BAB 1
METODE MEMAHAMI ISLAM
Sebuah metodologi sama pentingnya dengan konten,
bahkan bisa lebih dari itu. Yunani kuno banyak melahirkan filosof besar, tapi
dunia tertidur. Dua orang Bacon, penemu metode ilmiah, mampu menggerakkan dunia
dan lahirnya renaisans di Eropah, padahal kecerdasan mereka jauh di
bawah filosof Yunani.
Hal yang sama berlaku bagi “Islam”. Bagaimana cara
orang memahami agama ini sangat tergantung dari bagaimana caranya memandang.
Munculnya berbagai merek tentang Islam menunjukkan adanya beragam metodologi
dalam memandang Islam. Yang tidak kurang pentingnya adalah metodologi pemahaman
Islam bagi mahasiswa umum, yang tentu berbeda dengan mahasiswa IAIN.
Metode-metode: kajian isi/dimensi Islam, Al-Qur’an, sejarah Islam, fenomena
alam, tipologi, dan pengamalan Islam merupakan beberapa metode yang relatif
mudah digunakan oleh mahasiswa umum.
A. Pentingnya Metode Memahami Islam
Sejak sekitar 2400 tahun yang lalu, Eropa (Yunani)
banyak melahirkan filosof besar. Tetapi, selama lebih dari seribu tahun, mereka
tertidur nyenyak. Mukti Ali menyitir pandangan Ali Syari'ati yang
mengungkapkan, bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandegan dan stagnasi
dalam berbagai kehidupan di Eropa adalah metode pemikiran analogi dari
Aristoteles (384-322 SM). Kemudian, di abad pertengahan, sistem kehidupannya
bergeser: dari sistem yang feodal kepada sistem yang borjuis, karena terdorong
oleh jebolnya tembok pemisah antara Islam Timur dan Kristen Barat. Kemudian,
dua orang Bacon menemukan dan mengembangkan metode ilmiah, yang sangat
berbeda dengan Aristotdes dalam cara melihat objek; maka berubahlah sains,
masyarakat, dan dunia. Akibatnya, berubah pula kehidupan manusia. Akhirnya,
Eropa mengalami Renaisans. Oleh karena itu, perubahan metodologi merupakan
faktor fundamental dalam Renaisans. [1]
Bagaimanakah
cara orang-orang Islam dalam memahami agamanya? Metode apa yang mereka gunakan?
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita saksikan
adanya orang yang gigih berjuang mendakwahkan hal-hal yang tampak sederhana. Mereka
memperjuangkan jenggot tebal, celana panjang yang ngatung (bahasa Sunda:
berada di atas mata kaki: setengah sampai satu jengkal darinya), jubah, serban,
siwak, celak mata, cara-cara duduk, cara berjalan, jilbab, dan cadar. Mereka
katakan: Inilah Islam. Lainnya bersikeras mendakwahkan teknik ibadah ritual,
sambil serta merta menyalahkan teknik ibadah ritual yang lain. Ada pula yang
secara ekstrim menampilkan sisi damai, sehingga
koruptor dan preman pun merasa tentram berzikir, tanpa meninggalkan korupsi
dan premanismenya. Lebih fatal lagi, mereka menyandarkan metodologi demikian
kepada tokoh-tokoh yang sebenarnya tidak memahami Islam secara utuh dan
bulat.
Lantas, jika demikian, di manakah letak kesalahan
berpikir mereka? Jawabnya adalah dalam metodologinya. Oleh karena itu,
ketepatan suatu metodologi sangat penting dalam memahami Islam, agar pengetahuan
Islam yang benar dapat diraih. Akan tetapi, bagaimanakah caranya?
Tujuan syari’ah (maqashid al-syar'iyah) adalah
mutlak harus menjadi sandaran utama metodologi pemahaman Islam. Agama Islam
didatangkan dengan lima tujuan utama, yaitu: (1) menjaga agama, (2) menjaga
jiwa, (3) menjaga akal, (4) menjaga harta, dan (5) menjaga kehormatan.
Mengapa Al-Quran menetapkan qishash dalam
pembunuhan, karena untuk menjaga jiwa. Dengan demikian segala tindakan
prepentif untuk menjaga jiwa (keamanan, pengobatan, dll) merupakan anjuran
agama. Mengapa khamar diharamkan, karena merusak akal. Demikian juga
segala jenis makanan dan minuman atau apa pun nama dan caranya yang merusak
akal (seperti narkoba dan sejenisnya) diharamkan. Sebaliknya, segala upaya yang
memperkuat akal (seperti: giat belajar, berpikir, memberi bea siswa bagi
pelajar potensial, dll) sangat dianjurkan oleh agama. Mengapa riba, pencurian,
dan penipuan diharamkan, karena merusak harta. Karena itu segala upaya yang
merusak harta - seperti korupsi, pemerasan, dan segala transaksi bisnis yang
menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya - diharamkan. Sebaliknya,
segala upaya peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan sangat
dianjurkan. Mengapa zina diharamkan, karena merusak kehormatan; dan mengapa
menikah dianjurkan, karena menjaga kehormatan. Mengapa ulama (yang benar)
menduduki posisi tinggi di hadapan Allah Swt, karena mereka sebagai pewaris
Nabi yang bertugas menjaga dan menegakkan agama; dan mengapa ulama yang mudah
dibeli (menjual murahan ayat-ayat Allah) tercela dan dikategorikan sebagai al-Ulama
al-Su (ulama yang buruk), karena mereka merusak agama. Demikian juga sikap
inklusif terhadap mazhab, pemikiran dan keyakinan yang berbeda (tentunya yang
dapat dipertanggung-jawabkan) termasuk dalam kategori menjaga agama.
Ulama dan Cendekiawan Muslim banyak yang mengajukan
metodologi pemahaman Islam. Apa pun modelnya, mereka mengembangkan metodologi
atas dasar pemahaman mereka tentang Islam, disertai dengan upaya mengunggulkan
Islam di atas agama-agama lain. Sebagian Ulama dan Cendekiawan Muslim lainnya
berusaha pula menerapkan Islam dalam kehidupan individual dan sosial. Sebagian
ulama mengembangkan metode pemahaman Islam atas dasar isi atau dimensi ajaran
Islam.
B. Metode Kajian Isi/Dimensi Islam
Di Indonesia dikenal luas bahwa ajaran Islam terdiri
atas tiga hal, yaitu: 'aqidah [2], syari'ah [3], dan akhlaq.[4] Pendekatannya sering kali doktriner.[5]
Adapun Syaltut membaginya ke dalam dua bagian besar,
yaitu 'aqidah dan syari'ah. Bagi Syaltut, akhlak tidak merupakan
satu dimensi khusus melainkan merupakan bagian dari dimensi syari'ah. Pendekatannya,
bersifat filosofis-doktriner. Kedua dimensi ajaran Islam, 'aqidah dan
syari'ah, diungkapkan oleh Syaltut sebagai berikut:
Nabi Muhammad menerima dari Allah suatu pokok (sumber) yang cukup lengkap bagi Islam berhubungan
dengan 'aqidah dan syari'ah, yaitu Al-Quran Al-Karim (Quran
Yang Mulia). Menurut ketetapan Allah dan kepercayaan kaum Muslimin, Al-Quran
merupakan sumber pertama untuk mengetahui ajaran-ajaran pokok dan dasar dari
agama Islam; dan dari Al-Quran dapat diketahui, bahwa Islam mempunyai dua
cabang yang pokok. Hakikat Islam tidak akan diperoleh dan pengertian yang benar
tidak akan dimiliki kecuali apabila kedua cabang itu benar-benar ada dan nyata
serta bersemi dalam pikiran, hati, dan jiwa.[6]
Ilmu Agama apa saja yang perlu dipelajari oleh seorang
orang Islam? Imam Ghazali menyebutkannya dalam uraian tentang ilmu yang fardhu
‘ain. Termasuk ke dalam ilmu ini adalah pengetahuan tentang: Tauhid yang
benar, Zat dan Sifat-sifat Allah, cara beribadah yang benar, halal-haram,
termasuk halal-haram dalam bermu’amalah. Selain itu, ilmu yang masuk ke dalam fardhu
‘ain adalah pengetahuan tentang: hal ihwal hati, perbuatan-perbuatan
terpuji (sabar, syukur, dermawan, berbudi baik, bergaul dengan baik, benar
dalam segala hal, dan ikhlas), serta menjauhi perbuatan-perbuatan tercela
(mendengki, iri, menipu, sombong, pamer, pemarah, pembenci, dan kikir). [7]
Fazlur Rahman menampilkan Islam sebagai ajaran yang
mendunia. Ia menekankan pentingnya pemahaman atas tiga pokok ajaran Islam,
yaitu: mengimani ke-Esa-an Allah, membentuk masyarakat yang adil,
dan mengimani hidup sesudah mati. Ditandaskannya bahwa Islam yang benar
hanya dapat dipahami melalui pengkajian konteks Sejarah Islam, yaitu
dalam situasi dan suasana apa ayat Al-Quran itu diturunkan. Kajian asbab
al-nuzul (sebab-sebab dan latar belakang turunnya Al-Quran) digunakan
Rahman dengan sangat hati-hati.[8]
Ali Syari'ati juga menampilkan Islam ke tengah-tengah
dunia. Menurutnya, Islam adalah sebuah mazhab pemikiran yang menjamin kehidupan
manusia, baik individu maupun kelompok, dan misinya adalah membimbing masa depan
umat manusia. Ia berpendapat bahwa Islam adalah agama yang universal,
humanistik, inovatif, kreatif, dan memberikan bimbingan Ilahiah bagi Muslim dan
umat manusia. Ia menegaskan bahwa misi Islam adalah untuk perubahan dan
revolusi, serta menerangi penindasan dan ketidakadilan. Islam menuntut
tanggung jawab penuh, baik dalam teori maupun praktik, dan memberikan model
masyarakat serta model pribadinya (Nabi Muhammad saw).[9]
Islam dilukiskan oleh Syari'ati dalam perspektif
sejarah sebagai berikut:
Islam bukannya sebuah agama baru, tetapi merupahan bagian integral dari
kelanjutan agama-agama besar yang telah diturunkan secara berkelindan dari
seluruh kesejarahan umat. Berbagai rasul telah diutus dalam momen yang berbeda
untuk menegakkan agama yang universal sesuai dengan situasi dan kebutuhan
zamannya. Islam. . . erat
hubungannya dengan gerakan-gerakan lain, yang dihadirkan untuk menegakkan
emansipasi dan mengubah pola hidup manusia menjadi lebih sempurna, di
sepanjang sejarah.[10]
Syari'ati yakin bahwa analisis mengenai pendekatan dan
metode pemahaman Islam adalah sangat penting. Mengapa demikian? Sebab, analisis
ini dapat mengembangkan pemikiran yang benar, yang justru merupakan syarat bagi
diperolehnya pengetahuan yang benar; dan bahwa pengetahuan yang benar dapat
membimbing iman yang benar. Pendekatan dan metode ini sangat penting karena
pemahaman orang (muslim umumnya, dan non-muslim khususnya) tentang Islam kurang
memadai.
Dalam kaitannya dengan pemahaman Islam, Syari'ati
mengajukan sebuah pertanyaan penting yang amat mendasar: metode apakah yang
paling tepat untuk memahami Islam? Pertanyaan ini dijawabnya sendiri secara
terinci.
Menurutnya,
dalam mencoba mengetahui metode yang tepat itu, kita tidak boleh terperosok ke
dalam perangkap penjiplakan metode Barat apa pun, baik metode naturalistik,
psikologis, maupun sosiologis.[11]
Mengapa demikian? Sebab, peminjaman metode Barat, baik sepenuhnya maupun
dengan beberapa penyesuaian, akan menyimpangkan kenyataan teoretis maupun
empiris. Ia menegaskan, bahwa untuk menemukan metode yang tepat dalam memahami
Islam, kita harus inovatif dalam menciptakan metode baru, yang mungkin
mengandung beberapa unsur dari metode Barat. Pemasukan sebagian dari metode
Barat ini perlu, karena ada beberapa pendekatan baru yang telah ditemukan
dunia Barat dalam bidang penelitian agama dan perannya dalam masyarakat. Ia
menyatakan dengan tegas, bahwa mungkin tidak ada metode yang unik untuk
memahami Islam secara komprehensif, karena Islam adalah agama yang
multidimensional. Oleh karena itu, penerapan metode plural (berbagai
metode) dipandang sebagai lebih realistis. Selanjutnya Syari'ati berkata:
Islam bukanlah agama yang hanya mendasarkan diri pada intuisi mistik
manusia dan hanya terbatas pada hubungan antara manusia dan Tuhan semata.[12] Ini hanyalah satu di antara dimensi-dimensi Islam.
Untuk mengkaji dimensi ini metode filosofis harus dipakai, sebab hubungan
manusia dengan Tuhan dibicarakan dalam filsafat; dalam arti metafisika yang
bersifat umum dan tidak ketat. Kemudian, dimensi yang lain, menyangkut hidup
manusia di muka bumi. Untuk kajian ini, kita harus mampu menggunakan
metode-metode yang telah mantap di tengah perkembangan ilmu dewasa ini.[13]
C. Metode Kajian Al-Quran dan Sejarah Islam
Syari'ati
menegaskan bahwa ada dua metode fundamental untuk memahami Islam secara benar. Pertama,
pengkajian "Al-Quran", yaitu pengkajian intisari gagasan-gagasan
dan output ilmu dari orang yang dikenal sebagai Islam; kedua, pengkajian
"Sejarah Islam", yaitu pengkajian tentang perkembangan Islam sejak
masa Rasul menyampaikan misinya hingga masa sekarang.
Dalam menjelaskan kedua metode tersebut, Syari'ati
menganalogikan "Islam" dengan "kepribadian" seseorang.
Agama, dalam konteks metodologi, adalah seperti seorang manusia. Untuk memperoleh
pengetahuan yang benar tentang kepribadian orang besar, seorang peneliti
haruslah menempuh dua jalan: Pertama, menyelidiki karya-karya
intelektualnya, pengetahuannya, dan karya-karya tertulisnya; dan kedua, mengkaji
secara ekstensif biografinya, termasuk di dalamnya segala aktivitasnya (yang
besar dan yang kecil) di sepanjang kehidupannya. Demikian pula, kebenaran dalam
memahami Islam dapat dicapai dengan mengkaji sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan
perkembangan sejarahnya. Syari'ati lebih lanjut menandaskan:
Pemahaman dan pengetahuan tentang "Al-Quran" sebagai sumber
dari segala ide-ide Islam, dan pengetahuan serta pemahaman "sejarah
Islam" sebagai sumber segala peristiwa yang pernah terjadi dalam masa
yang berbeda adalah dua metode fundamental untuk mencapai suatu pengetahuan
tentang Islam yang benar dan ilmiah. [14]
Syari'ati menyadari bahwa tingkat pengetahuan dan
pemahaman terhadap kedua metode itu, Al-Quran dan Sejarah Islam, di kalangan
orang Muslim pada umumnya sangat rendah. Implikasi dari yang dikatakannya itu
adalah bahwa untuk memahami Islam secara tepat kedua sumber asli tersebut harus
dikaji secara komprehensif. Mukti Ali menyebutkan bahwa kedua metode yang
diajukan Syari'ati adalah fundamental untuk memahami Islam secara tepat.
Tentang kedua metode tersebut Mukti Ali mengungkapkan:
Inilah kedua metode yang harus kita gunakan untuk mempelajari Islam.
Tetapi sayang sekali bahwa studi Al-Quran dan studi Sejarah Islam adalah sangat
lemah di negeri kita, juga di dunia Islam. Kenyataannya, kedua studi itu hanya
berada di pinggiran saja dari kelompok studi Islam.[15]
Mukti Ali mengungkapkan rasa kegembiraannya sehubungan
dengan munculnya pemikir-pemikir Muslim yang banyak menaruh perhatian terhadap
studi Al-Quran dan studi analisis tentang Sejarah Islam. Kebangkitan rakyat
Afrika Utara (Marokko, Aljazair dan Tunisia), seperti disebutkan Farhat Abas,
adalah setelah digunakannya metode itu.[16]
Mas Mansur
mengajarkan Islam dengan memberikan Tafsir Al-Quran dan implementasinya
terhadap berbagai aspek kehidupan. Metode Mansur, menurut Mukti Ali, membuat
mahasiswa dapat memahami Islam secara utuh.[17]
Mukti Ali menungkapkan bahwa bila umat Islam Indonesia
mau menjadikan lembaga-lembaga pendidikan (madrasah dan perguruan
tingginya; pondok pesantren dan masjidnya) sebagai pusat kegiatan, untuk
memberikan pelajaran Al-Quran dan sejarah Islam, maka umat Islam akan dapat
meletakkan dasar yang paling kukuh untuk ekspansi dan pengembangan pemikiran
Islam.
Selain dari itu, dengan pengertian yang utuh terhadap
Islam, kita mungkin akan dapat memahami masyarakat secara utuh pula. Ini berarti
meluaskan jalan ke arah pengukuhan ummat al-wahidah, ummat al-tauhid.
Metode Kajian Teks secara Integral
Al-Quran memiliki
sistimatika yang sangat berbeda dengan sistimatika penulisan buku yang pernah
dikembangkan oleh manusia. Dalam Al-Quran ada nama surat tapi bukan bab, tema
atau judul. Ada ayat dengan nomor berurutan tapi bukan representasi pengurutan
kalimata, alinea atau ide. Banyak dibicarakan tentang shalat, zakat, puasa dan
lain sebagainya, tapi tidak ditemukan bab shalat, zakat dan puasa dengan bab seperti yang dikembangkan oleh
manusia. Cerita nabi Musa tercecer dalam puluhan tempat dan belasan surat, tapi
cerita Nabi Yusup lengkap dan menghabiskan satu surat. Ini sistimatika yang
aneh dan unik. Almawdudi memandang kenyataan tersebut sebagai bagian dari
kemu'jizatan Al-Quran.
Al-Quran diturunkan
berangsur-angsur selama 23 tahun. Selama
itu Al-Quran diturunkan sesuai dengan kebutuhan dan permasalah yang berkembang.
Tak jarang ayat Al-Quran turun merupakan respon terhadap pertanyaan atau
kejadian yang muncul pada saat itu. Dengan demikian penafsirannya di saat itu
tidak akan mengalami kesulitan, sebab sudah banyak terarahkan oleh kondisi yang
menyertai atau melatarbelakanginya. Kalaupun ada kesulitan, para sahabat dapat
dengan mudah bertanya kepada Rasulullah saw.
Kenyataan-kenyataan yang
berkaitan dengan Al-Quran tersebut memastikan bahwa pengkajiannya harus
dilaksanakan secara integral, tidak parsial, yakni integral dengan ayat lain
atau sunnah yang berkaitan dan atau menjadi pelengkap keutuhan maksudnya.
Kaitan tersebut dapat berupa: (1)
sebab, kondisi atau peristiwa yang menyertai atau mela-tarbelakanginya, (2) syarat, ketentuan
atau kondisi yang menjadi persyaratan atas adanya suatu ketetapan, (3) penghalang, hal-hal yang membatalkan atau membelokkan
suatu ketetapan, (4) penjabaran, hal-hal yang merupakan rincian atau
penjelasan dari penyataan yang masih bersifak global, (5) pengecuali, sesutu
yang dikeluarkan atau dikecualikan dari ketetapan lain yang telah ada, (6) pembatasan, hal-hal
membatasi kemutlakan ketetapan lain yang telah ada, (7) penambahan, hal-hal
yang merupakan tambahan atau penyempurnaan atas ketetapan terdahulu, dan lain sebagainya.
Pengkajian Al-Quran tidak boleh
dilakukan secara parsial, sepotong-sepotong, yakni dipotong dari kelengkapan
kalimat ayatnya, atau dari keutuhan maksudnya yang terdapat pada ayat atau
hadis lain. Jika suatu ayat atau hadis yang memiliki kaitan langsung dengan
ayat atau hadis lain tergesa-gesa disimpulkan sebelum diintegrasikan, maka bisa
jadi kesimpulan itu berbeda atau bahkan bertentangan dengan maksud yang
sesungguhnya.
Metode Kajian
Sejarah Islam
Pada dasarnya ajaran Islam
itu bersifat normatif. Tatkala akan diterapkan dalam kehidupan nyata tak jarang
mendapat kedala. Tidak semua aturan normatif itu dapat diaktualisasikan dan
dioperasionalkan secara praktis. Sebelum sampai pada tataran praktis kadang
perlu proses pengkajian yang ditopang oleh berbagai aspek kehidupan (sosial, politik,
budaya dan lain sebagainya) di saat ajaran tersebut muncul, berkembang dan
manifes dalam kehidupan nyata. Inilah yang dimaksud dengan kajian sejarah di
sini.
Kajian sejarah ini
melangkapi kajian teks agar pemahamannya tidak
lepas dari konteksnya. Kajian sejarah yang diarahkan untuk meng-ungkap
kontekstual ini menjadi sangat penting
terutama tatkala ditemukan teks yang muncul dilatarbelakangi suatu peristiwa
atau kondisi tententu. Suatu teks atau ketetapan yang dilatarabelakangi oleh
kon-disi atau peristiwa memiliki nilai/aspek fenomenal dan aspek/nilai
esensial. Masalah jilbab umpamanya.
Konsep jilbab kita temukan langsung dalam Al-Quran, tapi konsep ini pun telah
ada sebelum Al-Quran turun, yakni mode pakaian wanita Arab yang dapat menutup
seluruh tubuh dari kepala sampai kaki dan digunakan sebagai pakaian rangkap
luar. Setelah diangkat Al-Quran mau tidak mau jilbab menjadi konsep busana
muslimah. Karena itu memiliki aspek/nilai fenomenal, yaitu mode pakaian wanita
Arab dahulu, dan aspek/nilai esensial atau ajaran, yakni satrul aurat (menutup
aurat), muhafadhah 'ala al-jinsiyah (memperhatikan jenis kelamin), dan muhafdhah
'ala al-bi'ah
(memperhatikan budaya lingkungan). Apakah mengikuti Islam itu berarti mengikuti
ajaran Islam plus budaya Arabnya? Atau mengikuti ajarannya saja?
Metode Kajian Fenomena Alam
Di dalam Al-Quran
banyak sekali ayat yang langsung mengangkat fenomena alam yang sulit bahkan
tidak mungkin dipahami jika tidak dibantu dengan kajian kealaman. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa kata alam berasal dari kata 'alamah yang
berarti "tanda"; sedangkan bagian-bagian terkecil dari susunan
Al-Quran disebut ayat yang juga
berarti "tanda". Karena itu Al-Quran dan alam sesungguhnya
kedua-duanya adalah ayat Allah. Kedua-duanya menunjukkan dan membuktikan
kebesaran dan keagungan Allah. Kedua-duanya saling mengukuhkan. Artinya bahwa
pemahaman Al-Quran memerlukan informasi
dari alam, dan pemahaman terhadap alam memerlukan bimbingan dari Al-Quran. Jika
Al-Quran dipahami dengan lurus dan alam dikaji dengan obyektif, maka hasilnya
akan bertemu pada satu titik (kebenaran) yang satu. Tidak akan terjadi
pertentangan antara Al-Quran dengan ilmu dari alam, sebab kedua-duanya
merupakan ayat Allah, berasal dari Allah dan berjalan kembali kepada-Nya.
Bagaimana kita
memahami ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah? Bagaimana
kita memahami ayat yang menyatakan bahwa langit dan bumi itu asalnya padu,
kemudian keduanya kami pecahkan? Bagaimana kita memahami ayat yang menyatakan
bahwa menurut pandangan manusia gunung itu diam padahal bergerak seperti awan?
Dan lain-lain.
Menurut Mukti Ali, kewajiban intelektual Muslim dewasa
ini adalah meyakini bahwa Islam adalah agama yang memberikan petunjuk bagi
manusia, baik bagi individu maupun masyarakat; dan bahwa Islam menjanjikan
jalan yang lurus bagi kehidupan manusia sekarang dan masa yang akan datang.
Manusia harus menganggap kewajiban ini sebagai tugas individual. Lapangan apa
saja yang ditekuni, ilmu apa saja yang didalami, perlu menampilkan Islam sesuai
dengan bidangnya masing-masing. Sebab, Islam merupakan agama yang multi dimensi
dan mempunyai berbagai aspek, sehingga setiap orang yang berusaha mempelajari
Islam akan memperoleh pandangan dan petunjuk yang baru dari bidang studinya.
Para ahli Ilmu Alam, Matematika, dan Kedokteran, umpamanya, hendaknya mencoba
merenungkan apa artinya bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi dalam
waktu enam hari; apa artinya bahwa manusia dijadikan dari 'alaq (segumpal
darah) yang pada akhir-akhir ini mulai dikritik orang. Para ahli geografi dan
arkeologi, hendaknya mencoba membahas apa yang belum lama ini disiarkan bahwa
bangkai kapal Nabi Nuh terdapat di Gunung Ararat. Alangkah menakjubkan kisah Ashabul
Kahfi yang dapat hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Di
mana kira-kira tempat gua itu dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang
menakjubkan itu. Para ahli sosiologi, sejarah dan politik, hendaknya pula
mencoba membahas bagaimana Nabi Yusuf yang dulunya budak dapat menjadi
penguasa di Mesir. Mengapa Nabi Musa dalam melaksanakan tugasnya harus dibantu
oleh Nabi Harun. Selanjutnya, para ahli sastra dan bahasa sudah barang tentu
akan meneliti tantangan Al-Quran bahwa tidak ada seorang pun yang hila membikin
ungkapan-ungkapan seperti Al-Quran sekalipun hanya sepotong kata. Tentu para
ahli psikologi akan mencoba mengungkap suasana psikologis Abu Bakar yang
ketakutan tatkala sedang bersama Nabi di Gua Tsur dalam perjalanan hijrahnya,
tatkala dikejar-kejar oleh kafir Quraisy, yang kemudian Nabi saw.
menenteramkannya dengan mengatakan: “Jangan takut dan jangan susah, Allah
bersama kita.”
K.H. Muslim Nurdin (Ulama, dosen Agama Islam UPI)
ketika memberikan kuliah sering bertanya kepada mahasiswa: mengapa
sehari-semalam ada 24 jam, dan berapa kilo meter lingkaran bumi? Kemudian
dijawabnya sendiri (karena umumnya mahasiswa tidak bisa menjawab dengan tepat)
yang membuat kagum mahasiswa terhadap Al-Quran dan Islam. Menurut Kyai Muslim,
keliling bumi adalah 40.000 km, sedangkan sehari-semalam adalah 24 jam.
Artinya, bumi ini berputar sangat cepat, yakni 1.666,67 km per-jam (40.000 km
dibagi 24 jam). Tapi, kenapa kita tidak pusing dan tidak merasakan adanya
putaran? Di sinilah Allah membuat keseimbangan. Yang lebih membuat ta'jub
mahasiswa ketika Kyai mengilustrasikan, bagaimanakan jika putara bumi dikurangi
agar tidak terlalu cepat, misalnya 800 km per-jam. Ini artinya sehari-semalam
menjadi 48 jam. Tapi, apa yang akan terjadi? Siang hari menjadi 24 jam, begitu
juga malam hari 24 jam. Karena siang hari terlalu lama, maka matahari akan
menyedot semua air di bumi; akibatnya permukaan bumi menjadi kering kerontang.
Malam hari pun terlalu lama, sehingga akan menjadi sangat dingin. Bagaimana
mungkin manusia bisa hidup di bumi ?! Inilah hikmah Allah menggilirkan siang
dan malam selama 24 jam, sangat cocok untuk kehidupan manusia dan makhluk bumi
lainnya.
Kyai Muslim pun sering bertanya, mengapa bumi agak
miring ke utara? Mengapa manusia mampu berbahasa? Yang dijawabnya sendiri
secara memuaskan dan mengagumkan para mahasiswa.
D. Metode Tipologi
Metode lain yang dikemukakan oleh Ali Syari'ati adalah
"tipologi", sebuah metode yang dipakai secara luas di Eropa untuk
mengetahui dan memahami manusia.
Dalam konteks ini, Syari'ati mengembangkan metode
khusus untuk mengkaji agama, yang bahkan dapat dipakai untuk mengkaji semua
agama. Metode tersebut memiliki dua ciri penting, yaitu: pertama. mengidentifikasi
lima aspek agama; dan kedua, membandingkan kelima aspek tersebut dengan
aspek yang sarna dalam agama lain. Kelima aspek atau ciri agama itu adalah:
(1) Tuhan atau
Tuhan-tuhan dari masing-masing agama, yakni yang dijadikan obyek penyembahan
oleh para penganutnya.
(2) Rasul (Nabi) dari
masing-masing agama, yaitu orang yang memproklamasikan dirinya sebagai
penyampai agama.
(3) Kitab Suci dari
masing-masing agama, yaitu dasar dan sumber hukum yang dinyatakan oleh agama
itu.
(4) Situasi kemunculan
Nabi dari tiap-tiap agama dan kelompok manusia yang diserunya, karena pesan
tiap Nabi berbeda-beda.
(5) Individu-individu
pilihan yang dilahirkan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya
dan kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah.[18]
Dalam hal agama Islam, Syari'ati
mengoperasionalkan metode tipologi ke dalam lima langkah berikut:
(1) Menjelaskan tipe, konsep, keistimewaan, dan
ciri-ciri Allah di dalam Islam dengan mengacu kepada
ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits
Nabi, dan ucapan para ulama besar; lalu melangkah ke perbandingan antara Allah
dengan figur-figur dalam agama lain yang digambarkan sebagai Tuhan, seperti
Ahuramazda, Yahweh, dan Zeus.
(2) Menelaah Kitab Suci. Topik-topik apa yang
dibicarakannya dan bagian-bagian apa yang ditekankannya; lalu melangkah ke perbandingan
antara Al-Quran dengan kitab-kitab Suci lain, seperti Injil, Taurat, dan Weda.
(3) Menelaah kepribadian Nabi dalam
dimensi-dimensi kemanusiaan dan kenabiannya. Kita mengkaji perilaku Nabi,
yaitu bagaimana beliau berbicara, bekerja, berpikir, berdiri, duduk, tidur, dan
sebagainya; kita selidiki pula hakikat dari hubungannya dengan musuh-musuhnya,
sahabat-sahabatnya, dan sanak keluarganya, serta bagaimana langkah beliau
dalam menghadapi masalah-masalah sosial. Kita harus membandingkan kepribadian
Nabi Muhammad saw. dengan nabi-nabi dan para pendiri agama yang lain, seperti
Isa, Musa, Budha, dan Zoroaster.
(4) Memeriksa situasi kedatangan Rasul, apakah ia
mempersiapkan dirinya untuk kelak menjadi Rasul; adakah orang yang menunggununggu
kedatangannya; dan siapakah kelompok manusia yang didakwahinya; apakah beliau
telah mengetahui dan mempersiapkan dirinya untuk kelak menjadi Rasul; apakah
kedatangannya itu ditunggu-tunggu ataukah tanpa ada orang yang menunggunya;
kelompok manusia mana yang diserunya, apakah manusia secara umum (al-Nas), raja-raja
dan bangsawan, atau kaum cerdik pandai dan Ahli filsafat; arus pemikiran luar
biasa apa yang mengalir ke dalam pikirannya, yang mengubah secara total
kepribadian dan cara bicaranya dengan suatu cara yang ketika awalnya amat sulit
dilakukan. Kita harus menyelidiki bagaimana Rasul menghadapi masyarakatnya ketika
beliau untuk pertama kali memproklamasikan misinya. Akhirnya, kita harus membandingkan
keistimewaan yang menonjol dalam diri Rasulullah Muhammad saw. dengan
keistimewaan rasul-rasul yang lain, seperti Ibrahim, Musa, Isa, atau dengan
para pendiri agama dunia, seperti Budha Gautama.
(5) Mengkaji kepribadian individu-individu pilihan
yang dilahirkan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan
kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah. Kita harus mengkaji dan
mencoba memahami prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh individu-individu
pilihan, kepekaannya terhadap nasib rakyat, serta kesalehan dan kesediaannya
berkorban. Lalu kita melangkah ke perbandingan antara individu-individu
pilihan yang dipersembahkan oleh Islam dan agama-agama lain.
Menurut metode tipologi ini, untuk dapat mengetahui
lebih luas tentang Islam adalah sebagai berikut: Pertama, kita memahami Allah,
terna-tema tentang Keesaan dan Keadilan-Nya. Pendeknya, "tipe"
Tuhan yang bagaimanakah Dia itu.
Agar kita dapat mengenal dengan betul ciri-ciri Tuhan,
kita harus kembaIi kepada Al-Quran dan hadits Nabi. Termasuk juga keterangan
dari para ulama yang telah membahas dengan teliti masalah ini. Lalu kita
bandingkan konsepsi tentang Allah dengan Tuhan agama-agama lain, seperti
Ahuramazda, Yahweh, Zeus, dan Bal.
Kedua, memahami Islam dengan mempelajari Al-Quran. Orang
harus memahami Al-Quran itu kitab apa; soal-soal apa yang dibahas dan
tekanannya pada apa. Apakah ia membicarakan kehidupan di duma ini lebih
daripada kehidupan di akhirat kelak; apakah ia membahas soal moralitas
individual lebih banyak daripada masalah sosial; apakah ia lebih menekankan
obyek-obyek material daripada obyek-obyek abstrak; apakah ia lebih
memperhatikan alam atau manusia. Pendeknya masaIah-masalah apa saja yang
digarap oleh Al-Quran itu dan bagaimana caranya? Umpamanya, dalam hal
membuktikan eksistensi Tuhan, apakah ia mendorong manusia untuk mengembangkan
jiwanya supaya dapat mengenal-Nya atau apakah ia memerintahkan manusia untuk
mengetahui-Nya dengan perantaraan mempelajari makhluk-Nya, dunia luar dan dunia
manusia sendiri; atau kita akan mengikuti kedua jalan Itu. Setelah menjawab
pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, selanjutnya kita bandingkan Al-Quran
dengan kitab-kitab Suci agama-agama lain, seperti Injil, Taurat, Zabur, Veda,
dan Avesta.
Ketiga, memahami Islam dengan mempelajari pribadi Muhammad bin Abdullah.
Mengenal secara benar pribadi Nabi Muhammad saw. adalah sangat penting bagi
ahli sejarah, karena tidak seorang pun dalam sejarah umat manusia yang
mempunyai peranan begitu besar sebagaimana yang diperankan Nabi Muhammad.
Peranan yang dilakukan oleh Nabi Terakhir dalam menyelesaikan berbagai masalah
yang dihadapi adalah begitu kukuh dan positif. Manakala kita membicarakan
pribadi Nabi, kita bermaksud mempelajari sifat-sifat manusia Nabi dan hubungannya
dengan Tuhan, dengan kekuatan ruhani khusus yang ia peroleh dari hubungan itu.
Dengan perkataan lain, yang menjadi perhatian kita adalah aspek-aspek
kemanusiaan dan aspek-aspek kenabian dari Nabi Muhammad. Umpamanya yang
berhubungan dengan dimensi kemanusiaan Nabi, kita harus mempelajari cara Nabi
berbicara, bekerja, berpikir, tersenyum, duduk, dan tidur. Kita juga harus
mempelajari hubungannya dengan orang asing, dengan musuh-musuhnya, dengan
kawan-kawannya, dan sanak keluarganya. Kita juga harus meneliti kegagalan dan
kemenangan Nabi, dan cara ia menghadapi masalah-masalah sosial yang besar.
Salah satu jalan yang paling pokok dan fundamental
untuk memcari esensi, jiwa dan realitas Islam, adalah mempelajari Nabi Muhamad
dan membandingkannya dengan nabi-nabi pendiri agama lain,seperti Nabi Isa, Nabi
Musa, Zoroaster, dan Budha.
Keempat, meneliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit. Umpamanya,
apakah ia bangkit sebagai Nabi tanpa tindakan-tindakan pendahuluan. Apakah ada
orang yang mengharap-harap akan bangkitnya seorang Nabi. Apakah ia tahu
bagaimana jadinya tugas itu. Atau apakah misinya itu merupakan suatu beban yang
mendadak dan berat terhadap jiwanya. Pikiran luar biasa apa yang mengalir pada
dirinya sedemikian rupa sehingga pertama-tama begitu sulit menanggungnya.
Bagaimana ia menghadapi orang banyak di waktu ia untuk pertama kalinya
menyampaikan dakwahnya. Kepada corak masyarakat yang bagaimana ia menaruh
perhatian yang khusus, dan corak masyarakat yang bagaimana yang ia lawan.
Semua soal tersebut di atas adalah beberapa contoh yang dapat digunakan sebagai
pembantu untuk memahami Nabi Muhammad, dan suasana pada waktu ia pertama kali
menyampaikan ajarannya.
Apabila kita membandingkan situasi dan keadaan ketika
Nabi dibangkitkan dengan situasi dan kondisi para nabi atau pembawa agama
lain, seperti Isa, Ibrahim, Musa, Zoroaster, Konghucu, dan Budha, barangkali
kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: Semua rasul, kecuali
rasul-rasul keturunan Nabi Ibrahim, menggabungkan diri dengan kekuatan duniawi
yang ada dan bekerja sarna dengannya, dengan harapan untuk dapat menyiarkan
agama dan ajaran yang mereka bawa di tengah-tengah masyarakat mereka dengan
perantaraan kekuatan yang ada itu. Sebaliknya, para rasul anak keturunan Nabi
Ibrahim, yaitu sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad saw. memproklamasikan
ajarannya dalam bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap kekuatan duniawi
yang ada. Sejak dari permulaan misinya, Nabi Ibrahim mulai menghancurkan
patung-patung dengan kapaknya; ia gantungkan kapaknya pada berhala yang paling
besar supaya ia dapat menerangkan lebih jelas perlawanannya terhadap semua
bentuk penyembahan berhala pada waktu itu. Tanda permulaan misi Nabi Musa
adalah sewaktu ia menginjak istana Fir'aun di Mesir dalam pakaian gembalanya.
Dengan tongkat di tangannya, ia nyatakan perang terhadap Fir'aunisme atas nama
Monoteisme. Demikian juga Nabi Isa bin Maryam atau Yesus, mereka berjuang
melawan kependetaan Yahudi, karena kependetaan Yahudi bergabung dengan
Imperialisme Rumawii. Adapun Rasuluuah saw., sejak dari permulaan, misinya
dimulai dengan melawan arus aristokrasi, tuan-tuan pemilik budak,
pedagang-pedagang Quraisy, dan tuan-tuan tanah pemilik kebun di Thaif. Di atas
puing-puing masyarakat itu ia berusaha menegakkan suasana masyarakat manusia
yang didasarkan pada tauhid, keadilan, dan kemanusiaan.
Hanya dengan jalan membandingkan dua kelompok Nabi
Ibrahim dan non-Ibrahim saja kita akan terbantu memahami hakikat, jiwa, dan
orientasi macam agama yang dibawa nabi-nabi pembawa agama tersebut di atas.
Kelima, mempelajari dan memahami Islam dengan menjadi orang-orang terkemuka.
Umpamanya, kita pelajari Nabi Harun dalam agama yang dibawa oleh Nabi Musa; St.
Paulus dalam agama yang dibawa oleh Yesus; Khadijah dan Ali dalam agama Islam.
Mereka adalah contoh-contoh yang menonjol dari tiap-tiap agama tersebut.
Hal ini akan membantu kita dalam memahami agama
masing-masing. Mengetahui dengan tepat dan jelas orang-orang itu, menyerupai pemahaman
kita tentang suatu pabrik dengan produk-produknya. Karena, Agama adalah seperti
suatu pabrik yang bekerja untuk memproduksi manusia.
Tentu orang ingat Khadijah, wanita bangsawan yang kaya
yang memberikan cinta dan harta bendanya untuk menegakkan risalah Nabi Muhammad
ini adalah pelipur lara dan penyentak semangat di kala Nabi bimbang dan
was-was, khawatir dan takut dalam menghadapi, menerima dan menunggu-nunggu
wahyu. Inilah, kata Mukti Ali, contoh wanita utama sebagai hasil dari
bimbingan Nabi. Di saat umat Islam dikucilkan dari kehidupan ekonomi dan
sosial, ia pun rela membagi-bagikan hartanya untuk menyelamatkan kelaparan
umat. Adapun Ali bin Abi Thalib, masih menurut Mukti Ali, merupakan tauladan
sejati dalam sikap wira'i (ahli ibadah), zuhud (cinta akhirat,
walau kesempatan meraih dunia ada), keluasan ilmu, pembela orangorang miskin
dan tertindas, prajurit dan perwira pemberani, dan imam yang adil. Orang tentu
kagum akan keberaniannya di kala ia mengganti tempat tidur Nabi (menjelang
hijrah Nabi ke Madinah) saat Nabi terancam untuk dibunuh oleh
prajurit-prajurit pilihan kafir Quraisy. Ketika itulah Ali diminta mengganti
posisi Nabi untuk tidur di tempat tidurnya dan memakai selimut yang biasa
digunakan oleh beliau. Tindakan ini merupakan tindakan yang berisiko kematian
lebih tinggi lagi. Tapi Ali dengan tegak menerima permintaan Nabi itu. Dan selanjutnya
beliau pun pergi berhijrah dengan membawa serta anggota keluarga Nabi. Itulah
Ali, yang tatkala menjadi khalifah, tidak mau berkompromi dengan kelaliman.
Demikian ungkap Mukti Ali.
Sementara Ali Syari'ati mengkaji, selain Ali bin Abi
Thalib, Husain bin Ali dan Abu Dzar Al-Ghifari sebagai teladan-teladan yang
dihasilkan Islam. Prinsip-prinsip Islam yang dipegang teguh kedua tokoh sejarah
ini, perlu dikaji. Begitu juga, kepekaannya terhadap nasib rakyat, serta
kesalehan dan kesediaannya untuk berkorban demi tujuan Islam.
Syari'ati membandingkan antara Husayn bin Ali dengan
Ibnu Sina dan Husain bin Mansur (Al-Hallaj). Menurutnya, Ibnu Sina adalah
seorang pemikir, filosof besar, dan seorang jenius, di samping juga seorang
tokoh ternama dalam sejarah ilmu dan filsafat dalam peradaban Islam. Sayangnya,
Ibnu Sina tidak menunjukkan keprihatinannya terhadap nasib umat dan masyarakatnya.
Sementara Al-Hallaj adalah hanya seorang yang terbakar dalam kecintaannya
kepada Allah; dia terus menerus membenamkan dirinya dalam zikir yang merupakan
sumber keagungan baginya. Tetapi, akibat kegiatan spiritualnya yang berlebihan
itu, ia pun hampir tidak punya pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat.
E. Metode Pembelajaran
Kesempurnaan
Islam tidak berhenti pada teks. Kesempurnaan Islam hanya akan dapat dinikmati
apabila Islam telah benar-benar menapak pada kenyataan kehidupan sehari-hari.
Karena itu pembelajarannya tidak hanya sampai mempertontokan keindahan konsep
Islam sebatas wacana, melainkan harus mecakup pembinaan penalaran,
perenungan-penghayatan, dan pengamalan.
Metode Penalaran
Islam
memiliki paradigma atau cara pandang yang khas tentang berbagai tema dan asepk
seluruh kenyataan dan kehidupan. Tak satu sisi pun daripanya yang tidak
mencapat sinar dari cahaya paradigma Islam. Pembinaan penalaran ini diarahkan
untuk mengembangan wawasan dan cara pandang. Pembinaan tahap ini harus mampu
sampai tahap yakin secara nalar/logika. Kekuatan nalat belum cukup untuk
membentuk pribadi dan mendorong perilaku, sebab keduanya lebih diarahkan oleh
qalbu. Maka selanjutnya memerlukan pengem-bangan perenungan-penghayatan.
Metode
Perenungan dan Penghayatan
Behaviorisme
telah berhasil mencerdaskan manusia secara mengagumkan. Berangkat dari
psikologi yang lebih bersifat empirik dikembangkan teori belajar yang sudah
barang pasti bersifat mekanistis. Manusia dalam pandangan teori ini
diperlakukan sebagai benda pasif ditengah-tengah gempuran stumulus-respon dari
lingkungan; manusia yang telah dilucuti dari hati dan nuraninya. Berdasar
asumsi itulah perilaku dan pribadi manusia dikembangkan.
Sesungguhnya
perilaku manusia tidak hanya dikendalikan oleh nalarnya. Hati (qalbu)
memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk pribadi dan mengarahkan
perilaku, jika tidak dikatakan sebagai faktor paling dominan. Stimulus tentu
saja memberikan rangsangan, tapi sebelum muncul tindakan sebagai respon tentu
saja melalui proses pertimbangan dan pemutusan. Hati inilah yang perlu banyak
diisi supaya respon-respon atas stimulus yang datang itu benar-benar muncul
daripadanya. Bila hati tidak diisi dengan yang sepantasnya hadir di dalamnya,
pasti diisi dengan yang lain.
Oleh
karena itu proses pembelajaran harus mampu mengantarkan kesadaran bertemu
dengan makna esensial atau tujuan tertinggi. Pembelajaran tidak boleh berhenti
pada sekedar transfer informasi tentang berbagi ilmu pengetahuan. Pebelajaran
harus mampu mempertemukan hati dengan sesuatu yang sesungguhnya lebih agung
dari ilmu itu sendiri, lebih besar dari penemu/pengembang teori/ilmu itu
sendiri.
Pembahasan
ajaran Islam seyogyanya diliputi oleh suasana kekaguman dan kekhusyuan kepada
pencipta ajaran. Tak ubahnya saat seseorang sedang membaca surat cinta, sebelum
pesan-pesannya terpahami, kekaguman dan rasa senang kepada pemberi pesan sudah
lebih dahulu memenuhi hati. Jadi pembelajaran agama Islam harus mampu
menumbuhkan rasa kagung kepada ajaran tersebut dan ingin dekat kepada
Pemiliknya. Jika hati sang pengajar tidak diisi dengan hal tersebut sangat
dihawatirkan diisi dengan kebanggaan kepada dirinya sendiri tatkala merasa puas
mampu membuat palajarnya terpukau mendengarkan penjelasannya. Ibn al-Qayim menganalogikan hati
dengan
penggilingan yang terus menerus berputar menggiling. Jika tidak diisi dengan
menggiling gamdum maka tentu menggiling apa saja selain gandum.
Apapun
yang diajarkan, disiplin ilmu apapun materinya, pengajar dan pelajar harus
sampai pada satu suasana psikolgis yang menghayati kebesaran-Nya melalui ilmu
itu. Disiplin ilmu apa pun yang dikembangkan oleh manusia sesungguhnya hanya
merupakan hasil kajian manusia terhadap tatanan alam dan kehidupan yang diatur
oleh Sang Penciptanya (sunnatullah). Inilah yang dimaksud dengan
perenungan-penghayatan.
Kecuali
itu, yang perlu terhayati dalam proses pembelajaran ini adalah keterahan
kepada-Nya, kepada harapan dan ridla-Nya. Keterarahan ini seyogyanya terus
menerus hidup dalam kesadaran pengajar,
Dengan
cara pemberlajaran tersebut, kecuali mengembangkan kecerdasan nalar, hati pun
akan banyak terlatih mendapat cahaya zikir. Jika zikir ini menjadi terbiasa,
maka pribadi dan perilakunya akan lebih terbimbing oleh cahayanya.
Metode
Pengamalan
Orang
yang mengetahui baik dan benar dapat dipastikan jauh lebih banyak jumlahnya
dibanding dengan jumlah orang yang
mengamalkan kebaikan dan kebenaran. Masih ada jarak
yang jauh antara tahu dan amal. Artinya, tahu tidak menjamin adanya amal,
sakalipun amal itu tidak memerlukan tenaga dan gerak yang besar, seperti
perbuatan hati. Apa sulitnya kalau hati ini terus menerus dipenuhi dengan zikir
(mengingat) Allah? Apa sulitnya hanya beberapa menit saja hati ingat kepada
Allah dalam shalat? Ternyata tidak semudah itu. Mengapa?
Q.s. Al-Ma'un mengingatkan, bahwa melakukan
"shalat" atas dasar riya dan tidak berdampak sosial dapat
menjebloskan pelakunya ke neraka. [19] Karena itu dalam Q.s. Al-Ankabut/29: 45 ditegaskan, "Sesungguhnya
shalat itu mencegah perbuatan dosa dan kemunkaran." Bagaimanakah jika ada orang yang rajin
melakukan shalat, tapi rajin juga melakukan perbuatan dosa dan kemunkaran?
Inilah
yang memastikan
bahwa pembelajaran (Islam) itu perlu amal nyata. Pembelajaran agama Islam harus
mampu mendorong amal. Karena itu perlu disertai dengan program-program amal
yang diarahkan untuk pembinaan dan pembiasaan.
Referensi:
Bashir A. Dabla, Dr. Ali Syari`ati
dan Metodologi Pemahaman Islam, terjemahan Bambang Gunawan, dalam
Jurnal Al-Hikmah No.4, Bandung, Yayasan Muthahhari, Rabi` Al-Tsani-Sya`ban
1412/Nopember 1991-Fwbruari 1992.
Ghazali, Imam, Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid I, bab Ilmu
Fardhu ‘Ain. Terjemahan, Semarang, CV Toha Putra.
Hamid Algard, Sosiologi Islam, terjemahan,
1990.
Mahmud Syaltut, Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, terjemahan,
1990.
Mukti Ali, Islam Modern, Bandung, Mizan, 1989.
Taufik Adnan Amal (Penyunting), Neomodernisme Islam
Fazlur Rahman: Metode dan Alternatif, Bandung, Mizan, Cetakan ketiga, 1990.
[1] Syari’ati
menyatakan, bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandegan dan
stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaan di Eropah pada abad-abad
pertengahan adalah metode pemikiran “analogi” Aristoteles. Sejak lahir dua
orang Bacon, Roger Bacon (Inggris, 1214-1294 M.) dan Francis Bacon (Francis,
1561-1626 M.)
yang memperkenalkan metode “ilmiah”, Eropah mengalami renaisans. Roger
Bacon adalah ahli filsafat skolastik. Pada masa sekarang ini beliau selalu
diperingati karena perhatiannya yang besar kepala Ilmu Alam, “eksperimen”, dan
“observasi” langsung; sementara Francis Bacon adalah ahli filsafat dan
negarawan Francis, memiliki saham yang besar dalam pengembangan ilmu
pengetahuan melalui metode “induktif” dari ilmu eksperimental modern. (Mukti
Ali, Islam Modern, Bandung, Mizan, 1989).
Diukur dari kejeniusan, sebenarnya Aristoteles (384-322 8M) jauh lebih
jenius ketimbang Francis Bacon; begitu juga Plato (366-347 SM) jauh Iebih
jenius ketimbang Roger Bacon. Ketidakmampuan kedua orang yang lebih jenius
tersebut dalam mengubah dunia Iebih disebabkan oleh kesalahan "metodologi",
sementara kedua orang Bacon menyajikan metodologi yang benar.
ltulah sebabnya, lanjut
Syari'ati, kita melihat sejarah peradaban Yunani melahirkan banyak jenius
berkumpul dalam satu tempat. Sejarah umat manusia sangat terpengaruh oleh
pemikiran-pemikiran mereka hingga dewasa ini. Tetapi seluruh Athena tidak
sanggup menciptakan roda, sementara dalam Eropa modern seorang teknisi biasa
yang bahkan tidak bisa mernahami tulisan-tulisan Aristoteles dan murid-muridnya
telah menciptakan ratusan karya orisinal. Contoh yang paling baik dalam hal ini
adalah Thomas Alpha Edison (Amerika, 1849-1931), penemu sistem telepon,
telegram, listrik, bioskop bersuara, kereta api listrik, dan masih banyak lagi
yang lainnya. Dalam segi kejeniusan, ia jauh lebih rendah ketimbang murid
peringkat ketiga Aristotdes.
Akan tetapi, dalam waktu yang sarna Edison mampu mengubah dunia ketimbang
Aristoteles sekalipun. (Mukti Ali, 1989:44-45).
* Ali Syari’ati (1933-1977) adalah Sosiolog dan
Cendekiawan muslim Iran yang syahid di Inggris. Buku-bukunya telah
banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
* Mukti Ali adalah ulama dan guru besar IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah menjabat Rektor IAIN dan Menteri Agama RI
dalam Kabinet Pembangunan II.
[2] Aqidah merupakan dimensi Islam yang
berhubungan dengan keimanan. Menurut Syaltut (1990:3-5), 'aqidah pokok
yang perlu dipercayai oleh tiap-tiap Muslim, yang termasuk unsur pertama dari
unsur-unsur keimanan, ialah mempercayai: Wujud (Eksistensi) Allah, nabi
penyampai risalah Allah, malaikat, isi kitab, hari kebangkitan dan pokok-pokok
syariat. Adapun menurut Murtadha Muthahhari menyangkut lima hal, yakni
mengimani: Keesaan Allah (Uluhiyah), Keadilan Allah ('Adalah),
Kenabian (nubuwah) termasuk Kitab Suci yang diterimanya, Imamah (mengimani
adanya Imam-imam sebagai pelanjut Nabi Muhammad Saw., dan Hari Akhir (ma'ad).
[3] Syari’ah merupakan
dimensi Islam yang berhubungan dengan ketentuan hubungan manusia dengan Allah,
saudara seagama, saudara sesama manusia, serta hubungan dengan alam besar
dan kehidupan, Menurut Syaltut (1990), syariah terdiri atas; ibadah (shalat,
zakat, shaum, haji), keluarga dan pusaka (pernikahan, perceraian, poligami,
kedudukan wanita, pusaka), harta dan peredarannya (kedudukan harta, kemerdekaan
ekonomi, perdagangan, riba), hukuman (zina, mencuri, mabuk, membunuh), dan umat
(dasar-dasar kenegaraan, hubungan internasional, akhlak).
[4] Akhlak membicarakan baik-buruknya suatu perbuatan,
baik secara parsial (masing-masing perbuatan) maupun komparatif (memilih satu
dari dua atau beberapa perbuatan yang baik-baik).
[5] Metode doktriner merupakan satu cara
menyampaikan suatu ajaran sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran itu, tanpa
menjelaskan maknanya. Adapun filosofis-doktriner merupakan satu cara
menyampaikan suatu ajaran dengan mengukapkan sisi keunggulan ajarannya tanpa
mengubah isi ajarannya.
* Mahmud Syaltut adalah ulama besar, guru
besar, penah menjadi rektor dan Syaikh (ulama tertinggi) Al-Azhar Kairo (Mesir).
Bukunya banyak beredar di Indonesia.
[8] Asbab al-nuzul adalah ilmu
yang membahas sebab-sebab turunnya suatu ayat Al-Quran ilmu ini sangat penting
1untuk memahami proses pembentukan masyarakat Islam di masa, kenabian, yang
bila dipahami dengan benar dapat ditemukkannya ajaran Islam secara benar. Akan
tetapi, tahap dimana disebutkan oleh Mukti Ali (1989:41-42), Fazlur Rahman
dengan hali-hali dalam mengkaji hadis tentang asbabun-nuzul. la hanya
menerima hadis yang tidal bertentangan dengan akal. Pengertian yang peroleh
dari mempelajari Al-Quran dan hadis dalam konteks sejarahnya itu ditafsirkkan
oleh Rahman dalam perspektif kontemporer. (Taufik Adnan Amal, Penyunting, Neomodernisme
Islam Fazlur Rahman: Metode dan Alternatif, Bandung, Mizan, Cetakan ketiga,
1990).
* Fazlur Rahman
(Pakistan) adalah seorang sarjana, Cendekiawan Muslim, dan Guru besar di
Universitas Chicago Amerika Serikat. Banyak melahirkan Cendekiawan Muslim,
termasuk para Cendekiawan di Indonesia. Buku-bukunya telah banyak yang beredar
di Indonesia.
[9] Bashir A. Dabla, Dr.
Ali Syari`ati dan Metodologi Pemahaman Islam, terjemahan Bambang Gunawan,
dalam Jurnal Al-Hikmah No.4, Bandung, Yayasan Muthahhari, Rabi`
Al-Tsani-Sya`ban 1412/Nopember 1991-Fwbruari 1992.
[11] Untuk memahami Islam, Barat
mengutamakan metode yang biasa digunakan untuk memahami fenomena-fenomena
lainnya. Metode yang dimaksud adalah naturalistik, psikologik dan sosiologis.
[13] Barat hanya mengetahui eksternalitas (segi-segi luar)
dari Islam; sebaliknya, para Ulama kita sudah terbiasa memahami Islam dengan
cara doktriner dan dogmatis, yang sarna sekali tidak dihubungkan dengan
kenyataan-kenyataan yang hidup di masyarakat. Akibatnya, penafsiran mereka
tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. Itulah penyebab timbulnya kesan bahwa
Islam sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan alam pembangunan.
Pendekatan ilmiah-cum-doktriner harus digunakan; scientific-cum
suigeneris harus diterapkan. lnilah yang dimaksud dengan metode
sintetis. (Mukti Ali, 1989:47-48). Senada dengan Syari'ati, Mukti Ali
menyebutkan, bahwa untuk mempelajari hubungan manusia dengan Tuhan, metode
filosofis harus digunakan, karena hubungan manusia dengan Tuhan dibahas dalam
filsafat, dalam arti pemikiran metafisis yang umum dan bebas. Dimensi yang lain
dari Agama Islam adalah masalah kehidupan manusia di bumi ini. Untuk
mempelajari dimensi ini harus dipergunakan metode-metode yang selama ini
dipergunakan dalam ilmu manusia. Lalu Islam juga merupakan suatu agama yang
membentuk suatu masyarakat dan paradaban. Untuk mempelajari dimensi ini, metode
sejarah dan sosiologi harus dipergunakan. Akan tetapi, tidak cukup hingga di
sini. Metode ilmiah tersebut harus digunakan bersamaan dengan metode
"doktriner".
* Mukti Ali adalah ulama dan guru besar IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, pernah menjabat Rektor IAIN dan Menteri Agama RI dalam
Kabinet Pembangunan II.
[16] Farhat Abas
(Politikus Afrika Utara) dalam bukunya yang berjudul The Night Imperialism mengungkapkan
betapa besarnya pengaruh perubahan metodologi. Syeikh Muhammad Abduh datang ke
Afrika Utara dan mengajarkan Tafsir Al-Quran, suatu mata pelajaran yang tidak
biala diajarkan di lingkungan pendidikan Islam pada waktu itu. Farhat Abas
mengangap permulaan kebangkitan dan perkembangan Islam di negeri-negeri Afrika
Utara adalah setelah umat Islam dari para ulamanya di negeri itu menaruh
perhatian yang penuh kepada pengkajian Al-Quran. Sebelum itu, umat Islam di
Afrika Utara mempelajari Islam dari berbagai
cabang Ilmu Agama Islam. (Mukti Ali, 1989 :49-50).
[17] Mas Mansur (Ulama terkemuka, pernah menjadi ketua Perserikatan
Muhammadiyah), ketika mengajar Agama Islam di Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada
tahun 1945, sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaarmya, juga memberikan
Tafsir Al-Quran. Biasanya beliau menulis ayat-ayat Al-Quran di papan tulis,
lalu diuraikan artinya dari segi bahasanya, lalu ditafsirkan dari segi
filsafat, sejarah, hukum, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya, dengan
mengingat kondisi dalam zaman penjajahan akhir fasisme Jepang. Dengan itu,
mahasiswa dapat memahami Al-Quran secara utuh.
[18] Metode tipologi oleh banyak ahli sosiologi dianggap obyektif.
Metode ini menggunakan klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu
dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Pedekatan ini
digunakan oleh sarjana Barat untuk memahami Ilmu-ilmu manusia. Syari’at
memandang metode ini dapat digunakan untuk memahami agama. Dalam hal agama
Islam, juga agama-agama lain, adalah dulakukannya cara mengidentifikasikan lima
aspek atau ciri agama, lalu dihubungkan dengan aspek dan ciri yang sama dari
agama lain.
[19] “Tahukan
kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi
orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai dari shalatnya, yang riya, dan
enggan (menolong dengan) barang berguna." (Terjemah
Q.s. Al-Ma'un/107: 1-7).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar