Minggu, 20 November 2016

الطريقات الى التقوى (JALAN-JALAN MENUJU TAQWA)



 Taqwa dengan segudang kenikmatan dan fadlilahnya mempunyai jalan-jalan yang penuh dengan berbagai tantangan dan hambatan. Ini merupakan sunnatullah bahwa setiapa kesuksesan dan prestasi harus dibayar dengan mahal, sebagaimana Rasulullah saw. Untuk menyebarkan agaman Islam mengalami tantangan, rintangan dan hambatan.
Rasulullah saw bersabda :  خفت الجنة بالمكاره وخفت النار بالشهوات. رواه البخارى
“Dihampari jalan menuju ke surga dengan makar-makar ( segala sesuatu yang kita benci ) dan digampari jalan menuju ke neraka dengan syahwat ( keindahan yang melenakan ).” (dari HR. Bukhari).
Nah, untuk meniti jalan taqwa, ada beberapa cara yang dapat ditempuh;
1. المعاهدةQS. 16/91 
“Yaitu senantiasa mengingat perjanjian dengan Allah”, bahwasannya kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya. QS. Adz-Dzariyat ayat 56, Al-Baqarah ayat 21. bahkan sdudah sejak didalam kandungan masing-masing manusia sudah diminta perjanjian untuk menyembah Allah. QS. Al-A’raf ayat 172.
Didalam kehidupan sebagai muslim kita sudah berjanji bahwa tidak ada tuhan ( اله ) yang kita sembah  kecuali hanya Allah, dan kita bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan-Nya (dalam syahadat). Maka sebagai bukti perjanjian kita itu harus senantiasa taat beribadah kepada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw, menjadikan Rasulullah sebagai idola dan teladan dalam setiap kehidupan, dari masalah masuk WC hingga mengurus seluruh kehidupan ada dalam tuntunan Rasulullah saw. (baca kitab Riyadlushalihin).
Setiap perjajian akan dimintai pertanggungjawaban disisi Allah Swt. QS. Al-Isra ayat 34 dan 36.
Kita juga berjanji kepada Allah sehari 17 kali dalam shalat bahwa kita :  إياك نعبد وإياك نستعين  (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan), sehingga kita beribadah shalat, zakat dan seluruh ibadah yang lain kepada Allah, demikian juga kita memohon pertolongan hanya kepada Allah, tidak boleh kepada selain Allah.
Didalam shalat kita juga membaca bahwa  إن صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العالمين
Yaitu, bahwa sesungguhnya shalat kita, ibadah kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk menggapai keridlaan Allah Swt. Ini berarti pula semua amal dan aktivitas dapat bernilai ibadah disisi Allah, manakala diniati ikhlas mengharap ridla-Nya dan tidak bertentangan dengan syari’at-Nya. Jadi amal sekecil apapun dapat menjadi ibadah dan mendapat pahala apabila ikhlas dan tidak melanggar syari’at Islam, karena buah dari mu’ahadah adalah istiqomah pada syari’at Islam.
Adapun ibadah-ibadah yang khusus seperti shalat, zakat, shaum, haji haruslah sesuai denga apa yang diajarkan nabi saw  صلوا كما رأيتمونى أصلى. ”الحديث
2. المراقبة   QS. 57/ 4
“Yaitu; merasa selalu diawasi oleh Allah”. Jalan menuju taqwa kedua ini adalah jalan yang berkaitan denga pengawasan Allah, yaitu merasakan bahwa Allah itu selalu mengawasi kita dimanapun kita berada. ( QS. 57/ 4, 26/217-220 ).
Allah senantiasa beserta kita, dan setiap amal-amal kita senantiasa dicatat oleh Allah di lauhil mahfudz.
Merasakan pengawasan Allah ini sehingga melahirkan keta’atan disetiap saat dan setiap tempat. Rasulullah saw bersabda:  إتق الله حيثما كنت... ”رواه الترمذى
Bertaqwa-lah kepada Allah dimanapun kamu berada .... “HR. Tirmidzi”.
Dan juga harus muroqobah dengan mengaplikasikan sikap berikut ini :
- فى الطاعة            بالإخلاص
- فى المعصية         بالتوبة
- فى المباح             بالأدب والشكر
- فى المصيبة          بالرضاء والصبر
Sebagaimana Ali bin Abi Thalib telah berkata :  “ada empat sifat orang yang riya (tidak ikhlas); 1. malas beramal ketika sendirian, 2. semangat beramal ketia banyak orang, 3. bertambah amalnya ketika dipuji, 4. berkurang amalnya ketika dicela.
Cara untuk menghasilkan muroqobah, kita harus selalu mengontrol amal yang dilakukan baik sebelum maupun ketika melaksanakan amal.
3. المحاسبة   QS. 59/18, 58/7
“Yaitu selalu menghisab (menghitung) amal-amal yang kita kerjakan, lebih banyak mana antara amal shaleh dengan amal buruk yang kita lakukan.
قال عمر ابن الخطاب :  حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا يوم القيامة
Sudahkah siap kita menghadap Allah dengan bekal yang kita miliki?
Sudahkan kita yakin akan selamat dari adzab Allah?
Sudah berapa bekal yang kita siapkan untuk menghadapi hari kematian?
Janganlah kita tertipu dengan amal kita, karena seperti pepatah mengatakan “semut disebrang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tidak kelihatan”.
Kita juga harus menyadari bahwa hidup didunia hanyalah sementara (mampir ngombe, istilah jawa). Hal ini juga diperingatkan oleh Nabi saw:  كن فى الدنيا كأنك غريب او عابر سبيل
“Jadikan kehidupanmu didunia ibadat orang asing atau yang sedang dalam perjalanan”. HR. Muslim.
Didalam hadits yang lain Nabi juga berpesan bahwa :  الكيس من دان نقسه وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع نفسه هواه وتمنى على الله. رواه الترمذى
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mempersiapkan amal untuk bekal sesudah mati, dan orang yang bodoh (hina) adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan yang muluk kepada Allah (tidak mau beramal)”. HR. Tirmidzi.
Dengan modal ke-Imanan dan ke-Islaman yang dimiliki, kita berupaya untuk mendapatkan laba dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah baik yang fardlu maupun yang sunat dan menghindar dari hal-hal yang akan merugikan yaitu dengan melakukan dosa. Karena buah dari muhasabah adalah :  terhindarnya diri kita dari kebusukan hawa nafsu yang selalu berontak, memenuhi hak-hak Allah Swt. dan memenuhi hak-hak makhluk.
4. المعاقبة     QS. 2/178-179
“Yaitu senantiasa memberikan sanksi (hukuman) terhadap diri sendiri apabila melakukan kesalahan atau lalai dari taat dan ibadah kepada Allah”.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khatab tatkala beliau mengunjungi salahsatu kebunnya yang luas, kemudian ketika selesai mengunjungi kebun beliau menyaksikan orang-orang yang telah selesai shalat ashar berjamaah. Beliau merasa sangat rugi ketinggalan shalat ashar berjamaah, maka sebagai hukumannya beliau menginfakkan kebun yang beliau kunjungi untuk kepentingan kaum muslimin karena kebunnya telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah.
Kaum muslimin bila menyaksikan lalai dari amal ketaatan atau terjerumus dalam kemaksiatan juga harus segera menggantinya dengan amal-amal lain yang sepadan dan bersegera kepada maghfiroh Allah. QS. 3/133-136.
Bagi yang terbiasa untuk mengoreksi diri kemudian menjatuhkan sanksi terhadap dirinya apabila berbuat salah, maka akan tumbuh kedisiplinan yang tinggi untuk menjalankan perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah saw. Bersabda:  إتق الله حيثما كنت واتبع السيأت الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن.
 رواه الترمذى
“Bertaqwa-lah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan (perbuatan jelek), dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. HR. Tirmidzi
5. المجاهدة    QS. 29/69
“Yaitu selalu bersungguh-bersungguh dalam setiap amal”.
Kesungguhan dalam beramal ini merupakan bukti keimanan seorang mukmin yaitu yang beriman dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.
Berjihad dengan sungguh-sungguh dijalan Allah sebagai pembeda antara orang yang beriman dengan orang munafik.
Kesungguhan dalam beramal juga menunjukan bahwa orang mukmin adalah orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras/tidak suka berpangku tangan dan selalu mendayagunakan kesempatan dan potensi yang dimilikinya untuk kebaikan dan amal shaleh, selain itu bahwa setiap amal diyakininya akan ada balasannya dihadapan Allah.
Selain menjaga kesungguhan dalam amal, setiap mukmin juga dituntut untuk selalu istiqomah dalam ketaatan dan ketaqwaannya, yaitu dia menjaga diri disetiap saat, sehingga istiqomah dalam ketaatan dan ketaqwaannya, yaitu dia menjaga diri disetiap saat, sehingga tidaklah dia mati kecuali dalam keadaan berpegang teguh terhadap Islam. QS. 3/102. itulah kesungguhan yang terwujud dalam amal nyata, sebagaimana sabda Nabi saw:  قل أمنت بالله ثم استقم. رواه مسلم
“Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqomah (berpegang teguh dalamkeimanan)”. HR. Muslim
Manakala seorang mukmin selalu mu’ahadah, muhasabah, mu’aqobah, dan mujahadah disetiap harinya, insya Allah ia akan merasakan manisnya keimanan dan meraih derajat taqwasebagai derajat yang penuh kemuliaan disisi Allah. QS. 49/13.
Catatan*)
Beberapa keutamaan bagi orang yang taqwa :
1. Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. QS. 65/3
2. Akan diberi jalan keluar dari semua kesulitan. QS. 65/2
3. Akan dimudahkan dalam setiap urusan. QS. 65/4
4. Allah akan memberikan furqon (garis pembeda) antara yang halal dengan yang haram, antara yang benar dengan yang salah, antara yang diperintahkan dengan yang dilarang. QS. 8/29
5. Akan dihapuskan dosa dan diampuni semua kesalahannya. QS. 8/29
6. Allah akan memperbaiki amal-amal shaleh kita dan mengampuni dosa-dosa kita. QS. 33/70-71

Tidak ada komentar:

Posting Komentar