Suatu
hari Imam Al-Ghozali berkumpul dengan Murid-muridnya lalu beliau bertanya. Imam
Al-Ghazali: Apa yang paling tajam sekali di dunia…? Murid-murid dengan serentak
menjawab,”Pedang…! Imam ghazali: itu benar, tapi yang paling tajam sekali di
dunia ini adalah ,”LIDAH MANUSIA”. Karena melalui lidah, manusia dengan
mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
1. PERINTAH BERKATA BAIK
Kemampuan
berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi
dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan
yang keluar dari mulut manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji, dsb.
Agar
kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini menjadi bermakna
dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan
menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman :
17:53 “Dan
katakan kepada hamba-hamba-Ku. “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan
yang lebih baik (benar) sesungguhnya syaitan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh
yang nyata bagi manusia.
16:125 ”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik…”
Rasulullah
SAW bersabda :
|
عن ابى هريرة رضي
الله عنه انّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم
الاخر فاليقل خيرا اوليصمت , ومن كان يؤمن بالله واليوم الا خر فليكرم جاره ,
ومن كان يؤمن بالله واليوم الا خر فليكرم ضيفه
|
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda :“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat,
maka hendaklah ia berkata baik atau diam, Barang siapa beriman kepada Allah dan
hari akhirat maka hendaklah memuliakan tetangganya dan Barang siapa beriman
kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya .” Bukhari
no 6018, Muslim no 47
Ini kalimat I’zaz (sedikit lapad luas ma’na), maksudnya,”
barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, adalah barang siapa
beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanan itu) menyelamatkan dari
adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah,”maka hendaklah ia berkata
baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya
tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh
melaksanakan perintah dan larangan-Nya.
Yang terpenting dari semua itu ialah mengendalikan
gerak-gerik seluruh anggaota badannya karena kelak ia akan dimintai tanggung
jawab atas semua anggota badannya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah :
17:36. Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.
“ Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma.
Jika kamu tidak punya maka dengan ucapan yang baik “ Muttafaq alaih
“Ucapan yang baik adalah sedekah” HR. Muslim.
2. KEUTAMAAN DIAM
Bahaya
yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak ada yang dapat
menahannya kecuali diam. Oleh karena itu dalam Islam kita dapatkan anjuran diam
dan perintah pengendalian bicara. Sabda Nabi:
“ Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya
(kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga”
HR. Al Bukhariy
“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba
sehingga istiqamah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang
sehingga istiqamah lisannya” HR Ahmad
Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang
menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq
mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab :
“dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan” HR. At Tirmidziy
Rasulullah
SAW bersabda : “Barang siapa yang bisa menjaga
mulutnya, Allah akan tutupi keburukannya” HR. Abu Nuaim.
Ibnu
Mas’ud berkata : “Tidak ada sesuatupun
yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”
Abu
Darda berkata : “Perlakukan telinga dan
mulutmu dengan obyektif[1]
). Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak
mendengar dari pada berbicara.
Imam
ghozali berkata : Menahan bicara yang kurang manfaat ibadah yang paling
ringan.
Rasululloh bersabda : tidak termasuk bagus orang
yang menyampaikan segala yang di dengarnya. Analogi : anak di suruh ibunya
karena menghindar dari tagihan.
3. MACAM-MACAM AFATUL-LISAN, PENYEBAB DAN TERAPINYA
Imam
ghozali : ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat
kelompok
1. ضرر محضى
: murni membahayakan, لابد من السكت
2. ضرر منفعة : ada
bahaya dan manfaat,
3. لا ضررَ ولا منفعة : tidak
membahayakan dan tidak menguntungkan, dan
4. نفع محض : murni menguntungkan/manfaatnya. Contoh, memerintahkan solat
Ucapan
yang murni membahayakan maka harus dijauhi, begitu juga yang mengandung bahaya
dan manfaat. Sedangkan ucapan yang tidak ada untung ruginya maka itu adalah
tindakan sia-sia, merugikan. Tinggallah yang keempat yaitu ucapan yang
menguntungkan.
Berikut
ini akan kita bahas afatul lisan dari yang paling tersembunyi sampai yang
paling berbahaya. Ada dua puluh macam bahaya lisan, yaitu :
1.
Berbicara sesuatu yang tidak perlu
Rasulullah
SAW bersabda : “Di antara ciri
kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang
tidak ia perlukan” HR At Tirmidziy
Ucapan
yang tidak perlu adalah ucapan yang
seandainya anda diam tidak berdosa, dan
tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakan sesuatu
yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke orang lain “apakah anda puasa, jika
dijawab YA, membuat orang itu riya, jika dijawab TIDAK padahal ia puasa, maka dusta, jika diam tidak
dijawab, dianggap tidak menghormati penanya. Jika menghindari pertanyaan itu
dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari – cari
bahan, dst.
Penyakit
ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu. Atau
basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekedar mengisi waktu
dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan ini termasuk dalam perbuatan
tercela.
Terapinya
adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang paling berharga. Jika
tidak dipergunakan secara efektif maka akan merugikan diri sendiri. selanjutnya
menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari
mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa
menjadi tangga ke sorga atau jaring jebakan ke neraka. Secara aplikatif kita
coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.
2.
Fudhulul-Kalam ( Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan
ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang
berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup
dikatakan dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang
kedua ini “fudhul” (kelebihan).
4:114.
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan
bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma’ruf, atau perdamaian
di antara manusia”
Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah
orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan
hartanya “ HR. Al Baghawiy.
Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang
mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan,
dan jika tidak maka tidak diucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka)
sesungguhnya lisannya mengalir saja”
Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di
antara fitnah orang alim adalah ketika ia lebih senang berbicara daripada
mendengarkan. Jika orang lain sudah cukup berbicara, maka mendengarkan adalah
keselamatan, dan dalam berbicara ada polesan, tambahan dan pengurangan.
3.
Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam
pembicaraan yang batil)
Pembicaraan
yang batil adalah pembicaraan ma’siyat, seperti menceritakan tentang perempuan,
perkumpulan selebritis, dsb, yang tidak terbilang jumlahnya. Pembicaraan
seperti ini adalah perbuatan haram, yang akan membuat pelakunya binasa.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya ada seseorang yang
berbicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu
Allah catat itu dalam murka Allah hingga hari kiamat” HR Ibn Majah.
“ Orang yang paling banyak
dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam
pembicaraan batil” HR Ibnu Abiddunya.
Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya,
mereka menjawab: “ …dan adalah kami
membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya”
QS. 74:45
Terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan Al Qur’an, Allah SWT
memperingatkan orang-orang beriman :”…maka
janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang
lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa
dengan mereka.” QS. 4:140
4.
Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan)
Perdebatan
yang tercela adalah usaha menjatuhkan
orang lain dengan menyerang dan
mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat. Biasanya orang
yang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin menunjukkan kesalahan
orang lain agar terlihat kelebihan dirinya.
Hal
ini biasanya disebabkan oleh taraffu’ (rasa tinggi hati) karena
kelebihan dan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak
akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali
mereka melakukan perdebatan” HR. At Tirmidziy
Imam Malik bin Anas berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati dan
mewariskan kekesalan”
5.
Al Khusumah (pertengkaran)
Jika
orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkan lawan dan
mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah adalah sikap ingin
menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak atau harta orang lain,
yang bukan haknya. Sikap ini bisa
merupakan reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari awal berbicara.
Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan
dan suka bertengkar” HR. Al Bukhariy
6.
Taqa’ur fil-kalam (menekan ucapan)
Taqa’ur
fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakan diri
bersyaja’ dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing. Rasulullah
SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling
aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk
akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara,
dan menfasih-fasihkan kata”. HR. Ahmad
Tidak
termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam memberikan nasehat,
selama tidak berlebihan atau penggunaan
kata-kata asing yang membuat pendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama
dari khutbah adalah menggugah hati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di
sinilah dibutuhkan bentuk-bentuk kata yang menyentuh.
7. Berkata keji, jorok dan caci maki
Berkata
keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan
ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn seksual, dsb. Hal ini
termasuk perbuatan tercela yang dilarang
agama. Nabi bersabda :
“Jauhilah perbuatan keji. Karena
sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yang keji dan perbuatan keji”
dalam riwayat lain :”Surga itu haram bagi
setiap orang yang keji”. HR. Ibnu Hibban
“Orang mukmin bukanlah orang yang
suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” HR. At Tirmidziy.
Ada seorang A’rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi : Sabda Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang
yang mencela kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya.
Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci
maki siapapun. Kata A’rabiy tadi :
“Sejak itu saya tidak pernah lagi mencaci maki orang”. HR. Ahmad.
“Termasuk dalam dosa besar adalah
mencaci maki orang tua sendiri” Para
sahabat bertanya : “Bagaimana seseorang
mencaci maki orang tua sendiri ? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci
maki orang tuanya”. HR. Ahmad.
Perkataan
keji dan jorok disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yang menyakiti orang
lain, atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan dengan orang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang
durhaka lainnya.
8.
La’nat (kutukan)
Penyebab
munculnya kutukan pada sesama manusia biasanya adalah satu dari tiga sifat
berikut ini, yaitu : kufur, bid’ah dan fasik.
Dan tingkatan kutukannya adalah sebagai berikut :
a. Kutukan dengan menggunakan sifat umum, seperti :
semoga Allah mengutuk orang kafir, ahli bid’ah dan orang-orang fasik.
b. Kutukan dengan sifat yang lebih khusus, seperti:
semoga kutukan Allah ditimpakan kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi, dsb.
c. Kutukan kepada orang tertentu, seperti : si fulan
la’natullah. Hal ini sangat berbahaya kecuali kepada orang-orang tertentu yang
telah Allah berikan kutukan seperti Fir’aun, Abu Lahab, dsb. Dan orang-orang
selain yang Allah tentukan itu masih memiliki kemungkinan lain.
Kutukan yang ditujukan kepada
binatang, benda mati , atau orang tertentu yang tidak Allah tentukan
kutukannya, maka itu adalah perbuatan tercela yang haus dijauhi. Sabda Nabi :
“ Orang beriman bukanlah orang
yang suka mengutuk” HR At Tirmidziy
“Janganlah kamu saling mengutuk
dengan kutukan Allah, murka-Nya maupun jahanam” HR. At Tirmidziy.
“Sesungguhnya orang-orang yang saling mengutuk tidak akan mendapatkan
syafaat dan menjadi saksi di hari kiamat” HR. Muslim
9.
Ghina’ (nyanyian) dan Syi’r (syair)
Syair
adalah ungkapan yang jika baik isinya maka baik nilainya, dan jika buruk isinya
buruk pula nilainya. Hanya saja tajarrud ( menfokuskan diri) untuk
hanya bersyair adalah perbuatan tercela. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya memenuhi rongga
dengan nanah, lebih baik dari pada memenuhinya dengan syair” HR Muslim. Said
Hawa mengarahkan hadits ini pada syair-syair yang bermuatan buruk.
Bersyair
secara umum bukanlah perbuatan terlarang jika di dalamnya tidak terdapat
ungkapan yang buruk. Buktinya Rasulullah pernah memerintahkan Hassan bin Tsabit
untuk bersyair melawan syairnya orang kafir.
10. Al Mazah (Sendau gurau)
Secara
umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama, kecuali
sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan sering kali
terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalah
gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan.
Seperti gurauan Nabi dengan istri dan para sahabatnya.
Kebiasaan
bergurau akan membawa seseorang pada perbuatan yang kurang berguna. Disamping itu
kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.
Umar bin Khatthab berkata :
“Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan/dianggap hina”.
Said ibn al Ash berkata kepada
anaknya : “Wahai anakku, janganlah bercanda dengan orang mulia, maka ia akan
dendam kepadamu, jangan pula bercanda dengan bawahan maka nanti akan melawanmu”
11.As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza’( cemoohan)
Sukhriyyah
berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan aib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan
atau peragaan di hadapannya. Jika dilakukan tidak di hadapan orang yang
bersangkutan disebut ghibah (bergunjing).
Perbuatan
ini terlarang dalam agama. Firman Allah :
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh
jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan janganlah pula wanita-wanita
mengolok-olok wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok
itu lebih baik dari yang mengolok-olok “ QS. 49:11
Muadz
bin Jabal ra. berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Barang siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia
tidak akan mati sebelum melakukannya” HR. At Tirmidziy
12.Menyebarkan rahasia
Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan
mengecewakan orang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya orang yang paling buruk
tempatnya di hari kiamat, adalah orang laki-laki yang telah menggauli istrinya,
kemudian ia ceritakan rahasianya”. HR.
Muslim
13.Janji palsu
Mulut
sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak
memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.
5:1
“Wahai orang-orang beriman tepatilah
janji…”
Pujian
Allah SWT pada Nabi Ismail as: “Sesungguhnya
ia adalah seorang yang benar janjinya..” QS 19:54
Rasulullah
SAW bersabda : “ada tiga hal yang jika
ada pada seseorang maka dia adalah munafiq, meskipun puasa, shalat, dan mengaku
muslim. Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya
khiyanat” Muttafaq alaih dari Abu Hurairah
14.Bohong dalam berbicara dan bersumpah
Berbohong
dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang paling busuk.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya berbohong akan
menyeret orang untuk curang. Dan kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan
sesungguhnya seseorang yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di
sisi Allah sebagai pembohong” Muttafaq
alaih.
“Ada tiga golongan yang Allah
tidak akan menegur dan memandangnya di hari kiamat, yaitu : orang yang
membangkit-bangkit pemberian, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah
palsu, dan orang yang memanjangkan kain sarungnya” HR Muslim.
“Celaka orang berbicara dusta
untuk ditertawakan orang, celaka dia, celaka dia” HR Abu Dawud dan At Tirmidziy
15.Ghibah (Bergunjing)
Ghibah
adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah pernah bertanya kepada
para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat: ”Hanya Allah dan
Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi: “ghibah adalah menceritakan sesuatu
dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya.” Para sahabat
bertanya : “Jika yang diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi : ”Jika memang ada
itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada” HR Muslim.
Al
Qur’an menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara sendiri
49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu
dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.
Ghibah
bisa terjadi dengan berbagai macam cara,
tidak hanya ucapan, bisa juga tulisan, peragaan. dsb.
Hal-hal
yang mendorong terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut ini :
1. Melampiaskan kekesalan/kemarahan
2. Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita
3. Merasa akan dikritik atau dcela orang lain,
sehingga orang yang dianggap hendak mencela itu jatuh lebih dahulu.
4. Membersihkan diri dari keterikatan tertentu
5. Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan
mencela lainnya
6. Hasad/iri dengan orang lain
7. Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu
8. Menghina dan meremehkan orang lain
Terapi
ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu dengan ilmu dan amal.
Secara
umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan dengan murka Allah.
Kemudian mencari sebab apa yang mendorongnya melakukan itu. Sebab pada umumnya
penyakit itu akan mudah sembuh dengan meotong penyebabnya.
Menceritakan
kekurangan orang lain dapat dibenarkan jika terdapat alasan berikut ini:
1. Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi
2. Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran
3. Meminta fatwa,seperti yang dilakukan istri Abu
Sufyan pada Nabi.
4. Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan
seseorang
5. Orang yang dikenali dengan julukan buruknya,
seperti al a’raj (pincang), dst.
6. Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan
terang-terangan (mujahir)
Hal-hal
penting yang harus dilakukan seseorang yang telah berbuat ghibah adalah :
1. Menyesali perbuatan ghibahnya itu
2. Bertaubat, tidak akan mengualnginya lagi
3. Meminta maaf/dihalalkan dari orang yang
digunjingkan.
|
BERKATA BAIK ATAU LEBIH BAIK DIAM, SERTA
MEMULIAKAN TAMU
|
|
|
عن أبي هريرة رضي
الله عنه أن رسول الله صلى الله
عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو
ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر
فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
|
|
|
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,
sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia
berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat,
maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
[Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]
|
|
|
[1]. Tujuan; tidak berat sebelah;menurut kenyataan;eksistensinya tidak
dipengaruhi oleh pemikiran atau perasaan orang lain;lensa yang menghadap ke
objek. KIP. 441
Tidak ada komentar:
Posting Komentar