Menjaga keluarga dari siksa api neraka adalah wajib
hukumnya, sebagaimana disampaikan Allah dalam firman-Nya dalam QS at-Tahrim
ayat 6, yang menjadi pertanyaan barangkali bagaimana caranya kita melakukannya,
tidak lain adalah dengan ilmu. Ilmu dapat membimbing, menuntun kita kepada
jalan yang semestinya kita lalui, dengan ilmu kita terbimbing kepada tujuan
yang kita harapkan yaitu Jannah. Ilmu bak cahaya di kegelapan malam, maka tidak
heran kalau Allah dan Rasul-Nya menyanjung orang-orang yang berilmu di dalam
firman-Nya dan sabdanya.
Untuk memenuhi kebutuhan ini
mestinya kita mengajarkan kepada keluarga kita akan ilmu. Karena itu,
adh-Dhahhak dan Muqatil menafsirkan ayat tersebut di atas, “Wajib bagi setiap
muslim, mengajarkan keluarganya, kerabat dan hamba sahayanya akan apa yang
diwajibkan oleh Allah atas mereka, dan apa yang dilarang-Nya.” Hal senada
dikatakan oleh At-Thabari, “Hendaknya kita mengajari anak-anak dan keluarga
kita masalah agama dan kebaikan, serta apa-apa yang penting dan dibutuhkan
dalam persoalan adab dan akhlak.”
Hidup dan kehidupan adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Demikian pula penciptaan manusia dan seluruh makhluk-Nya yang penuh makna dan nilai di muka bumi ini. Maka hal yang seharusnya kita lakukan adalah berusaha menepati amanah Allah dengan terus berusaha mencintai kebaikan dan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kesungguhan atau mujahadah adalah hal mutlak yang kita butuhkan apabila kita menginginkan kebaikan kehidupan di dunia dan akhirat. Menjaga diri, kemudian keluarga dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam api neraka menjadi suatu hal yang niscaya untuk diperhatikan bersama. Karena ketika seseorang dapat menjaga dirinya dengan baik, dia akan selalu berada dalam hidayah Allah sehingga tidak akan ada yang dapat memberikan mudharat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Maidah : 5)
Begitu pula dengan keluarga, yang
dalam bahasa Arab disebut usroh, secara harfiyah berarti ad-dir‘ul-hashinah,
yaitu benteng yang kuat. Keluarga memang suatu benteng yang kuat yang menjadi
pertahanan manusia dari berbagai gangguan yang dihadapinya dalam kehidupan sosial,
seperti kriminal, material, seksual, dan sebagainya. Keluarga juga dapat
membentengi dan melindungi sekaligus menyelesaikan problem kemanusiaan dari
waktu ke waktu. Sehingga upaya dan ikhtiar maksimal untuk menjadikan rumah kita
sebagai syurga kecil, harus terus kita upayakan. Allah berfirman: “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(At-Tahrim [66] : 6
Sabda Rasulullah SAW: Telah diriwayatkan dari Abbas ra. Berkata, bahwasannya Rasulullah n bersabda, “Takutlah kamu terhadap api neraka meskipun hanya bisa bersedekah dengan sebutir kurma.”
Sayyid Qutb, di antara penjelasan tafsir Fi Zhilaalil Qur‘an-nya tentang surat At-Tahrim ayat enam tersebut adalah bahwa setiap mukmin diwajibkan untuk memberikan petunjuk kepada keluarganya dan memperbaiki seluruh anggota keluarganya, sebagaimana ia diwajibkan terlebih dahulu memperbaiki dirinya.
Islam adalah suatu agama yang mengatur keluarga, maka ia mengatur kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang Islami akan menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang Islami. Seorang ibu harus memiliki pribadi dan prilaku Islami sebagaimana pula seorang ayah harus memiliki pribadi dan prilaku Islami sehingga mereka dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.
Dalam membangun keluarga yang dilandasi iman dan takwa, seorang Muslim harus memandangnya sebagai ibadah kepada Allah dan hanya mengharap keridhaan dan pahala dari Allah SWT. Untuk itu, kedua belah pihak, antara suami dan istri, harus mengetahui dan memahami seluruh persoalan yang berkaitan dengan kehidupan suami istri dalam pandangan Islam, yaitu yang menyangkut hak-hak dan kewajiban masing-masing. Kemudian juga harus bersungguh-sungguh melaksanakan tugas dan kewajibannya, sehingga bangunan keluarga muslim yang dapat memberi tauladan benar-benar terwujud.
Hak seorang istri adalah kewajiban sang suami demikian pula sebaliknya, kewajiban istri merupakan hak suami. Keseimbangan dalam memenuhi hak dan kewajiban di antara keduanya akan menjaga kelangsungan dan keharmonisan keluarga.
Beberapa kiat menjaga keselamatan diri dan keluarga antara lain :
a Membekali anak dan istri dengan pendidikan agama
1. Apabila seseorang hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum istri dan anak-anaknya saja tanpa memberikan pengetahuan agama yang cukup, seolah-olah dia telah membunuh istri dan anak-anaknya dengan cara mencekiknya sehingga sang istri dan anak pun mati karena kehabisan nafas.
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, ”Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu (istri dan anak-anakmu) dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (QS. At Tahrim : 6). Ayat ini menjadi dasar adanya kewajiban pendidikan di dalam keluarga bagi setiap atau suami. Kewajiban ini tidaklah mungkin terlaksana jika tidak dilandasi dengan ilmu, pengamalan dan dakwah.
3. Jangan sampai sang bapak melakukan 3 (tiga) hal berikut ini; Pertama, mengajarkan/memerintahkan/menganjurkan atau minimal memberi isyarat untuk berbuat kemaksiatan kepada istri dan anak-anaknya. Kedua, memberikan contoh dalam berbuat maksiat. Ketiga, diam terhadap kemaksiatan yang dilakukan oleh anak dan istrinya.
b. Mengajarkan akidah yang benar.
Islam adalah agama yang mulia dan mengajarkan semua hal dalam kehidupan kita. Di antara hal yang diajarkan oleh Islam adalah tentang membina keluarga dan kewajiban orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Islam telah mengajarkan bagaimana cara mendidik anak yang benar dan apa yang harus diajarkan kepada anak menurut Al Qur’an dan As Sunnah yaitu dengan akidah. Akidah merupakan hal terpenting yang harus senantiasa diperhatikan oleh orangtua. Karena jika akidah seseorang baik dan kuat maka segi-segi yang lainpun akan menjadi baik.
Kewajiban orang tua untuk mendidik dan membekali anak dengan pendidikan agama berlaku sepanjang hayatnya, tidak akan pernah berhenti hingga anak-anak mereka dewasa dan bertanggung jawab sepenuhnya atas diri mereka sendiri. Hal ini karena kebutuhan manusia terhadap ilmu agama (Islam) itu melebihi kebutuhannya terhadap makanan dan minuman.
c. Tauladan dalam ibadah dan akhlak.
Keteladanan merupakan faktor penting dalam sebuah pendidikan. Baik atau buruknya akhlak seorang anak sangat tergantung dari keletadanan yang diberikan oleh orangtua. Menurut Abdullah Nashih Ulwan, hal ini karena orang tua adalah contoh terbaik dan terdekat dalam pandangan anak, yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya dan tata santunnya, baik disadari ataupun tidak. Bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran orangtua tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan, baik material atau spiritual, diketahui atau tidak diketahui. Betapapun suci dan bersihnya fitrah manusia, betapapun baiknya suatu sistem pendidikan tidak akan mampu mencetak/ membentuk generasi yang baik, tanpa adanya keteladanan dari sang pendidik (orangtua).
Anak akan tumbuh dalam kebaikan, memiliki kemuliaan akhlak, jika kedua orang tuanya memberikan teladan yang baik. Demikian pula sebaliknya, ia akan tumbuh dalam kesesatan, berjalan dalam kekufuran dan kemaksiatan, jika ia melihat kedua orang tuanya memeberikan teladan yang buruk. Tidak mungkin sang anak belajar amanah, kemuliaan, sopan santun, kasih sayang dan sebagainya, jika kedua orang tua memiliki sifat yang berlawanan seperti dusta, kasar, suka mencela, pun sebaliknya.
Pendidikan keteladanan terbaik bagi anak, ialah jika kedua orang tua mampu menghubungkan anaknya dengan keteladanan Rasulullah yang menjadi uswah bagi seluruh ummat manusia.
d. Menumbuhkan nilai-nilai ketakwaan.
Bertakwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketakwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah. Dapat dikatakan, takwa merupakan kualitas kedirian manusia yang mampu mengendalikan manusia dari kecenderungan-kecenderungan yang berlawanan dengan nilai-nilai kebaikan. Dengan ketakwaan itu, manusia selalu berupaya berjalan di atas jalan yang dikehendaki Allah, tunduk secara total kepada perintah-Nya yang diekspresikan dalam bentuk menyebarkan kesejahteraan dan kedamaian bagi sesama dan lingkungannya.
Akhirnya, semoga kita dapat memperbaiki penjagaan diri dan keluarga dari hari ke hari dengan lebih baik lagi, sehingga Allah berkenan mengumpulkan kita di dalam jannah-Nya merengkuh kebahagiaan hakiki, Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar