tanda";  sedangkan bagian-bagian terkecil dari susunan Al-Quran disebut ayat  yang juga berarti "tanda". Karena itu Al-Quran dan alam sesungguhnya kedua-duanya adalah ayat Allah. Kedua-duanya menunjukkan dan membuktikan kebesaran dan keagungan Allah. Kedua-duanya saling mengukuhkan. Artinya bahwa pemahaman Al-Quran  memerlukan informasi dari alam, dan pemahaman terhadap alam memerlukan bimbingan dari Al-Quran. Jika Al-Quran dipahami dengan lurus dan alam dikaji dengan obyektif, maka hasilnya akan bertemu pada satu titik (kebenaran) yang satu. Tidak akan terjadi pertentangan antara Al-Quran dengan ilmu dari alam, sebab kedua-duanya merupakan ayat Allah, berasal dari Allah dan berjalan kembali kepada-Nya.
Bagaimana kita memahami ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah? Bagaimana kita memahami ayat yang menyatakan bahwa langit dan bumi itu asalnya padu, kemudian keduanya kami pecahkan? Bagaimana kita memahami ayat yang menyatakan bahwa menurut pandangan manusia gunung itu diam padahal bergerak seperti awan? Dan lain-lain.
Menurut Mukti Ali, kewajiban intelektual Muslim dewasa ini adalah meyakini bahwa Islam adalah agama yang memberi­kan petunjuk bagi manusia, baik bagi individu maupun masyarakat; dan bahwa Islam menjanjikan jalan yang lurus bagi kehidupan manu­sia sekarang dan masa yang akan datang. Manusia harus menganggap kewajiban ini sebagai tugas individual. Lapangan apa saja yang ditekuni, ilmu apa saja yang didalami, perlu menampilkan Islam sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sebab, Islam merupakan agama yang multi dimensi dan mempunyai berbagai aspek, sehingga setiap orang yang ber­usaha mempelajari Islam akan memperoleh pandangan dan petunjuk yang baru dari bidang studinya. Para ahli Ilmu Alam, Matematika, dan Kedokteran, umpamanya, hendaknya mencoba merenungkan apa arti­nya bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari; apa artinya bahwa manusia dijadikan dari 'alaq (segumpal darah) yang pada akhir-akhir ini mulai dikritik orang. Para ahli geografi dan arkeologi, hendaknya mencoba membahas apa yang belum lama ini di­siarkan bahwa bangkai kapal Nabi Nuh terdapat di Gunung Ararat. Alangkah menakjubkan kisah Ashabul Kahfi yang dapat hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Di mana kira-kira tempat gua itu dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang menakjubkan itu. Para ahli sosiologi, sejarah dan politik, hendaknya pula mencoba membahas bagai­mana Nabi Yusuf yang dulunya budak dapat menjadi penguasa di Mesir. Mengapa Nabi Musa dalam melaksanakan tugasnya harus dibantu oleh Nabi Harun. Selanjutnya, para ahli sastra dan bahasa sudah barang tentu akan meneliti tantangan Al-Quran bahwa tidak ada seorang pun yang hila membikin ungkapan-ungkapan seperti Al-Quran sekalipun hanya sepotong kata. Tentu para ahli psikologi akan mencoba mengungkap suasana psikologis Abu Bakar yang ketakutan tatkala sedang bersama Nabi di Gua Tsur dalam perjalanan hijrahnya, tatkala dikejar-kejar oleh kafir Quraisy, yang kemudian Nabi saw. menenteramkannya dengan mengatakan: “Jangan takut dan jangan susah, Allah bersama kita.
K.H. Muslim Nurdin (Ulama, dosen Agama Islam UPI) ketika memberikan kuliah sering bertanya kepada mahasiswa: mengapa sehari-semalam ada 24 jam, dan berapa kilo meter lingkaran bumi? Kemudian dijawabnya sendiri (karena umumnya mahasiswa tidak bisa menjawab dengan tepat) yang membuat kagum mahasiswa terhadap Al-Quran dan Islam. Menurut Kyai Muslim, keliling bumi adalah 40.000 km, sedangkan sehari-semalam adalah 24 jam. Artinya, bumi ini berputar sangat cepat, yakni 1.666,67 km per-jam (40.000 km dibagi 24 jam). Tapi, kenapa kita tidak pusing dan tidak merasakan adanya putaran? Di sinilah Allah membuat keseimbangan. Yang lebih membuat ta'jub mahasiswa ketika Kyai mengilustrasikan, bagaimanakan jika putara bumi dikurangi agar tidak terlalu cepat, misalnya 800 km per-jam. Ini artinya sehari-semalam menjadi 48 jam. Tapi, apa yang akan terjadi? Siang hari menjadi 24 jam, begitu juga malam hari 24 jam. Karena siang hari terlalu lama, maka matahari akan menyedot semua air di bumi; akibatnya permukaan bumi menjadi kering kerontang. Malam hari pun terlalu lama, sehingga akan menjadi sangat dingin. Bagaimana mungkin manusia bisa hidup di bumi ?! Inilah hikmah Allah menggilirkan siang dan malam selama 24 jam, sangat cocok untuk kehidupan manusia dan makhluk bumi lainnya.
Kyai Muslim pun sering bertanya, mengapa bumi agak miring ke utara? Mengapa manusia mampu berbahasa? Yang dijawabnya sendiri secara memuaskan dan mengagumkan para mahasiswa.

D. Metode Tipologi
Metode lain yang dikemukakan oleh Ali Syari'ati adalah "tipologi", sebuah metode yang dipakai secara luas di Eropa untuk menge­tahui dan memahami manusia.
Dalam konteks ini, Syari'ati mengembangkan metode khusus untuk mengkaji agama, yang bahkan dapat dipakai untuk mengkaji semua agama. Metode tersebut memiliki dua ciri penting, yaitu: pertama. mengidentifikasi lima aspek agama; dan kedua, membandingkan kelima aspek tersebut dengan aspek yang sarna dalam agama lain. Kelima aspek atau ciri agama itu adalah:
(1)   Tuhan atau Tuhan-tuhan dari masing-masing agama, yakni yang dijadikan obyek penyembahan oleh para penganutnya.
(2)   Rasul (Nabi) dari masing-masing agama, yaitu orang yang memproklamasikan dirinya sebagai penyampai agama.
(3)   Kitab Suci dari masing-masing agama, yaitu dasar dan sumber hukum yang dinyatakan oleh agama itu.
(4)   Situasi kemunculan Nabi dari tiap-tiap agama dan kelompok manusia yang diserunya, karena pesan tiap Nabi berbeda-beda.
(5)   Individu-individu pilihan yang dilahirkan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah.[18]
       Dalam hal agama Islam, Syari'ati mengoperasionalkan metode tipologi ke dalam lima langkah berikut:
(1) Menjelaskan tipe, konsep, keistimewaan, dan ciri-ciri Allah di dalam Islam dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi, dan ucapan para ulama besar; lalu melangkah ke perbandingan antara Allah dengan figur-figur dalam agama lain yang digambarkan sebagai Tuhan, seperti Ahuramazda, Yahweh, dan Zeus.
(2) Menelaah Kitab Suci. Topik-topik apa yang dibicarakannya dan bagian-bagian apa yang ditekankannya; lalu melangkah ke per­bandingan antara Al-Quran dengan kitab-kitab Suci lain, seperti Injil, Taurat, dan Weda.
(3)  Menelaah kepribadian Nabi dalam dimensi-dimensi kemanu­siaan dan kenabiannya. Kita mengkaji perilaku Nabi, yaitu bagaimana beliau berbicara, bekerja, berpikir, berdiri, duduk, tidur, dan sebagai­nya; kita selidiki pula hakikat dari hubungannya dengan musuh-musuh­nya, sahabat-sahabatnya, dan sanak keluarganya, serta bagaimana lang­kah beliau dalam menghadapi masalah-masalah sosial. Kita harus mem­bandingkan kepribadian Nabi Muhammad saw. dengan nabi-nabi dan para pendiri agama yang lain, seperti Isa, Musa, Budha, dan Zoroaster.
(4)  Memeriksa situasi kedatangan Rasul, apakah ia mempersiap­kan dirinya untuk kelak menjadi Rasul; adakah orang yang menunggu­nunggu kedatangannya; dan siapakah kelompok manusia yang di­dakwahinya; apakah beliau telah mengetahui dan mempersiapkan diri­nya untuk kelak menjadi Rasul; apakah kedatangannya itu ditunggu-­tunggu ataukah tanpa ada orang yang menunggunya; kelompok manu­sia mana yang diserunya, apakah manusia secara umum (al-Nas), raja­-raja dan bangsawan, atau kaum cerdik pandai dan Ahli filsafat; arus pemikiran luar biasa apa yang mengalir ke dalam pikirannya, yang mengubah secara total kepribadian dan cara bicaranya dengan suatu cara yang ketika awalnya amat sulit dilakukan. Kita harus menyelidiki bagaimana Rasul menghadapi masyarakatnya ketika beliau untuk per­tama kali memproklamasikan misinya. Akhirnya, kita harus mem­bandingkan keistimewaan yang menonjol dalam diri Rasulullah Mu­hammad saw. dengan keistimewaan rasul-rasul yang lain, seperti Ibrahim, Musa, Isa, atau dengan para pendiri agama dunia, seperti Budha Gautama.
(5)  Mengkaji kepribadian individu-individu pilihan yang dilahir­kan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah. Kita harus mengkaji dan mencoba memahami prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh indi­vidu-individu pilihan, kepekaannya terhadap nasib rakyat, serta ke­salehan dan kesediaannya berkorban. Lalu kita melangkah ke perban­dingan antara individu-individu pilihan yang dipersembahkan oleh Islam dan agama-agama lain.
Menurut metode tipologi ini, untuk dapat mengetahui lebih luas tentang Islam adalah sebagai berikut: Pertama, kita memahami Allah, terna-tema tentang Keesaan dan Keadilan-Nya. Pendeknya, "tipe" Tuhan yang bagaimanakah Dia itu.
Agar kita dapat mengenal dengan betul ciri-ciri Tuhan, kita harus kembaIi kepada Al-Quran dan hadits Nabi. Termasuk juga keterangan dari para ulama yang telah membahas dengan teliti masalah ini. Lalu kita bandingkan konsepsi tentang Allah dengan Tuhan agama-agama lain, seperti Ahuramazda, Yahweh, Zeus, dan Bal.
Kedua, memahami Islam dengan mempelajari Al-Quran. Orang harus memahami Al-Quran itu kitab apa; soal-soal apa yang dibahas dan tekanannya pada apa. Apakah ia membicarakan kehidupan di duma ini lebih daripada kehidupan di akhirat kelak; apakah ia membahas soal moralitas individual lebih banyak daripada masalah sosial; apakah ia lebih menekankan obyek-obyek material daripada obyek-obyek abstrak; apakah ia lebih memperhatikan alam atau manusia. Pendeknya masaIah-masalah apa saja yang digarap oleh Al-Quran itu dan bagai­mana caranya? Umpamanya, dalam hal membuktikan eksistensi Tuhan, apakah ia mendorong manusia untuk mengembangkan jiwanya supaya dapat mengenal-Nya atau apakah ia memerintahkan manusia untuk mengetahui-Nya dengan perantaraan mempelajari makhluk-Nya, dunia luar dan dunia manusia sendiri; atau kita akan mengikuti kedua jalan Itu. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, selanjut­nya kita bandingkan Al-Quran dengan kitab-kitab Suci agama-agama lain, seperti Injil, Taurat, Zabur, Veda, dan Avesta.
Ketiga, memahami Islam dengan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah. Mengenal secara benar pribadi Nabi Muhammad saw. adalah sangat penting bagi ahli sejarah, karena tidak seorang pun dalam sejarah umat manusia yang mempunyai peranan begitu besar sebagai­mana yang diperankan Nabi Muhammad. Peranan yang dilakukan oleh Nabi Terakhir dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi adalah begitu kukuh dan positif. Manakala kita membicarakan pribadi Nabi, kita bermaksud mempelajari sifat-sifat manusia Nabi dan hubung­annya dengan Tuhan, dengan kekuatan ruhani khusus yang ia peroleh dari hubungan itu. Dengan perkataan lain, yang menjadi perhatian kita adalah aspek-aspek kemanusiaan dan aspek-aspek kenabian dari Nabi Muhammad. Umpamanya yang berhubungan dengan dimensi kemanu­siaan Nabi, kita harus mempelajari cara Nabi berbicara, bekerja, berpikir, tersenyum, duduk, dan tidur. Kita juga harus mempelajari hubungannya dengan orang asing, dengan musuh-musuhnya, dengan kawan-kawannya, dan sanak keluarganya. Kita juga harus meneliti kegagalan dan kemenangan Nabi, dan cara ia menghadapi masalah­-masalah sosial yang besar.
Salah satu jalan yang paling pokok dan fundamental untuk mem­cari esensi, jiwa dan realitas Islam, adalah mempelajari Nabi Mu­hamad dan membandingkannya dengan nabi-nabi pendiri agama lain,seperti Nabi Isa, Nabi Musa, Zoroaster, dan Budha.
Keempat, meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit. Umpamanya, apakah ia bangkit sebagai Nabi tanpa tindakan-tindakan pendahuluan. Apakah ada orang yang mengharap-harap akan bangkitnya seorang Nabi. Apakah ia tahu bagaimana jadinya tugas itu. Atau apakah misinya itu merupakan suatu beban yang mendadak dan berat terhadap jiwanya. Pikiran luar biasa apa yang mengalir pada diri­nya sedemikian rupa sehingga pertama-tama begitu sulit menanggung­nya. Bagaimana ia menghadapi orang banyak di waktu ia untuk per­tama kalinya menyampaikan dakwahnya. Kepada corak masyarakat yang bagaimana ia menaruh perhatian yang khusus, dan corak masya­rakat yang bagaimana yang ia lawan. Semua soal tersebut di atas adalah beberapa contoh yang dapat digunakan sebagai pembantu untuk memahami Nabi Muhammad, dan suasana pada waktu ia pertama kali menyampaikan ajarannya.
Apabila kita membandingkan situasi dan keadaan ketika Nabi di­bangkitkan dengan situasi dan kondisi para nabi atau pembawa agama lain, seperti Isa, Ibrahim, Musa, Zoroaster, Konghucu, dan Budha, barangkali kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: Semua rasul, kecuali rasul-rasul keturunan Nabi Ibrahim, menggabungkan diri dengan kekuatan duniawi yang ada dan bekerja sarna dengannya, dengan harapan untuk dapat menyiarkan agama dan ajaran yang mereka bawa di tengah-tengah masyarakat mereka dengan perantaraan kekuatan yang ada itu. Sebaliknya, para rasul anak keturunan Nabi Ibrahim, yaitu sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad saw. memproklamasikan ajarannya dalam bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap ke­kuatan duniawi yang ada. Sejak dari permulaan misinya, Nabi Ibrahim mulai menghancurkan patung-patung dengan kapaknya; ia gantungkan kapaknya pada berhala yang paling besar supaya ia dapat menerangkan lebih jelas perlawanannya terhadap semua bentuk penyembahan berhala pada waktu itu. Tanda permulaan misi Nabi Musa adalah sewaktu ia menginjak istana Fir'aun di Mesir dalam pakaian gembalanya. Dengan tongkat di tangannya, ia nyatakan perang terhadap Fir'aunisme atas nama Monoteisme. Demikian juga Nabi Isa bin Maryam atau Yesus, mereka berjuang melawan kependetaan Yahudi, karena kependetaan Yahudi bergabung dengan Imperialisme Rumawii. Adapun Rasuluuah saw., sejak dari per­mulaan, misinya dimulai dengan melawan arus aristokrasi, tuan-tuan pemilik budak, pedagang-pedagang Quraisy, dan tuan-tuan tanah pe­milik kebun di Thaif. Di atas puing-puing masyarakat itu ia berusaha menegakkan suasana masyarakat manusia yang didasarkan pada tauhid, keadilan, dan ke­manusiaan.
Hanya dengan jalan membandingkan dua kelompok Nabi Ibrahim dan non-Ibrahim saja kita akan terbantu memahami hakikat, jiwa, dan orientasi macam agama yang dibawa nabi-nabi pembawa agama tersebut di atas.
Kelima, mempelajari dan memahami Islam dengan menjadi orang­-orang terkemuka. Umpamanya, kita pelajari Nabi Harun dalam agama yang dibawa oleh Nabi Musa; St. Paulus dalam agama yang dibawa oleh Yesus; Khadijah dan Ali dalam agama Islam. Mereka adalah contoh-contoh yang menonjol dari tiap-tiap agama tersebut.
Hal ini akan membantu kita dalam memahami agama masing-masing. Mengetahui dengan tepat dan jelas orang-orang itu, menyerupai pe­mahaman kita tentang suatu pabrik dengan produk-produknya. Karena, Agama adalah seperti suatu pabrik yang bekerja untuk memproduksi manusia.
Tentu orang ingat Khadijah, wanita bangsawan yang kaya yang memberikan cinta dan harta bendanya untuk menegakkan risalah Nabi Muhammad ini adalah pelipur lara dan penyentak semangat di kala Nabi bimbang dan was-was, khawatir dan takut dalam menghadapi, me­nerima dan menunggu-nunggu wahyu. Inilah, kata Mukti Ali, contoh wanita utama se­bagai hasil dari bimbingan Nabi. Di saat umat Islam dikucilkan dari kehidupan ekonomi dan sosial, ia pun rela membagi-bagikan hartanya untuk menyelamatkan kelaparan umat. Adapun Ali bin Abi Thalib, masih menurut Mukti Ali, merupakan tauladan sejati dalam sikap wira'i (ahli ibadah), zuhud (cinta akhirat, walau kesempatan meraih dunia ada), keluasan ilmu, pembela orang­orang miskin dan tertindas, prajurit dan perwira pemberani, dan imam yang adil. Orang tentu kagum akan keberaniannya di kala ia mengganti tempat tidur Nabi (menjelang hijrah Nabi ke Madinah) saat Nabi ter­ancam untuk dibunuh oleh prajurit-prajurit pilihan kafir Quraisy. Ketika itulah Ali diminta mengganti posisi Nabi untuk tidur di tempat tidurnya dan memakai selimut yang biasa digunakan oleh beliau. Tindakan ini merupakan tindakan yang berisiko kematian lebih tinggi lagi. Tapi Ali dengan tegak menerima permintaan Nabi itu. Dan se­lanjutnya beliau pun pergi berhijrah dengan membawa serta anggota keluarga Nabi. Itulah Ali, yang tatkala menjadi khalifah, tidak mau berkompromi dengan kelaliman. Demikian ungkap Mukti Ali.
Sementara Ali Syari'ati mengkaji, selain Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali dan Abu Dzar Al-Ghifari sebagai teladan-teladan yang dihasilkan Islam. Prinsip-prinsip Islam yang dipegang teguh kedua tokoh sejarah ini, perlu dikaji. Begitu juga, kepekaannya terhadap nasib rakyat, serta kesalehan dan kesediaannya untuk berkorban demi tujuan Islam.
Syari'ati membandingkan antara Husayn bin Ali dengan Ibnu Sina dan Husain bin Mansur (Al-Hallaj). Menurutnya, Ibnu Sina adalah seorang pemikir, filosof besar, dan seorang jenius, di samping juga seorang tokoh ternama dalam sejarah ilmu dan filsafat dalam peradaban Islam. Sayangnya, Ibnu Sina tidak menunjukkan keprihatinannya terhadap nasib umat dan masyarakatnya. Sementara Al-Hallaj adalah hanya seorang yang terbakar dalam kecintaannya kepada Allah; dia terus menerus membenamkan dirinya dalam zikir yang merupakan sumber keagungan baginya. Tetapi, akibat kegiatan spiritualnya yang berlebihan itu, ia pun hampir tidak punya pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat.

E. Metode Pembelajaran
          Kesempurnaan Islam tidak berhenti pada teks. Kesempurnaan Islam hanya akan dapat dinikmati apabila Islam telah benar-benar menapak pada kenyataan kehidupan sehari-hari. Karena itu pembelajarannya tidak hanya sampai mempertontokan keindahan konsep Islam sebatas wacana, melainkan harus mecakup pembinaan penalaran, perenungan-penghayatan, dan pengamalan.

Metode Penalaran
Islam memiliki paradigma atau cara pandang yang khas tentang berbagai tema dan asepk seluruh kenyataan dan kehidupan. Tak satu sisi pun daripanya yang tidak mencapat sinar dari cahaya paradigma Islam. Pembinaan penalaran ini diarahkan untuk mengembangan wawasan dan cara pandang. Pembinaan tahap ini harus mampu sampai tahap yakin secara nalar/logika. Kekuatan nalat belum cukup untuk membentuk pribadi dan mendorong perilaku, sebab keduanya lebih diarahkan oleh qalbu. Maka selanjutnya memerlukan pengem-bangan perenungan-penghayatan.

Metode Perenungan dan Penghayatan
Behaviorisme telah berhasil mencerdaskan manusia secara mengagumkan. Berangkat dari psikologi yang lebih bersifat empirik dikembangkan teori belajar yang sudah barang pasti bersifat mekanistis. Manusia dalam pandangan teori ini diperlakukan sebagai benda pasif ditengah-tengah gempuran stumulus-respon dari lingkungan; manusia yang telah dilucuti dari hati dan nuraninya. Berdasar asumsi itulah perilaku dan pribadi manusia dikembangkan.
Sesungguhnya perilaku manusia tidak hanya dikendalikan oleh nalarnya. Hati (qalbu) memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk pribadi dan mengarahkan perilaku, jika tidak dikatakan sebagai faktor paling dominan. Stimulus tentu saja memberikan rangsangan, tapi sebelum muncul tindakan sebagai respon tentu saja melalui proses pertimbangan dan pemutusan. Hati inilah yang perlu banyak diisi supaya respon-respon atas stimulus yang datang itu benar-benar muncul daripadanya. Bila hati tidak diisi dengan yang sepantasnya hadir di dalamnya, pasti diisi dengan yang lain.
Oleh karena itu proses pembelajaran harus mampu mengantarkan kesadaran bertemu dengan makna esensial atau tujuan tertinggi. Pembelajaran tidak boleh berhenti pada sekedar transfer informasi tentang berbagi ilmu pengetahuan. Pebelajaran harus mampu mempertemukan hati dengan sesuatu yang sesungguhnya lebih agung dari ilmu itu sendiri, lebih besar dari penemu/pengembang teori/ilmu itu sendiri.
Pembahasan ajaran Islam seyogyanya diliputi oleh suasana kekaguman dan kekhusyuan kepada pencipta ajaran. Tak ubahnya saat seseorang sedang membaca surat cinta, sebelum pesan-pesannya terpahami, kekaguman dan rasa senang kepada pemberi pesan sudah lebih dahulu memenuhi hati. Jadi pembelajaran agama Islam harus mampu menumbuhkan rasa kagung kepada ajaran tersebut dan ingin dekat kepada Pemiliknya. Jika hati sang pengajar tidak diisi dengan hal tersebut sangat dihawatirkan diisi dengan kebanggaan kepada dirinya sendiri tatkala merasa puas mampu membuat palajarnya terpukau mendengarkan penjelasannya. Ibn al-Qayim menganalogikan hati dengan penggilingan yang terus menerus berputar menggiling. Jika tidak diisi dengan menggiling gamdum maka tentu menggiling apa saja selain gandum.
Apapun yang diajarkan, disiplin ilmu apapun materinya, pengajar dan pelajar harus sampai pada satu suasana psikolgis yang menghayati kebesaran-Nya melalui ilmu itu. Disiplin ilmu apa pun yang dikembangkan oleh manusia sesungguhnya hanya merupakan hasil kajian manusia terhadap tatanan alam dan kehidupan yang diatur oleh Sang Penciptanya (sunnatullah). Inilah yang dimaksud dengan perenungan-penghayatan.
Kecuali itu, yang perlu terhayati dalam proses pembelajaran ini adalah keterahan kepada-Nya, kepada harapan dan ridla-Nya. Keterarahan ini seyogyanya terus menerus hidup dalam kesadaran pengajar,
Dengan cara pemberlajaran tersebut, kecuali mengembangkan kecerdasan nalar, hati pun akan banyak terlatih mendapat cahaya zikir. Jika zikir ini menjadi terbiasa, maka pribadi dan perilakunya akan lebih terbimbing oleh cahayanya.


Metode Pengamalan
Orang yang mengetahui baik dan benar dapat dipastikan jauh lebih banyak jumlahnya dibanding dengan jumlah orang yang mengamalkan kebaikan dan kebenaran. Masih ada jarak yang jauh antara tahu dan amal. Artinya, tahu tidak menjamin adanya amal, sakalipun amal itu tidak memerlukan tenaga dan gerak yang besar, seperti perbuatan hati. Apa sulitnya kalau hati ini terus menerus dipenuhi dengan zikir (mengingat) Allah? Apa sulitnya hanya beberapa menit saja hati ingat kepada Allah dalam shalat? Ternyata tidak semudah itu. Mengapa?
Q.s. Al-Ma'un mengingatkan, bahwa melakukan "shalat" atas dasar riya dan tidak berdampak sosial dapat menjebloskan pelakunya ke neraka. [19] Karena itu dalam Q.s. Al-Ankabut/29: 45 ditegaskan, "Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan dosa dan kemunkaran."  Bagaimanakah jika ada orang yang rajin melakukan shalat, tapi rajin juga melakukan perbuatan dosa dan kemunkaran?
Inilah yang memastikan bahwa pembelajaran (Islam) itu perlu amal nyata. Pembelajaran agama Islam harus mampu mendorong amal. Karena itu perlu disertai dengan program-program amal yang diarahkan untuk pembinaan dan pembiasaan.

Referensi:
Bashir A. Dabla, Dr. Ali Syari`ati dan Metodologi Pemahaman Islam, terjemahan Bambang Gunawan, dalam Jurnal Al-Hikmah No.4, Bandung, Yayasan Muthahhari, Rabi` Al-Tsani-Sya`ban 1412/Nopember 1991-Fwbruari 1992.

Ghazali, Imam, Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid I, bab Ilmu Fardhu ‘Ain. Terjemahan, Semarang, CV Toha Putra.

Hamid Algard, Sosiologi Islam, terjemahan, 1990.
Mahmud Syaltut, Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, terjemahan, 1990.
Mukti Ali, Islam Modern, Bandung, Mizan, 1989.
Taufik Adnan Amal (Penyunting), Neomodernisme Islam Fazlur Rahman: Metode dan Alternatif, Bandung, Mizan, Cetakan ketiga, 1990.


[1] Syari’ati menyatakan, bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandegan dan stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaan di Eropah pada abad-abad pertengahan adalah metode pemikiran “analogi” Aristoteles. Sejak lahir dua orang Bacon, Roger Bacon (Inggris, 1214-1294 M.) dan Francis Bacon (Francis, 1561-1626 M.) yang memperkenalkan metode “ilmiah”, Eropah mengalami renaisans. Roger Bacon adalah ahli filsafat skolastik. Pada masa sekarang ini beliau selalu diperingati karena perhatiannya yang besar kepala Ilmu Alam, “eksperimen”, dan “observasi” langsung; sementara Francis Bacon adalah ahli filsafat dan negarawan Francis, memiliki saham yang besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui metode “induktif” dari ilmu eksperimental modern. (Mukti Ali, Islam Modern, Bandung, Mizan, 1989).
Diukur dari kejeniusan, sebenarnya Aristoteles (384-322 8M) jauh lebih jenius ke­timbang Francis Bacon; begitu juga Plato (366-347 SM) jauh Iebih jenius ketimbang Roger Bacon. Ketidakmampuan kedua orang yang lebih jenius tersebut dalam mengubah dunia Iebih disebabkan oleh kesalahan "metodologi", sementara kedua orang Bacon menyajikan metodologi yang benar.
ltulah sebabnya, lanjut Syari'ati, kita melihat sejarah peradaban Yunani melahirkan banyak jenius berkumpul dalam satu tempat. Sejarah umat manusia sangat terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran mereka hingga dewasa ini. Tetapi seluruh Athena tidak sanggup menciptakan roda, sementara dalam Eropa modern seorang teknisi biasa yang bahkan tidak bisa mernahami tulisan-tulisan Aristoteles dan murid-muridnya telah menciptakan ratusan karya orisinal. Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah Thomas Alpha Edison (Amerika, 1849-1931), penemu sistem telepon, telegram, listrik, bioskop bersuara, kereta api listrik, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dalam segi kejeniusan, ia jauh lebih rendah ketimbang murid peringkat ketiga Aristotdes. Akan tetapi, dalam waktu yang sarna Edison mampu mengubah dunia ketimbang Aristoteles sekalipun. (Mukti Ali, 1989:44-45).
*   Ali Syari’ati (1933-1977) adalah Sosiolog dan Cendekiawan muslim Iran yang syahid di Inggris. Buku-bukunya telah banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
*   Mukti Ali adalah ulama dan guru besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah menjabat Rektor IAIN dan Menteri Agama RI dalam Kabinet Pembangunan II.
[2] Aqidah merupakan dimensi Islam yang berhubungan dengan keimanan. Menurut Syaltut (1990:3-5), 'aqidah pokok yang perlu dipercayai oleh tiap-tiap Muslim, yang termasuk unsur pertama dari unsur-unsur keimanan, ialah mempercayai: Wujud (Eksistensi) Allah, nabi penyampai risalah Allah, malaikat, isi kitab, hari kebangkitan dan pokok-pokok syariat. Adapun menurut Murtadha Muthahhari menyangkut lima hal, yakni mengimani: Keesaan Allah (Uluhiyah), Keadilan Allah ('Adalah), Kenabian (nubuwah) termasuk Kitab Suci yang diterimanya, Imamah (mengimani adanya Imam-imam sebagai pelanjut Nabi Muhammad Saw., dan Hari Akhir (ma'ad).
[3] Syari’ah merupakan dimensi Islam yang berhubungan dengan ketentuan hubungan manusia dengan Allah, saudara seagama, saudara sesama manusia, serta hubungan dengan alam besar dan kehidupan, Menurut Syaltut (1990), syariah terdiri atas; ibadah (shalat, zakat, shaum, haji), keluarga dan pusaka (pernikahan, perceraian, poligami, kedudukan wanita, pusaka), harta dan peredarannya (kedudukan harta, kemerdekaan ekonomi, perdagangan, riba), hukuman (zina, mencuri, mabuk, membunuh), dan umat (dasar-dasar kenegaraan, hubungan internasional, akhlak).
[4] Akhlak membicarakan baik-buruknya suatu perbuatan, baik secara parsial (masing-masing perbuatan) maupun komparatif (memilih satu dari dua atau beberapa perbuatan yang baik-baik).
[5] Metode doktriner merupakan satu cara menyampaikan suatu ajaran sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran itu, tanpa menjelaskan maknanya. Adapun filosofis-doktriner merupakan satu cara menyampaikan suatu ajaran dengan mengukapkan sisi keunggulan ajarannya tanpa mengubah isi ajarannya.
[6]  Mahmud Syaltut, Aqidah wa Syari’ah, terjemahan, 1990.
*  Mahmud Syaltut adalah ulama besar, guru besar, penah menjadi rektor dan Syaikh (ulama tertinggi) Al-Azhar Kairo (Mesir). Bukunya banyak beredar di Indonesia.
[7]  Imam Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Jilid I bab Ilmu yang Fardhu ‘Ain.
[8] Asbab al-nuzul adalah ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya suatu ayat Al-Quran ilmu ini sangat penting 1untuk memahami proses pembentukan masyarakat Islam di masa, kenabian, yang bila dipahami dengan benar dapat ditemukkannya ajaran Islam secara benar. Akan tetapi, tahap dimana disebutkan oleh Mukti Ali (1989:41-42), Fazlur Rahman dengan hali-hali dalam mengkaji hadis tentang asbabun-nuzul. la hanya menerima hadis yang tidal bertentangan dengan akal. Pengertian yang peroleh dari mempelajari Al-Quran dan hadis dalam konteks sejarahnya itu ditafsirkkan oleh Rahman dalam perspektif kontemporer. (Taufik Adnan Amal, Penyunting, Neomodernisme Islam Fazlur Rahman: Metode dan Alternatif, Bandung, Mizan, Cetakan ketiga, 1990).
*   Fazlur Rahman (Pakistan) adalah seorang sarjana, Cendekiawan Muslim, dan Guru besar di Universitas Chicago Amerika Serikat. Banyak melahirkan Cendekiawan Muslim, termasuk para Cendekiawan di Indonesia. Buku-bukunya telah banyak yang beredar di Indonesia.
[9] Bashir A. Dabla, Dr. Ali Syari`ati dan Metodologi Pemahaman Islam, terjemahan Bambang Gunawan, dalam Jurnal Al-Hikmah No.4, Bandung, Yayasan Muthahhari, Rabi` Al-Tsani-Sya`ban 1412/Nopember 1991-Fwbruari 1992.
[10] Abidi, dalam Bashir A. Dabla, Op Cit, hal. 90.
[11] Untuk memahami Islam, Barat mengutamakan metode yang biasa digunakan untuk memahami fenomena-fenomena lainnya. Metode yang dimaksud adalah naturalistik, psikologik dan sosiologis.
[12] Metode intuisi-mistik adalah metode mendekati Allah dengan berzikir dan ber-khalwat.
[13] Barat hanya mengetahui eksternalitas (segi-segi luar) dari Islam; sebaliknya, para Ulama kita sudah terbiasa memahami Islam dengan cara doktriner dan dogmatis, yang sarna sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang hidup di masyarakat. Akibatnya, penafsiran mereka tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. Itulah penyebab timbulnya kesan bahwa Islam sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan alam pembangunan. Pendekatan ilmiah-cum-doktriner harus digunakan; scientific-cum suigeneris harus di­terapkan. lnilah yang dimaksud dengan metode sintetis. (Mukti Ali, 1989:47-48). Senada dengan Syari'ati, Mukti Ali menyebutkan, bahwa untuk mempelajari hubungan manusia dengan Tuhan, metode filosofis harus digunakan, karena hubungan manusia dengan Tuhan dibahas dalam filsafat, dalam arti pemikiran metafisis yang umum dan bebas. Dimensi yang lain dari Agama Islam adalah masalah kehidupan manusia di bumi ini. Untuk mempelajari dimensi ini harus dipergunakan metode-metode yang selama ini dipergunakan dalam ilmu manusia. Lalu Islam juga merupakan suatu agama yang membentuk suatu masyarakat dan paradaban. Untuk mempelajari dimensi ini, metode sejarah dan sosiologi harus diperguna­kan. Akan tetapi, tidak cukup hingga di sini. Metode ilmiah tersebut harus digunakan ber­samaan dengan metode "doktriner".
[14]  Hamid Algard, Sosiologi Islam, hal. 60
[15]  Mukti Ali, Op Cit, hal. 49.
* Mukti Ali adalah ulama dan guru besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah menjabat Rektor IAIN dan Menteri Agama RI dalam Kabinet Pembangunan II.
[16] Farhat Abas (Politikus Afrika Utara) dalam bukunya yang berjudul The Night Imperialism mengungkapkan betapa besarnya pengaruh perubahan metodologi. Syeikh Muhammad Abduh datang ke Afrika Utara dan mengajarkan Tafsir Al-Quran, suatu mata pelajaran yang tidak biala diajarkan di lingkungan pendidikan Islam pada waktu itu. Farhat Abas mengangap permulaan kebangkitan dan perkembangan Islam di negeri-negeri Afrika Utara adalah setelah umat Islam dari para ulamanya di negeri itu menaruh perhatian yang penuh kepada pengkajian Al-Quran. Sebelum itu, umat Islam di Afrika Utara mempelajari Islam dari berbagai  cabang Ilmu Agama Islam. (Mukti Ali, 1989 :49-50).
[17] Mas Mansur (Ulama terkemuka, pernah menjadi ketua Perserikatan Muhammadiyah), ketika mengajar Agama Islam di Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada tahun 1945, sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaarmya, juga memberikan Tafsir Al-Quran. Biasa­nya beliau menulis ayat-ayat Al-Quran di papan tulis, lalu diuraikan artinya dari segi bahasanya, lalu ditafsirkan dari segi filsafat, sejarah, hukum, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya, dengan mengingat kondisi dalam zaman penjajahan akhir fasisme Jepang. Dengan itu, mahasiswa dapat memahami Al-Quran secara utuh.

[18] Metode tipologi oleh banyak ahli sosiologi dianggap obyektif. Metode ini menggunakan klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Pedekatan ini digunakan oleh sarjana Barat untuk memahami Ilmu-ilmu manusia. Syari’at memandang metode ini dapat digunakan untuk memahami agama. Dalam hal agama Islam, juga agama-agama lain, adalah dulakukannya cara mengidentifikasikan lima aspek atau ciri agama, lalu dihubungkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain.

[19] Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai dari shalatnya, yang riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Terjemah Q.s. Al-Ma'un/107: 1-7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar