Hadits-Hadits
“Tidakkah aku ceritakan kepadamu tentang
dosa-dosa yang besar (3x). Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau
bersabda, ‘Yaitu menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua -pada waktu itu
beliau bersandar kemudian duduk, kemudian bersabda- demikian juga persaksian
palsu dan ucapan palsu’. Beliau selalu mengulang-ulangnya sehingga kami
berkata, ‘Andaikan beliau diam’” (HR Bukhari Muslim).
“Beliau bersabda, ‘Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan (7 dosa
besar)’. Mereka berkata, ‘Apa saja, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda,
‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh, memakan riba, makan harta anak yatim,
berpaling dari medan
perang, dan menuduh keji wanita mu’minat baik-baik’” (HR Bukhari
Muslim).
Definisi maksiyat (dosa) dan
pembagiannya
1.
Maksiyat
adalah ketidaktaatan baik mengerjakan hal-hal yang dilarang maupun mengabaikan
perintah.
2.
Maksiayat
meliputi dua bagian, yakni maksiyat yang tergolong dosa besar (kaba’ir)
dan dosa kecil (shogho’ir).
One.
Kaba’ir
adalah setiap dosa yang mengakibatkan hukuman di dunia atau diancam oleh Allah
dengan ancaman yang khusus di akhirat; mendapatkan adzab, laknat dan
kemarah-Nya. Sebagian ulama berpendapat, kaba’ir adalah dosa yang dilakukan seseorang
dengan menganggap enteng dan merasa bangga. Contoh sebagaimana tercantum dalam
hadits di atas.
Two.
Shagha’ir
adalah dosa-dosa yang tidak mengakibatkan hukuman di dunia dan tidak ada
ancaman khusus di akhirat. Sebagian ulama berpendapat, shagha’ir adalah dosa
yang ditimbulkan oleh kelalaian dan pelakunya senantiasa menyesal sehingga
mengurangi rasa nikmatnya bermaksiyat. “Diriwayatkan Abu Hurairah
bahwa Nabi saw. bersabda, ‘Telah ditetapkan atas manusia bagiannya dari zina
yang pasti dilakukannya: zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga
mendengar, zina lisan adalah berkata, zinanya tangan meraba, zinanya kaki
melangkah, sedangkan zinanya hati adalah menginginkan dan berangan-angan,
kermudian farjilah yang membenarkan atau mendustakannya’” (HR Muslim).
Diriwayatkan oleh Umar ibnu Abbas dan lainnya, mereka berkata,
“Tidak ada dosa besar bila disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil bila
dilakukan terus-menerus”.
Sikap Muslim terhadap dosa adalah sebagaimana diungkapkan oleh
Abdullah ibnu Mas’ud, “Seorang mu’min melihat dosanya seolah-olah ia berada
pada kaki gunung yang akan runtuh menimpanya, sedangkan orang durhaka (al-fajr)
melihat dosanya sebagimana lalat hinggap pada hidungnya, kemudian ia
menghalaunnya.”
Enam macam dosa besar di antara dosa-dosa besar
1.
Syirik
(menyekutukan Allah)
Syirik adalah
menyamakan Allah dengan yang lain dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya.
Syirik dapat
digolongkan menjadi dua macam: syirik besar (asy-syirku al-akbar) dan
syirik kecil (asy-syirku al-asghar).
Syririk Besar
Syirik akbar
adalah syirik dalam beribadah dengan menjadikan tuhan-tuhan selain Allah. Allah
berfirman,
“Maha suci Allah
yang telah menurunkan al-furqan kepada hanba-Nya agar dia menjadi peringatan
bagi seluruh alam yang bagi-Nya kerajaan langit dan bumi dan Dia tidak beranak
dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia telah menciptakan
segala sesuatu, dan Dialah yang menetapkan ukuran-ukurannya denan
serapi-rapinya. Kemudian mereka menjadikan tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah),
yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka itu diciptakan dan
tidak mampu menolak kemadlartan dari dirinya dan tidak mampu megambil
kemanfaatan untuk dirinya, dan tidak kuasa mamatikan, menghidupkan, dan tidak
pula mampu membangkitkan” (QS Al-Furqan/25:1-3).
Fenomena syirik ibadah ini bisa dilihat, antara lain;
One.
Pemujaan
dan do’a pada selain Allah seperti jin, berhala, taghut. Allah menjelaskan
perilaku mereka dalam firman-Nya,
“Maka
apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan
ibadah kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka ke daratan,
tiba-tiba mereka kembali menyekutukan-Nya” (QS Al-Ankabut/29:65).
Two.
Hidup
tanpa tujuan dan merasa tenang, tenteram, dan ridla dengan kehidupan dunia,
tanpa mengingat akhirat sedikitpun.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orsang-orang yang tidak mengharapkan
(tidak percaya) petemuan dengn Kami dan merasa puas denan kehidupan dunia serta
merasa tenteran dengan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka
itu tempatnya adalah neraka disaebabkan ulan mereka”. (QS
Yunus/10:7-8). “Allah menjelaskan perilaku orang-orang kafir, bahwa mereka
itu berdsenang-senang di dunia da\n mereka makan seperti makannya binatang
ternak dan neraka adalah tempat tinggal mereka” (QS Muhammad/47:12).
Bahkan mereka berkata, ‘Apakah kami
setelah mati dan setelah menjadi tanah kami akan dibangkitkan lagi? Itu adalah
pengembalian yang tidak mungkin’” (QS Qaaf/50:3).
Three.
Ketaatan
secara mutlak kepada selain Allah. Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang
alim dan rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS-Taubah/3:31).
Diriwayatkan, ketika Adi bin Hathib r.a. mendengarkan
Rasulullah saw. membaca ayat di atas, ia berkata, “Wahai rasulullah, kami
dahulu tidak pernah menyembah mereka”. Kemudian Nabi saw, bersabda, “Bukankah
mereka menghalalkan untukmu apa yang diharamkan oleh Allah kemudian kamu
menghalalkannya, dan mereka mengharamkan untukmu apa yang dihahalkan oleh Allah
kemudian kamu mengharamkannya?” Ia menjawab, “Memang ya”. Rasulullah bersabda,
“Yang demikian itu berarti menyembah mereka” (HR Tirmidzi).
Four.
Menjadikan
tandingan-tandingan untuk Allah dengan mencintainya melebihi kecintaannya
kepada Allah. “Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandisngan
selain Allah, merka mencintainya sebagimana mereka mencintai Allah” (QS
Al-Baqarah/2:165). Saebagian ulama menjelaskan andaad
(tandingan-tandingan) adalah apa saja yang bisa mencabut dari Islam, seperi
harta, pangkat, keluarga, dll. (Lihat juga QS At-Taubah/9: 24).
Akibat Syirik Besar
Syirik adalah kedzaliman yang paling besar, karena yang didzalimi
adalah Allah SWT. (QS Luqman/31:13). Akibat syirik sangat besar, yakni
1.
Tidak
diampuni Allah SWT. “Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan
Dia” (QS An-Nuisa/4:116).
2.
Haram
masuk surga. “ Sesungguhnya barang siapa yang menyekutukan Allah maka Allah
mengharamkannya masuk surga, dan tempat kembalinya adalah neraka” (QS
Al-Maidah/5:72).
3.
Terhapusnya
semua amal. “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi
sebelum kamu, ‘Jika kamu menyekutukan Allah, niscaya akan hapuslah seluruh
amalmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS
Az-Zumar/39:65).
4.
Halal darah dan hartanya. (Hadits Arbain ..............)
Syirik Kecil
Adapun syirik
kecil yang bersifat batiniyah seperti riak (memperlihatkan amal), sum’ah
(memperdengarkan amal), dan yang bersifat lahiriah anatara lain bersumpah
dengan selain Allah, mengatakan ‘Jika dikehendaki oleh Allah dan kamu’, memakai
jimat. Syirik kecil walaupun tidak menghilangkan keimanan seseorang, tetapi
dapat amenggerogotinya sehingga semakin lama semakin berkurang tanpa disadari.
Rasulullah bersabda, “Barang
siapa beramal dengan menyekutukan Aku di dalamnya, maka amal itu diperuntukkan
bagi sesuatu yang disekutukan dengan Aku, sedangkan Aku berlepas dirinya.” (HR Muslim).
1.
S i
h i r
Sihir adalah mengungkap sesuatu yang sebabnya samar dan tersembunyi
sehingga seolah-seolah mengetahui yang ghaib. Para
ahli sihir mengungkapkannya dengan meminta bantuan jin (ruh-ruh jahat dan
syaithan). Mereka mendatangkan jin untuk dimintai petunjuk dan pertolongan.
Allah berfirman’
“Dan bahwasannya
ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan pada beberapa jin.
Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS Al-Jin/72/:6).
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemukan sihir, misalnya,
perdukunan (kahanah), peramalan (‘arrafah), mantera-mantera (ruqyah yang
terlarang), santet, pelet, sulap dan akrobat (telepati), jailangkung, dll.
Hukum sihir. Sihir termasuk syirik terhadap rubbubiyah Allah, karena
mengaku-aku mengetahui yang ghaib, padahal yang mengetahui hal-hal yang ghaib
itu hanya Allah saja. Di sisi lain, sihir juga termasuk syirik terhadap
uluhiyatullah., karena mengabdi kepada jin dengan amalan-amalan tertentu.
Nabi bersabda, “Sesungguhnya mantera, jimat-jimat dan tiwalah adalah
syirik” (HR Imam Ahmad). Tiwalah adalah sejenis sihir yang digunakan untuk
membuat seorang wanita mencintai suaminya.
Allah mengungkapkan sihir dengan kata ‘kufur’ dalam firman-Nya,
“Dan mereka,
orang-orang Yahudi dan ahli kitab mengikuti apa-apa yang dibaca oleh syetan
pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu
mengerjakan sihir), pada hal Sulaiman tidak kufur (mengerjakan sihir), tetapi
syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir
itu kepada manusia’ (QS Al-Baqarah/2:102).
Ungkapan ‘kufur’ dalam ayat di atas bertujuan untuk membuat manusia
menjahui dan membenci sihir, dan menjelaskan bahwa sihir termasuk dosa besar.
Hukuman bagi para tukang sihir adalah dibunuh jika diketahui bahwa
ia tukang sihir sebagaimana yang ditetapkan Umar bin Khaththab r.a. pada masa
kekhalifahannya, “Hendaknya kalian membunuh tukang-tukang sihir baik laki-laki
maupun perempuan”.
Tentang orang-orang yang datang pada tukang sihir, Rasulullah saw.
bersabda, “Tiga orang yang tidak masuk surga, yaitu peminum khamr, pemutus
silaturrahim, dan orang yang
memebenarkan sihir” (HR Imam Ahmad).
Dalam kenyataan, orang-orang yang menggunakan sihir tidak pernah
mendapatkan kemenangan dan keberhasilan. Firman Allah, “Dan tidak akan menang
para tukang sihir itu dari mana ia datang” (QS Thaha/20:69).
2.
Durhaka
Kepada Orang Tua
Allah berfirman,
“Dan kami perintahkan kepada
manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang yang
berlipat-lipat dan menyapihnya dalam dua tahun. Besyukurlah kepada-Ku dan
kepada kedua orang tuamu. Hanya kepadak-Kulah tempat kembali” (QS
Luqman/31:14).
Dalam ayat ini Allah merangkaikan bersyukur kepada kedua orang tua
dengan bersyukur kepada Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik
kepada kedua orang tua. Abdullah ibnu Abbas berkata, “Ada tiga ayat dalam
Al-Qur’an yang merangkaikan satu perintah dengan perintah yang lain, yang tidak
diterima tampa mengamalkan rangkaian tersebut, yaitu (1) ayat ‘taati Allah dan
taatilah Rasul’, Barang siapa yang mentaati Allah tetapi tidak mentaati Rasul,
maka tidak diterima; (2) ‘Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat’. Barang siapa
yang menjalankan shalat tetapi tidak menjalankan zakat, maka tidak akan
diterima; dan (3) ‘Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu’.
Barang siapa yang bersyukur kepada Allah tetapi tidak bersyukur kepada orang
tua, maka tidak akan diterima’”.
Rasulullah saw. bersabda, “Ridla Allah terletak pada
ridla kedua orang tua, dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan kedua orang
tua” (HR Tirmidzi).
“Tidak akan masuk
surga orang yang durhaka kepada orang
tua, orang mengungkit-ungkit, dan peminum khamr” (HR Bukhari Muslim).
“Allah melaknat
orang yang mengumpat bapaknya, Allah mencaci orang yang mengumpat ibunya’ (HR Ibnu Hibban).
“Semua dosa
diakhirkan balannya oleh Allah apa yang Ia kehendakisampai hari kiamat kecuali
durhaka kepada orang tua. Saesungguhnya Allah menyegerakan siksaan orang yang
durhaka kepada kedua orang tua di dunia” (HR Hakim).
“Tiga do’a yang
selalu dikabulkan, yaitu do’anya orang yang teraniaya, do’anya orang yang
sedang bepergian, dan do’a (buruk) orang
tua atas anaknya” (HR Tirmidzi).
Said Hawwa rahimahullah berkomentar dalam kitabnya, Jundullah,
“Kita sekarang hidup dalam satu generasi yang mendurhakai bapak ibunya dan
lebih mendahulukan/mengutamakan berbuat baik pada teman dan isterinya. Ini
adalah sikap dan pemahaman yang terbalik. Seorang muslim adalah tuan bagi
isterinya, sedangkan orang tuanya adalah tuan baginya (seorang muslim) sehingga
kedua orang tua itu tuan bagi isterinya. Dengan demikian jika ia menjadikan
kedua orang tuanya harus mengikuti kehendak isterinya, maka ia telah memutar
balik ajaran agamanya. Demikian juga dengan temannya”.
Hak ibu untuk dihurmati lebih besar daripada ayah, karena ibu lebih
berat menanggung penderitaan sejak mengandung hingga mengasuh anaknya.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits, ada seorang datang kepada Rasulullah saw.
lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakan manusia yang paling berhak saya
pergaulidengan baik?’ Belia amenjawab, ‘Ibumu’. Ia bertanya lagi, ‘Kemudian
siapa’. Belioau menjawab, ‘Ibumu’. Ia abertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Belioau
menjawab, ‘Ibumu’. Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian bapakmu’
(HR Bukhari Muslim).
Dalam kisah disebutkan bahwa Al-Qomah menjelang wafatnya, lisannya
terkunci, tidak mampu melafalkan laa ilaah illallah. Setelah diselidiki,
ternyata ibunya yang telah tua tidak meridlainya. Kemudian ketika ibunya
berhasil dibujuk dan memaafkan Al-Qomah, maka lancarlah ia mengucapkan laa
ilaaha illallah dan akhirnya meninggal dunia dengan tenang.
Contoh lain durhaka terhadap orang tua adalah tidak mengajak
musyawarah dalam urusan rumah tangga, tidak mendahulukan mereka dalam
pemberian, menyia-nyiakan keduanya khususnya di masa tuanya, tidak mengikuti
keinginannya yang baik, selalu memprotes dengan keras, dll.
3.
Lari
dari Medan
Perang (Desersi)
Allah berfirman,
“Wahai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang
sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang
siapa yang membelakangi mereka di waktu itu kecuali berbelok untuk siasat
perang, atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, mak
sesungguhnya ia kem,bali dengan membawa kemurlkaan Allah, dan tempatnya adalah
neraka jahanam dan amat buruklah tempat kembalinya”
(QS
Al-Anfal/8:15-16).
Dari ayat di atas dapat diambil beberapa
ibrah sebagai berikut:
One.
Seorang
mu’min yang berjihad di jalan Allah wajib menanggung penderitaan karena
sebenarnya umur ada di tangan Allah.
Two.
Lari dari medan tempur merupakan
dosa besar karena dapat mendatangkan bahaya bagi tentara Islam dan kaum
muslimin. Rasulullah besabda, “Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan...”
yang salah satunya adalah lari dari medan
perang.
Three.
Boleh lari
dari medan
perang jika merupakan strategi untuk mengecoh musuh, bergabung dengan pasukan
lain, dan dalam keadaan darurat.
Four.
Pertolongan
ada di tangan Allah, maka wajib bagi setiap mu’min untuk bertawakkan kepada
Allah setelah melakukan usaha yang maksimal.
1.
Persaksian
Palsu
Allah dan
rasul-Nya mensejajarkan persaksian palsu dengan syirik. Allah berfirman, “Maka
jauhilah oplehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta”
(QS Al-Hajj/22:30).
Dan dalam
hadits,
Rasulullah
bersabda, “Pada hari kiamat, tidak akan bergeser kedua kaki orang yang bersaksi
palsu sehingga wajib baginya neraka” (HR Ibnu Majjah dan Hakim).
Orang yang
bersaksi palsu berarti telah melakukan beberapa dosa besar sekaligus:
One.
Dosa
menipu, Rasulullah bersabda, “Seorang mu’min bisa diberi watak apa saja kecuali
khiyanat dan dusta” (HR Al-Bazar dan Abu Ya’la).
Two.
Dosa
berbuat aniaya kepada orang yang mendapatkan hukuman karena persaksian
palsunya, sehingga ada seseorang yang diambil hartanya, direndahkan
martabatnya, dan dihilangkan nyawanya tanpa haq.
Three.
Dosa
berbuat aniaya kepada seseorang yang
mendapatkan keuntungan karena kesaksian palsunya, sehingga orang tersebut masuk
neraka. Raulullah bersabda. “Barang siapa yang mendapatkan harta saudaranya
tanpa haq, karena keputusan saya, maka hendaknya jangan ia mengambilnya, karena
aku memberikan kepadanya sepotong api neraka’ (Muttafaq ‘alaih).
Four.
Dosa
menghalalkan apa-apa yang diharamkan dan dijaga oleh Allah, baik berupa harta,
harga diri maupun darah.
Maraji’
1.
Az-zahabi,
Al-Kaba’ir.
2.
Ali
Ash-Shabuni, Tafsir Ahkam.
3.
Fauzan, At-tauhid.
4.
Said
Hawwa, Jundullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar