Taqwa
dengan segudang kenikmatan dan fadlilahnya mempunyai jalan-jalan yang penuh
dengan berbagai tantangan dan hambatan. Ini merupakan sunnatullah bahwa setiapa
kesuksesan dan prestasi harus dibayar dengan mahal, sebagaimana Rasulullah saw.
Untuk menyebarkan agaman Islam mengalami tantangan, rintangan dan hambatan.
Rasulullah
saw bersabda : خفت الجنة
بالمكاره وخفت النار بالشهوات. رواه البخارى
“Dihampari
jalan menuju ke surga dengan makar-makar ( segala sesuatu yang kita benci ) dan
digampari jalan menuju ke neraka dengan syahwat ( keindahan yang melenakan ).”
(dari HR. Bukhari).
Nah,
untuk meniti jalan taqwa, ada beberapa cara yang dapat ditempuh;
1. المعاهدةQS. 16/91
“Yaitu senantiasa mengingat perjanjian dengan
Allah”, bahwasannya kita
adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk senantiasa mengabdi dan beribadah
kepada-Nya. QS. Adz-Dzariyat ayat 56, Al-Baqarah ayat 21. bahkan sdudah sejak
didalam kandungan masing-masing manusia sudah diminta perjanjian untuk
menyembah Allah. QS. Al-A’raf ayat 172.
Didalam kehidupan sebagai muslim kita sudah berjanji bahwa tidak
ada tuhan ( اله
) yang kita sembah kecuali hanya Allah,
dan kita bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan-Nya (dalam syahadat). Maka
sebagai bukti perjanjian kita itu harus senantiasa taat beribadah kepada Allah
dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw, menjadikan Rasulullah sebagai idola dan
teladan dalam setiap kehidupan, dari masalah masuk WC hingga mengurus seluruh
kehidupan ada dalam tuntunan Rasulullah saw. (baca kitab Riyadlushalihin).
Setiap perjajian akan dimintai
pertanggungjawaban disisi Allah Swt. QS. Al-Isra ayat 34 dan 36.
Kita juga berjanji kepada Allah sehari 17 kali dalam shalat bahwa
kita : إياك نعبد وإياك
نستعين (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan
hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan), sehingga kita beribadah shalat,
zakat dan seluruh ibadah yang lain kepada Allah, demikian juga kita memohon
pertolongan hanya kepada Allah, tidak boleh kepada selain Allah.
Didalam shalat kita juga membaca bahwa إن صلاتى ونسكى
ومحياي ومماتى لله رب العالمين
Yaitu, bahwa sesungguhnya shalat kita,
ibadah kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk menggapai keridlaan Allah Swt.
Ini berarti pula semua amal dan aktivitas dapat bernilai ibadah disisi Allah,
manakala diniati ikhlas mengharap ridla-Nya dan tidak bertentangan dengan
syari’at-Nya. Jadi amal sekecil apapun dapat menjadi ibadah dan mendapat pahala
apabila ikhlas dan tidak melanggar syari’at Islam, karena buah dari
mu’ahadah adalah istiqomah pada syari’at Islam.
Adapun ibadah-ibadah yang khusus seperti
shalat, zakat, shaum, haji haruslah sesuai denga apa yang diajarkan nabi
saw صلوا كما رأيتمونى
أصلى. ”الحديث“
2. المراقبة QS. 57/ 4
“Yaitu; merasa selalu
diawasi oleh Allah”. Jalan
menuju taqwa kedua ini adalah jalan yang berkaitan denga pengawasan Allah,
yaitu merasakan bahwa Allah itu selalu mengawasi kita dimanapun kita berada. (
QS. 57/ 4, 26/217-220 ).
Allah senantiasa beserta kita, dan setiap
amal-amal kita senantiasa dicatat oleh Allah di lauhil mahfudz.
Merasakan pengawasan Allah ini sehingga
melahirkan keta’atan disetiap saat dan setiap tempat. Rasulullah saw
bersabda: إتق الله حيثما
كنت... ”رواه الترمذى“
Bertaqwa-lah kepada Allah dimanapun kamu
berada .... “HR.
Tirmidzi”.
Dan juga harus muroqobah dengan
mengaplikasikan sikap berikut ini :
Sebagaimana Ali bin Abi Thalib telah berkata : “ada empat sifat orang yang riya (tidak
ikhlas); 1. malas beramal ketika sendirian, 2. semangat beramal ketia banyak
orang, 3. bertambah amalnya ketika dipuji, 4. berkurang amalnya ketika dicela.
Cara untuk
menghasilkan muroqobah, kita harus selalu mengontrol amal yang dilakukan baik
sebelum maupun ketika melaksanakan amal.
3.
المحاسبة QS. 59/18, 58/7
“Yaitu selalu menghisab (menghitung) amal-amal yang kita kerjakan, lebih banyak mana antara amal shaleh
dengan amal buruk yang kita lakukan.
قال عمر ابن الخطاب : حاسبوا انفسكم قبل
ان تحاسبوا يوم القيامة
Sudahkah siap kita menghadap Allah dengan bekal yang kita miliki?
Sudahkan
kita yakin akan selamat dari adzab Allah?
Sudah berapa bekal yang kita siapkan untuk menghadapi hari
kematian?
Janganlah kita tertipu dengan amal kita, karena seperti pepatah
mengatakan “semut disebrang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tidak
kelihatan”.
Kita juga harus menyadari bahwa hidup didunia hanyalah sementara (mampir
ngombe, istilah jawa). Hal ini juga diperingatkan oleh Nabi saw: “كن فى الدنيا كأنك
غريب او عابر سبيل
“Jadikan kehidupanmu didunia ibadat orang asing atau yang sedang
dalam perjalanan”. HR.
Muslim.
Didalam hadits yang lain Nabi juga berpesan bahwa : الكيس من دان نقسه
وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع نفسه هواه وتمنى على الله. رواه الترمذى
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan
mempersiapkan amal untuk bekal sesudah mati, dan orang yang bodoh (hina) adalah
orang yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan yang muluk kepada Allah
(tidak mau beramal)”. HR. Tirmidzi.
Dengan modal ke-Imanan dan ke-Islaman yang dimiliki, kita
berupaya untuk mendapatkan laba dengan melaksanakan ketaatan kepada
Allah baik yang fardlu maupun yang sunat dan menghindar dari hal-hal yang akan merugikan
yaitu dengan melakukan dosa. Karena buah dari muhasabah adalah : terhindarnya diri kita dari kebusukan hawa
nafsu yang selalu berontak, memenuhi hak-hak Allah Swt. dan memenuhi hak-hak
makhluk.
4. المعاقبة QS. 2/178-179
“Yaitu
senantiasa memberikan sanksi (hukuman) terhadap diri sendiri apabila melakukan
kesalahan atau lalai dari taat dan ibadah kepada Allah”.
Hal ini
sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khatab tatkala beliau mengunjungi
salahsatu kebunnya yang luas, kemudian ketika selesai mengunjungi kebun beliau
menyaksikan orang-orang yang telah selesai shalat ashar berjamaah. Beliau
merasa sangat rugi ketinggalan shalat ashar berjamaah, maka sebagai hukumannya
beliau menginfakkan kebun yang beliau kunjungi untuk kepentingan kaum muslimin
karena kebunnya telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah.
Kaum
muslimin bila menyaksikan lalai dari amal ketaatan atau terjerumus dalam
kemaksiatan juga harus segera menggantinya dengan amal-amal lain yang sepadan
dan bersegera kepada maghfiroh Allah. QS. 3/133-136.
Bagi yang
terbiasa untuk mengoreksi diri kemudian menjatuhkan sanksi terhadap
dirinya apabila berbuat salah, maka akan tumbuh kedisiplinan yang tinggi untuk
menjalankan perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah
saw. Bersabda: إتق الله حيثما
كنت واتبع السيأت الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن.
رواه الترمذى
“Bertaqwa-lah
kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan
perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan (perbuatan jelek),
dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. HR. Tirmidzi
5. المجاهدة QS. 29/69
“Yaitu
selalu bersungguh-bersungguh dalam setiap amal”.
Kesungguhan
dalam beramal ini merupakan bukti keimanan seorang mukmin yaitu yang beriman
dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan
anggota badan.
Berjihad
dengan sungguh-sungguh dijalan Allah sebagai pembeda antara orang yang beriman
dengan orang munafik.
Kesungguhan
dalam beramal juga menunjukan bahwa orang mukmin adalah orang-orang yang
memiliki etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras/tidak suka berpangku tangan
dan selalu mendayagunakan kesempatan dan potensi yang dimilikinya untuk
kebaikan dan amal shaleh, selain itu bahwa setiap amal diyakininya akan ada
balasannya dihadapan Allah.
Selain
menjaga kesungguhan dalam amal, setiap mukmin juga dituntut untuk selalu
istiqomah dalam ketaatan dan ketaqwaannya, yaitu dia menjaga diri disetiap
saat, sehingga istiqomah dalam ketaatan dan ketaqwaannya, yaitu dia menjaga
diri disetiap saat, sehingga tidaklah dia mati kecuali dalam keadaan berpegang
teguh terhadap Islam. QS. 3/102. itulah kesungguhan yang terwujud dalam amal
nyata, sebagaimana sabda Nabi saw: قل أمنت بالله ثم
استقم. رواه مسلم
“Katakanlah aku beriman
kepada Allah kemudian istiqomah (berpegang teguh dalamkeimanan)”. HR. Muslim
Manakala seorang mukmin selalu mu’ahadah,
muhasabah, mu’aqobah, dan mujahadah disetiap harinya, insya Allah ia akan
merasakan manisnya keimanan dan meraih derajat taqwasebagai derajat yang penuh
kemuliaan disisi Allah. QS. 49/13.
Catatan*)
Beberapa keutamaan bagi orang yang taqwa
:
1. Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka. QS. 65/3
2. Akan diberi jalan keluar dari semua kesulitan. QS. 65/2
3. Akan dimudahkan dalam setiap urusan. QS. 65/4
4. Allah akan memberikan furqon (garis pembeda) antara yang
halal dengan yang haram, antara yang benar dengan yang salah, antara yang
diperintahkan dengan yang dilarang. QS. 8/29
5. Akan dihapuskan dosa dan diampuni semua kesalahannya. QS.
8/29
6. Allah akan memperbaiki amal-amal shaleh kita dan mengampuni
dosa-dosa kita. QS. 33/70-71
Tidak ada komentar:
Posting Komentar