Ada beberapa kerangka dasar tentang
metode dakwah yang terdapat dalam Al Qur'an 16:125
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk
[845]
Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang bathil.
1. Bil
Hikmah
2. Mauidzotul
Hasanah
3. Mujadalah
Bil Hikmah
Kata
Hikmah sering kali diterjemaahkan dalam pengertian bijaksana, yaitu suatu
pendekatan sedemikian rupa sehingga obyek dakwah mampu melaksanakan apa yang
didakwahkan, atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksan, konflik maupun
rasa tertekan.
a. Pengertian
Al Hikmah menurut bahasa:
-
Adil, Ilmu,
Sabar, kenabian, Al Qur'an
-
Memperbaiki
( membuat menjadi baik atau lebih baik ) dan terhindar dari kerusakan
-
Ungkapan
untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama
-
Objek
kebenaran ( Al Hak ) yang didapat melalui ilmu dan akal
-
Pengetahuan
atau ma'rifat
b. Menurut
istilah ( Syar'I ) :
-
Tepat dalam
perkataan dan perbuatan
-
Mengetahui
yang benar dan mengamalkannya ( ilmu dan pengalaman )
-
Warra dalam
dinullah
-
Meletakan
sesuatu pada tempatnya
-
Menjawab
dengan tepat dan jelas
Kesimpulan.
Pertama,
Hikmah berasal dari kata Ihkam yang artinya memperbaiki perkataan dan perbuatan
Kedua,
Hikmah diambil dari kata Al Hukum yang artinya pemisahan hak dan batil
Mauidzatul Hasanah
Nasehat yang baik, maksudnya adalah
memberikan nasehat kepada orang lain dengan cara yang baik, berupa
petunjuk-petunjuk Ilahiyyah ke
arah kebaikan dengan bahasa yang baik yang dapat mengubah hati, agar nasehat
tersebut dapat diterima, berkenaan dihati, enak didengar, menyentuh perasaan,
lurus difikiran, menghindar sikap kasar dan tidak boleh mencaci. QS.
2:256, QS.
3:159
256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama
(Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [1])
dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul
tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui.
159. Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan
itu[2] ). Kemudian apabila kamu
Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
"Berbicaralah dengan mereka ( manusia
) itu sesuai dengan kemampuhannya" ( Hadits )
Mujadalah.
Maksudnya
adalah berdiskusi dengan cara yang paling baik dari cara-cara berdiskusi yang
ada
Mujadalah
yang dimaksud disini adalah merupakan cara terakhir yang digunakan untuk
berdakwah manakala kedua cara sebelumnya tidak mampu. Lazimnya cara ini
dilakukan untuk menghadapi objek dakwah yang kaku dan keras/orang yang tarap
berfikirnya cukup maju, dan kritis seperti
ahli kitab. QS.29:46
46. Dan
janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling
baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[1154], dan Katakanlah:
"Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan
yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya
kepada-Nya berserah diri".
[1154] yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim
ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan
penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan
membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.
Dalam ayat tersebut, terlihat
jelas bahwa dalam Al Qur'an menyuruh kaum muslimin ( terutama juru dakwah )
agar berdebat dengan ahli kitab dengan cara yang baik, lemah lembut kecuali
jika mereka telah memperlihatkan keangkuhan dan kedzaliman yang keluar dari
batas-batas kewajaran.
Sayyid
Qutb menyatakan bahwa dalam menerapkan metode diskusi dengan cara yang baik
perlu perlu diperhatikan cara-cara berikut :
a. Tidak
merendahkan pihak lawan, atau menjelek-jelekan, karena tujuan diskusi bukan
mencari kemenangan, melainkan kemudahan.
b. Tujuan
diskusi semata-mata untuk menunjukan kebenaran sesuai dengan ajaran Allah.
c. Tetap
menghormati pihak lawan, sebab jiwa manusia tetap memiliki harga diri. Karena
harus diupayakan ia tidak merasa kalah dalam diskusi dan merasa tetap dihargai
dan dihormati.
Syekh
Yusuf Al Qardawi menuturkan bahwa dalam diskusi ada dua metode, yaitu metode
yang baik ( hasan ) dan metode yang lebih baik ( ahsan ). Al Qur'an
menggariskan bahwa salah satu pendekatan dakwah adalah dengan menggunakan
metode diskusi yang lebih baik.
Sementara
Nabi Muhammad SAW. Telah mengaflikasikan tiga kerangka dasar metode dakwah
tersebut melalui beberapa pendekatan :
a. Pendekatan
personal dari mulut-kemulut
Pendekatan
ini dilakukan Nabi sejak turunnya wahyu pertama kepada orang-orang terdekatnya
dengan personal approach dengan sangat rahasia. Pendekatan ini dilakukan agar
tidak menimbulkan goncangan-goncangan reaksioner dikalangan masyarakat
quraisy mengingat pada saat itu mereka
masih berpegang teguh pada kepercayaan animisme warisan leluhur mereka. (
selama ± 3 tahun )- disini banyak yang masuk islam Al Khodijah Binti Al
Khuailid, Ali Bin Abi Thalib, Zaid Bin Haritsah, Abu Bakar Assidiq, Utsman Bin
Affan, Zubair Al Arqom, Abdurrahman Al Auf, Saad Bin Abi Waqas.
Disini
dapat dipetik suatu pelajaran bahwa pelaksanaan dakwah ahrus senantiasa
mempertimbangkan situasi dan kondisi setempay.
b. Pendekatan
Pendidikan
Dakwah
dengan pendekatan pendidikan ini dilakukan sejak dini, yaitu beriringan dengan
masuk islamnya para sahabat satu persatu.
Tempat-tempat
yang dipakai rasul untuk membina sahabatnya.
♦ Dar Al Arqam
Dipilihnya
rumah Al Arqam sebagai tempat belajar dan mengajar, karena lokasi rumah
tersebut dekat dengan ka'bah, sehingga memudahkan jama'ah beribadah dimesjid Al
Haram, disamping faktor keamanan menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan,
kemudian rumah Nabi juga dijadikan tempat belajar berikutnya terutama setelah
masuk islamnya Umar Bin khottob dirumah Al Arqam. Umat
islam merasa lega dan tempat belajar yang semula dirahasiakan kini dipindahkan
ke rumah Nabi.
♦ Al Shuffah
Setelah
Nabi dan para sahabatnya Hijrah ke Madinah, pekerjaan pertama yang beliau
lakukan adalah pembangunan mesjid. Disanalah satu ruangan dari mesjid itu
dipergunakan secara khusus untuk mengajar para sahabatnya. Ruangan ini disebut
Al Shuffah yang juga berfungsi sebagai tempat penampungan para siswa yang
miskin.
♦ Dar Al Qurra
Selain
Al Suffah di madinah, terdapat pula Dar Al Qurra yang mengambil tempat dirumah malik
Makhramah Bin Naufal sebagai tempat belajar membaca Al Qur'an sekaligus
merupakan asrama bagi mereka.
♦ Kuttab
Kuttab
merupakan tempat belajar bagi remaja bagi anak-anak, termasuk Zaid bin Tsabit
yang kala itu rambutnya masih berjambul. Ia belajar Al Qur'an langsung dari
lisan Nabi sebanyak 70 surah di Al Kuttab ini.
c. Pendekatan
penawaran
Cara
ini dilakukan oleh Nabi dalam rangka menawarkan islam sekaligus mencari
dukungan keamanan dari kabilah yang berdatangan ke makkah pada bulan haji untuk
berziarah ( beribadah haji ) yang telah berjalan sejak zaman Nabi Ibrahim.
Dukungan
keamanan dari kabilah diperlukan, mengingat semenjak Nabi berdakwah secara
terbuka, orang-orang musyrik dari suku Quraisy selalu meneror beliau dan para
sahabatnya sehingga mengancam keamanan mereka ( diantara kabilah yang masuk
islam kabilah Al Khazraz pada Thn 12 kenabian juga terjadi bai'at aqobah I dan
disusul Aqobah II pada tahun berikutnya Asbabunnuzul 5:67
67. Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan
itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari
(gangguan) manusia [3]).
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
d. Pendekatan
Missi ( Bi'tsah )
Maksud
dari pendekatan Missi adalah pengiriman tenaga da'I kedaerah-daerah luar tempat
tinggal Nabi untuk mengajarkan agama islam.
e. Pendekatan
Koresponden.
Ahli
tarikh, Muhammad bin Saad ( W. 230 H ) dalam kitabnya Al Tabaraqat Al Qubra menulis
satu persatu surat Nabi SAW lengkap dengan sanadnya yang jumlahnya lebih dari
150 buah. Dilihat dari segi isi surat Nabi dapat dikelompokkan menjadi tiga
bagian :
1. Surat
yang berisi seruan untuk masuk islam, surat ini ditujukan kepada orang-orang non
muslim baik Yahudi, Majusi, Nasrani dan sebagainya.
2. Surat-surat
yang berisi aturan-aturan dalam islam, misalnya tentang Zakat, shodaqoh dan
sebagainya. Surat ini ditujukan kepada orang-orang muslim yang memerlukan
penjelasan-penjelasan dari Nabi SAW.
3. Surat-surat
yang berisikan hal-hal yang wajib dikerjakan oleh orang-orang non muslim
terhadap pemerintahan islam, seperti Jizyah ( iuran keamanan ).
f. Pendekatan
Diskusi.
Sejak dimekah hingga hijrah kemadinah,
Nabi SAW sering berhadapan dengan tamu-tamu maupun kerabat yang datang untuk
mempertanyakan berbagai hal, misalnya serombongan yang terdiri dari para
pendeta Abessinia ( Habsyi ) yang berjumlah 70 orang yang diutus raja Najsi,
yang muslim untuk memperdalam islam, yang non muslim untuk berdiskusi tentang
agama, seperti mereka punya keyakinan Isa adalah Tuhan, maka diberi penawaran
oleh Nabi SAW untuk mubahalah ( perang sumpah ) mereka tidak mau dan minta
damai dan siap bayar upeti.
Membimbing
seseorang untuk menjadi seorang muslim itu lebih berharga disebanding dunia dan
isinya
[2]
. [246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal
duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan
lain-lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar