Selasa, 15 November 2016

URGENSI (PENTINGNYA) IMAN DALAM PEMBENTUKAN SYAKHSIAH TOYYIBAH (PRIBADI YANG BAIK) DAN USROH TOYYIBAH (KELUARGA YANG BAIK)



Tips metode (cara) dalam menghadiri majlis:
-       Keilmuan/wawasan apa yang saya dapatkan ?
-       Motivasi apa yang saya rasakan ?
-       Langkah apa yang harus saya lakukan ?

Prolog
Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad akan baik dan jika ia rusak maka seluruh jasad juga akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati. Hati adalah motoris/penggerak seluruh aktivitas jasad dan juga merupakan wadah yang menerima berkembangnya potensi keimanan dan keislaman yang telah dianugerahkan sang kholiq kepada semua makhluknya.

Kita tidak ingin merampas hak hati kita untuk memperoleh sentuhan yang mulia, yaitu sentuhan cinta dan persaudaraan karena Allah, yang ditumbuhkembangkan di dalam hati oleh acara ini dan oleh pertemuan yang tulus semacam ini, satu siang dalam sebulan. Karena itu, marilah kita memberikan hak sentuhan hati pada siang yg mulia ini, yang kedatangannya sangat kita nantikan lantaran saya berbahagia melihat dan berbicara kepada Anda semua.

Sebagaimana yang kita inginkan dan juga kita harapkan agar Anda ketahui, Ikhwan walakhwat sekalian, janganlah Anda membatasi manfaat pertemuan ini hanya dengan menyerap berbagai hakikat keilmuan yang Anda pelajari / ungkapan indah yg Anda hafalkan. Tetapi hendaklah kita semua ingat bahwa ada nilai lain yang lebih tinggi dan lebih luhur, yaitu adanya santapan untuk ruhani kita, kedekatan antar kita, serta kebahagiaan kita oleh perjumpaan di jalan Allah dan karena Allah ini.

Di samping itu, cinta dan persaudaraan, yang merupakan bekal bagi orang-orang lemah, kekayaan bagi orang-orang miskin, serta kebahagiaan bagi orang-orang yg menderita. Pada hari kamis ini, sebagaimana antusiasme kita untuk memperoleh manfaat pengetahuan, kita juga harus antusias untuk memperoleh kekuatan ruhani dan kebahagiaan jiwa yang terus akan dicurahkan ke dalam jiwa dan disiramkan ke dalam ruhani oleh perjumpaan yang tidak diniatkan selain untuk mencari ridha Allah swt. dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Kita memohon kepada Allah swt. agar menjadikannya sebagai sikap cinta yang tulus, semata-mata karena mencari ridha-Nya, serta bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pemimpin dan Penolong. Dan sesungguhnya semua orang mukmin itu bersaudara.

Ikhwan walakhwat rohimakumullah….
Sesungguhnya Allah swt telah menganugrahkan sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai harganya kepada semua makhluk ciptaannya, yaitu potensi keimanan dan keislaman yang harus senantiasa kita jaga supaya tumbuh subur dan memberikan banyak kemanfaatan. Allah swt berfirman:
 “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (QS. 14:24-25)

Rasulallah saw bersabda:
“Perumpamaan iman itu ialah laksana pohon kayu yang tumbuh dengan tegap, iman adalah akar-akarnya, shalat adalah urat-uratnya, zakat adalah ranting-rantingnya, puasa adalah dahan-dahannya, besakit-sakit menegakkan agama adalah tumbuh-tumbuhannya, budi pekerti yang luhur sebagai daun-daunnya, dan menahan diri dari segala yang diharamkan Allah adalah buahnya.

 كلّ مولود يولد على الفطرة فآنّ ابواه يهوّدانه او ينصّرانه او يمجّسانه
“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang meyahudikan, mengkristenkan atau yang memajusikannya. (HR. Bukhori).

URGENSI (PENTINGNYA) IMAN DALAM PEMBENTUKAN SYAKHSIAH TOYYIBAH (PRIBADI YANG BAIK) DAN USROH TOYYIBAH (KELUARGA YANG BAIK)

1.      Iman Merupakan Sumber Kekuatan
Iman merupakan komponen terpenting yang akan menumbuhkan kekuatan serta mempengaruhi terhadap terbentuknya pribadi dan keluarga yang baik. Dalam hal ini peranan hati sangatlah dominan karena hati merupakan wadah yang akan menerima terhadap keimanan, dan mempengaruhi terhadap jasad untuk melakukan amal sholih. apabila hati diisi dan dihiasi dengan nilai-nilai keimanan maka kita akan merasakan selalu ada dalam lindungan Allah dan takut akan siksaan-Nya, sehingga tumbuh sebuah kekuatan yang mendorong untuk senantiasa menjadi hamba yang baik.

Rasulallah saw bersabada:
“Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad akan baik dan jika ia rusak maka seluruh jasad juga akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati”.

Iman Al Ghozali berkata:
“Bahwa manusia itu terdiri atas wujud luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut ruh. Ruh inilah yang beliau sebut hati nurani. Beliau menggambarkan jasad merupakan kerajaan dan hati nuranu sebagai rajanya, akal sebagai perdana mentri, sedangkan panca indra sebagi mentri-mentrinya dan organ-organ lain sebagai tentara-tentaranya. Nafsu sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisi.

2.      Iman Merupakan Sumber Kebahagiaan
Kebahagiaan merupakan impian yang dirindukan oleh setiap insan, tidak ada seorangpun yang tidak merindukannya, dari mulai kalangan bawah sampai kalangan atas semuanya merindukan akan kebahagiaan dalam hidup.

Lalu dimana kebahagiaan itu? Persoalan ini dari zaman purbakala sampai sekarang tak kunjung selesai dan tetap menjadi teka teki yang belum terjawab atau sudah terjawab namun satu sama lain saling berbeda. Kemudian islam menjawab persoalan ini. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya akan diperoleh dengan keimanan dan amal sholeh. Allah swt berfirman dalam QS. 16:97 dan QS. 2:25
 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”.
 “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya”.

Dari kedua ayat diatas memberikan informasi yang jelas, bahwa yang akan meraih kebahagiaan hanyalah pribadi-pribadi mukmin yang beramal shalih, apabila kita menginginkan kebahagiaan yang hakiki maka bentuklah pribadi dan keluarga kita menjadi pribadi dan keluarga yang baeriman dan beramal sholeh.

3.      Iman Merupakan Sumber Ketenangan Jiwa
Ketenangan jiwa merupakan sumber utama untuk mendapatkan kebahagiaan, maka tidak ada kebahagiaan kalau tidak ada ketenangan, begitu pula tidak akan ada ketenangan tanpa keimanan.
Ketenangan jiwa adalah anugrah dari Allah swt yang diturunkan ke dalam hati orang yang beriman. QS. 48:4
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)”
Mengapa ketenangan jiwa hanya berhak dimiliki oleh orang yang beriman? Karena:
  1. Orang yang beriman menempuh jalan hidup sesuai dengan fitroh yang ditanamkan oleh Allah ke dalam jiwanya (yaitu tauhid). QS. 7:172
  2. Fitroh manusia itu tidak akan merasakan dengan peradaban maupun dengan ilmu pengetahuan, kecuali hanya dengan keimanan yang dihiasi dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. QS. 13:2

Akhirnya, semoga kita dapat memperbaiki penjagaan diri dan keluarga dari hari ke hari dengan lebih baik lagi, sehingga Allah berkenan mengumpulkan kita di dalam jannah-Nya merengkuh kebahagiaan hakiki, Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar