Selasa, 15 November 2016

Makalah Manusia dan Agama



MANUSIA DAN AGAMA 

I.       Beragama sebagai Kebutuhan Fitri

Manusia terdiri dari dimensi fisik dan non-fisik yang bersifat potensial. Dimensi non-fisik ini terdiri dari berbagai domein rohaniyyah yang saling berkaitan, yaitu jiwa (psyche), fikiran (ratio), dan rasa (sense). Yang dimaksud dengan rasa di sini adalah kesadaran manusia akan kepatutan (sense of ethic), keindahan (sense of aesthetic), dan kebertuhanan (sense of theistic).
Rasa kebertuhanan (sense of theistic) adalah perasaan pada diri seseorang yang menimbulkan keyakinan akan adanya sesuatu yang maha kuasa di luar dirinya (transcendence) yang menentukan segala nasib yang ada. Perasaan ini mendorongnya pada keyakinan akan adanya Tuhan atau sesuatu yang perlu dipertuhankan yang menentukan segala gerak kehidupan di alam ini.
Keyakinan akan adanya Tuhan dicapai oleh manusia melalui tiga pendekatan, yaitu :
1.    Material experience of humanity. Argumen membuktikan adanya Tuhan melalui kajian terhadap fenomena alam semesta.
2.    Inner experience of humanity. Argumen membuktikan adanya Tuhan melalui kesadaran bathiniyyah dirinya.
3.    Spiritual experience of humanity. Argumen membuktikan Tuhan didasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh Tuhan melalui utusannya.
Keyakinan akan adanya Tuhan ini menimbulkan suatu kecenderungan pada manusia untuk berhubungan dengan-Nya dan kerinduan untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan-Nya. Oleh karena itu, manusia membutuhkan suatu sarana yang dapat menyalurkan kecenderungan dan kerinduan ini. Dalam hal ini, agama merupakan sarana yang paling representatif untuk kepentingan ini. Dalam menyalurkan dan mengembangkan fitrah keberagamaan ini, manusia secara individual mengadopsi salah satu agama yang telah terlembagakan, baik melalui proses pewarisan orang tua atau pilihan sendiri secara sadar. Meskipun demikian, ada juga segolongan manusia yang membunuh fitrah keagamaan ini dengan menolak segala ajaran agama dan menafikan adanya Tuhan.

II.    Pengertian Agama dan Asal-Usul Agama

Agama adalah suatu sistem ajaran tentang Tuhan, di mana penganut-penganutnya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral, atau sosial atas dasar aturan-aturan-Nya. Oleh karena itu, umumnya suatu agama mencakup aspek-aspek sebagai berikut :
1.  Aspek kredial, yaitu ajaran tentang doktrin-doktrin ketuhanan yang harus diyakini.
2.  Aspek ritual, yaitu ajaran tentang tata-cara berhubungan dengan Tuhan, untuk minta perlindungan dan pertolongan-Nya atau untuk menunjukkan kesetiaan dan penghambaan.
3.  Aspel moral, yaitu ajaran tentang aturan berperilaku dan bertindak yang benar dan baik bagi individu dalam kehidupan.
4.  Aspek sosial, yaitu ajaran tentang aturan hidup bermasyarakat.
Dalam keempat aspek ini, tiap-tiap agama memiliki penekanan yang berbeda-beda.
Melihat asal-usul terbentuk dan berkembangnya suatu agama sebagai sebuah lembaga kepercayaan dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu :
1.  Agama yang muncul dan berkembang dari perkembangan budaya suatu masyarakat. Pada awalnya seringkali muncul sebagai reaksi pada lingkungan alam tempat sekelompok manusia hidup. Pada agama sejenis ini, sistem kepercayaan serta ritus-ritus dan aturan-aturan perilaku seringkali terkait dengan keadaan lingkungan alamnya, seperti pemujaan terhadap gunung yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya Tuhan. Agama sejenis ini dapat disebut dengan Agama Budaya atau Agama Bumi (dalam bahasa Arab disebut Ardli), seperti Hindu, Shinto, atau agama-agama primitif dan tradisional.
2.  Agama yang disampaikan oleh orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan. Oleh karena itu, mereka mengklaim bahwa ajaran-ajaran yang mereka sebarkan berasal dari Tuhan. Dalam agama ini, pendiri (penyebar pertama) agama tidak menjadi sentral ajaran, tapi hanya berfungsi sebagai penyampai kepada ummat manusia. Agama sejenis ini disebut agama wahyu atau agama langit (dalam bahasa Arab langit disebut samawi), yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam.
3.  Agama yang berkembang dari pemikiran seorang filosof besar. Dia tidak mengaku dan mengklaim bahwa dirinya mendapatkan wahyu dari Tuhan, tetapi dia memiliki pemikiran-pemikiran yang mengagumkan tentang konsep-konsep kehidupan sehingga banyak orang yang mengikuti pandangan hidupnya dan kemudian melembaga sehingga menjadi kepercayaan dan ideologi bersama suatu masyarakat. Agama semacam ini dapat dinamakan sebagai agama filsafat. Dalam kelompok ini dapat dimasukkan agama-agama seperti Konfusianisme (Konghucu), Taoisme, Zoroaster atau Budha.

C. Agama-Agama Besar di Dunia
Di antara sekian banyak agama-agama yang ada di permukaan bumi, ada beberapa agama yang dianggap besar karena banyak penganutnya dan sistematis ajaran-ajarannya, yaitu: Agama Kristen, Agama Katolik, Agama Islam, Agama Hindu, Agama Budha, Agama Kong Hu Chu, Agama Shinto, Agama Yahudi, Agama Zoroaster, dll.
Di antara agama-agama tersebut ada yang bersifat kebangsaan (nasional) dan ada yang bersifat mendunia (mondial). Yang bersifat kebangsaan adalah agama yang identik dengan suatu bangsa atau ras tertentu dan bangsa penganutnya mengklaim bahwa agama tersebut sebagai miliknya saja, sedangkan bangsa atau ras lain tidak harus menjadi pengikut dan penganutnya, seperti Yahudi bagi bangsa Yahudi dan Hindu bagi bangsa India atau Kong Hu Chu bagi bangsa Cina, Shinto bagi orang Jepang. Sedangkan agama mondial adalah agama yang mengklaim sebagai agama untuk seluruh bangsa. Oleh karena itu, ajaran-ajarannya disebarkan kepada seluruh bangsa di dunia. Agama sejenis ini disebut agama mesianis, seperti agama Islam, agama Kristen dan Budha.

II. ISLAM AGAMA DARI TUHAN
 A. Islam sebagai Agama Fitrah
      Allah berfirman dalam Al-Quran yang terjemahannya:
“Maka hadapkanlah arah hidupmu secara lurus pada ajaran agama ini (Islam). Agama yang selaras dengan fitrah manusia yang telah ditetapkan padanya sejak awal penciptaan”. (Ar-Rum : 30).
Islam adalah suatu sistem ajaran ketuhanan yang berasal dari Allah swt. diturunkan kepada ummat manusia dengan wahyu melalui perantaraan Nabi Muhammad saw. Sebagai agama yang datang dari Tuhan yang menciptakan manusia sudah tentu ajaran Islam akan selaras dengan fitrah kejadian manusia. Fitrah dalam arti pembawaan asal manusia secara umum sejak kelahiran (bahkan sejak awal penciptaan) dengan segala karakteristiknya yang masih bersifat potensial atau masih berupa kekuatan tersembunyi yang masih perlu dikembangkan dan diarahkan oleh ihtiar manusia baik fitrah yang berkaitan dengan dimensi fisik atau non fisik, yaitu akal, nafsu, perasaan dan kesadaran (qalb), dan ruh.
Berbicara masalah keselarasan ajaran Islam dengan fitrah kemanusiaan tidak berarti bahwa ajaran Islam selalu mewadahi dan mengakomodasi kecenderungan-kecenderungan yang dibawa oleh sifat dari setiap unsur fitrah tersebut. Hal ini karena setiap unsur dari fitrah memiliki karakter dan kecenderungan yang berbeda (kearah yang positif, negatif atau netral). Oleh karena itu, Islam mengarahkan fitrah-fitrah ini kepada hal-hal yang konstruktif bagi kehidupan manusia, baik individual ataupun komunal tanpa membunuh potensi yang dimiliki oleh setiap jenis fitrah tersebut. Dengan arahan ajaran Islam, fitrah kemanusiaan akan membawa manusia ke arah kebaikan baik bagi dirinya atau yang lainnya, baik kebaikan personal atau kebaikan komunal.
Sebagai misal, akal sebagai instrumen untuk berfikir sangat penting dan menentukan bagi hidup manusia tetapi dalam mengembangkan kemampuan akal manusia memiliki kecenderungan malas dan kurang minat. Oleh karena itu, ajaran Islam mendorong manusia agar mau berfikir dan mengembangkan kemampuannya serta mengaktifkannya sehingga terus hidup dan terus bekerja. Meskipun demikian, akal manusia memiliki sifat liar tak terkendali. Ajaran Islam membimbing manusia ke arah mana manusia harus berfikir.
Nafsu adalah unsur pendorong gerak pada manusia sehingga manusia menjadi dinamik, tanpa nafsu hidup manusia akan statis. Tapi bersamaan dengan itu, nafsu memiliki potensi membawa manusia pada akibat buruk bagi kehidupan apabila tidak dikendalikan. Oleh karena itu, ajaran Islam mengendalikan arah perkembangan nafsu ini, tanpa membunuhnya, dan dalam batas tertentu mengeremnya agar tidak menjerumuskan manusia pada kebinasaan.
B. Nama, Pengertian dan Misi ISLAM
1.      Nama Agama : ISLAM
Allah berfirman dalam Al-Quran yang terjemahannya”
Pada hari ini Aku lengkapkan agamamu dan Aku sempurnakan nikmatKu atasmu dan Aku ridla Islam sebagai agamamu” (Al-Maidah:3)
ISLAM adalah nama yang ditetapkan Allah swt. secara eksplisit di dalam Al-Qur’an untuk sistem ajaran ketuhanan yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw. kepada ummat manusia. Oleh sebab itu, Islam sebagai suatu sistem ajaran tidak boleh disebut dengan sebutan lain, baik dinisbatkan kepada nabi pembawanya seperti MOHAMEDANISM atau kepada bangsa pemeluknya, misalnya Arabism, karena Islam adalah sistem ajaran yang berasal dari Allah. Islam adalah sistem ajaran bagi seluruh ummat manusia di dunia, bukan untuk bangsa atau ras dan suku bangsa tertentu saja.
Orang yang menganut, memeluk dan mengikuti ajaran Islam disebut MUSLIM. Setelah menjadi seorang muslim, seseorang tidak boleh lagi disebut KAFIR dan diperlakukan seperti orang kafir.  Sabda Nabi saw. “Barangsiapa mengkafirkan seorang muslim (penganut Islam), ia sendiri telah kafir”
2.      Pengertian ISLAM
Islam secara etimologis (lughawy) berasal dari tiga akar kata :
a.       salaam yang artinya damai atau kedamaian,
b.      salaamah yang artinya keselamatan,
c.       aslama yang artinya berserah diri atau tunduk patuh.
Oleh karena itu, melihat akar katanya kata ISLAM dapat mengandung makna-makna sebagai berikut :
a.       Memasuki kedamaian dan menciptakan rasa damai dalam kehidupan.
b.      Menemukan keselamatan atau terbebas dari bencana, baik bencana hidup di dunia atau bencana hidup di akhirat.
c.       Berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang telah ditetapkan oleh Allah swt.
Secara terminologis (istilah), ISLAM adalah satu sistem ajaran ketuhanan (agama) yang berasal dari Allah swt. yang disampaikan kepada ummat manusia melalui risalah yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, sebutan ISLAM sebagai nama suatu agama, hanya berlaku secara eksklusif untuk agama yang dianut oleh pengikut Nabi Muhammad saw.
3.      Misi Agama Islam
Selaras dengan arti dan makna etimologisnya, Agama Islam melalui semua ajaran-ajaran yang disampaikannya mengandung tiga misi, yaitu :
a.       Mengajar manusia untuk tunduk patuh (aslama) pada aturan-aturan Allah (submission to the will of God) dalam menjalani kehidupannya di dunia.
b.      Membimbing manusia untuk menemukan kedamaian dan dalam menciptakan kedamaian.
c.       Memberikan jaminan kepada manusia untuk mendapatkan keselamatan dan terbebas dari bencana hidup baik di dunia atau di akhirat.
Sekalipun sebutan Islam sebagai nama agama, hanya berlaku secara eksklusif bagi sistem ajaran ketuhanan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw., namun misi dari ajaran Islam seperti disebutkan di atas ini adalah juga misi dari ajaran ketuhanan yang telah disampaikan oleh para nabi dan rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, semua ajaran Allah bagi ummat manusia yang disampaikan oleh semua nabi atau rasul, pada hakekatnya adalah Islam juga (sekalipun tidak disebut dengan nama Islam). Dengan demikian, para nabi atau rasul dalam Al-Qur’an menyebut dirinya muslim dan menyuruh ummatnya agar manjadi muslim sampai mati. Allah berfirman dalam Al-Quran yang terjemahnya:
Dan Ibrahim berwasiat dengannya (yaitu dengan Islam), dan juga Ya`kub: “Wahai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilihkan untukmu suatu agama (yang benar), maka janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan muslim (dalam tunduk patuh pada ajaran Allah)”. (Q.S. Al-Baqarah: 132)                     
C. Islam sebagai Hidayah  (Petunjuk)  dalam Kehidupan
            Allah swt. berfirman yang terjemahannya
Nanti akan Aku berikan kepadamu petunjuk (dalam menempuh kehidupan). Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tersebut, niscaya mereka tidak akan ditimpa rasa khawatir dan takut (dalam kehidupan) dan tidak akan bersedih hati  (Q.S.  Al-Baqarah : 38).
1.       Hidayah  Allah untuk Manusia
Hidayah secara etimologis berarti “petunjuk” dan secara terminologis (istilah) Islam berarti “petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada Makhluk hidup agar mereka sanggup menghadapi tantangan kehidupan dan menemukan solusi (pemecahan) bagi persoalan hidup yang dihadapinya”. Oleh karena itu, hidayah merupakah alat bantu yang diberikan oleh Allah kepada makhluk hidup untuk mempermudah menjalani kehidupannya
Ada empat tingkat hidayah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu:
a.       Hidayah ghariziyyah (bersifat instinktif), disebut juga hidayah fitriyyah, yaitu petunjuk untuk kehidupan yang diberikan oleh Allah swt. bersamaan dengan kelahiran berupa kemampuan jadi dalam menghadapi kehidupan sehingga sanggup untuk survive (bertahan hidup).
b.      Hidayah hissiyyah (bersifat indrawi), yaitu petunjuk berupa kemampuan indra dalam menangkap citra lingkungan hidup sehingga ia dapat menentukan lingkungan mana yang sesuai dengannya (kemampuan adaptif) sehingga menemukan kenyamanan dalam menjalani kehidupan (secara fisikal).
Hidayah ke satu dan ke dua ini diberikan juga kepada binatang dengan fungsi yang sama. Dalam tahap tertentu dan pada jenis tertentu, bahkan binatang mendapatkan hidayah lebih tinggi, dalam arti kemampuan indrawi binatang tersebut lebih mumpuni dari kemampuan indrawi manusia.
c.       Hidayah aqliyyah (bersifat intelektual), yaitu petunjuk yang diberikan Allah berupa kemampuan berfikir, yaitu mengolah segala informasi yang ditangkap melalui indra. Dengan kemampuan ini manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga dapat memanipulasi dan merekayasa lingkungan untuk menciptakan kemudahan, kesejahteraan dan kenyamanan hidupnya.
d.      Hidayah diniyyah (berupa ajaran agama), yaitu petunjuk yang diberikan Allah swt. berupa ajaran-ajaran praktis untuk diterapkan dalam meniti kehidupan secara individual dan menata kehidupan secara komunal sehingga manusia mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan hakiki dan ketenangan batin dalam menjalani kehidupannya.
Hidayah ketiga dan keempat ini hanya diberikan kepada manusia. Dengan kedua jenis hidayah inilah manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Dengan hidayah aqliy (kemampuan intelektual) manusia berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan binatang (demikian pula dengan jin dan malaikat). Dan dengan hidayah diniyyah (petunjuk agama), manusia dapat mencapai ke tingkat yang lebih tinggi dari malaikat sekalipun.
Hidayah-hidayah ini  merupakan alat bantu bagi manusia untuk mempermudah menjalani kehidupan sehingga diperoleh kemampuan melanjutkan kehidupan (survival), keluasan, kepuasan (comfort) dan kenikmatan lahir bathin dalam kehidupan.
Bagi manusia, hidayah ghariziyyah (instinktif) merupakan alat bantu sementara, hidayah hissiyyah (indrawi) merupakan alat bantu mediatif (antara), hidayah aqliyyah (intelektual) merupakan alat bantu pengembangan, hidayah diniyyah (agama) merupakan alat bantu penyempurnaan, yaitu mencapai kebahagiaan hakiki.
2.      ISLAM, Satu-satunya Hidayah Agama dari Allah swt.
Untuk membimbing manusia dalam meniti dan menata kehidupan, Allah menurunkan agamanya sebagai pedoman yang harus dijadikan referensi dalam menetapkan setiap keputusan, dengan jaminan ia akan terbebas dari segala kebingungan dan kesesatan.
Firman Allah yang terjemahannya:
Nanti akan Aku berikan kepadamu petunjuk (dalam menempuh kehidupan). Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tersebut, niscaya mereka tidak akan ditimpa rasa khawatir dan takut (dalam kehidupan) dan tidak akan bersedih hati (Q.S.Al-Baqarah : 38).
Dan Allah swr. menegaskan bahwa satu-satunya hidayah yang benar yang Ia ridoi itu adalah agama Islam.
            “Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah ISLAM”.
“Pada hari ini Aku lengkapkan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu. Dan Aku rido Islam sebagai agamamu”.
Dalam kedudukannya sebagai hidayah bagi kehidupan manusia di dunia agama ini, yaitu ISLAM, dapat berperan dan berfungsi bagi individu sebagai berikut :
1.      Pemberi makna bagi perbuatan manusia.
2.      Alat kontrol bagi rasa dan emosi.
3.      Pengendali bagi nafsu yang berkembang.
4.      Pemberi reinforcement (dorongan) terhadap kecenderungan berbuat baik pada manusia.
5.      Penyeimbang bagi kondisi psikis yang berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar