Tips metode (cara) dalam
menghadiri majlis:
-
Keilmuan/wawasan apa yang saya
dapatkan ?
-
Motivasi apa yang saya rasakan ?
-
Langkah apa yang harus saya
lakukan ?
Prolog
Ketahuilah
bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad
akan baik dan jika ia rusak maka seluruh jasad juga akan rusak. Ketahuilah, itu
adalah hati. Hati adalah motoris/penggerak seluruh aktivitas jasad dan juga
merupakan wadah yang menerima berkembangnya potensi keimanan dan keislaman yang
telah dianugerahkan sang kholiq kepada semua makhluknya.
Kita
tidak ingin merampas hak hati kita untuk memperoleh sentuhan yang mulia, yaitu
sentuhan cinta dan persaudaraan karena Allah, yang ditumbuhkembangkan di dalam
hati oleh acara ini dan oleh pertemuan yang tulus semacam ini, satu siang dalam
sebulan. Karena itu, marilah kita memberikan hak sentuhan hati pada siang yg
mulia ini, yang kedatangannya sangat kita nantikan lantaran saya berbahagia
melihat dan berbicara kepada Anda semua.
Sebagaimana
yang kita inginkan dan juga kita harapkan agar Anda ketahui, Ikhwan walakhwat
sekalian, janganlah Anda membatasi manfaat pertemuan ini hanya dengan menyerap
berbagai hakikat keilmuan yang Anda pelajari / ungkapan indah yg Anda hafalkan.
Tetapi hendaklah kita semua ingat bahwa ada nilai lain yang lebih tinggi dan
lebih luhur, yaitu adanya santapan untuk ruhani kita, kedekatan antar kita,
serta kebahagiaan kita oleh perjumpaan di jalan Allah dan karena Allah ini.
Di
samping itu, cinta dan persaudaraan, yang merupakan bekal bagi orang-orang
lemah, kekayaan bagi orang-orang miskin, serta kebahagiaan bagi orang-orang yg
menderita. Pada hari kamis ini, sebagaimana antusiasme kita untuk memperoleh
manfaat pengetahuan, kita juga harus antusias untuk memperoleh kekuatan ruhani dan
kebahagiaan jiwa yang terus akan dicurahkan ke dalam jiwa dan disiramkan ke
dalam ruhani oleh perjumpaan yang tidak diniatkan selain untuk mencari ridha
Allah swt. dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Kita memohon
kepada Allah swt. agar menjadikannya sebagai sikap cinta yang tulus,
semata-mata karena mencari ridha-Nya, serta bermanfaat di dunia dan di akhirat.
Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pemimpin dan Penolong. Dan sesungguhnya
semua orang mukmin itu bersaudara.
Ikhwan
walakhwat rohimakumullah….
Sesungguhnya
Allah swt telah menganugrahkan sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai
harganya kepada semua makhluk ciptaannya, yaitu potensi keimanan dan keislaman
yang harus senantiasa kita jaga supaya tumbuh subur dan memberikan banyak kemanfaatan.
Allah swt berfirman:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya
teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Pohon
itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (QS.
14:24-25)
Rasulallah
saw bersabda:
“Perumpamaan
iman itu ialah laksana pohon kayu yang tumbuh dengan tegap, iman adalah
akar-akarnya, shalat adalah urat-uratnya, zakat adalah ranting-rantingnya,
puasa adalah dahan-dahannya, besakit-sakit menegakkan agama adalah
tumbuh-tumbuhannya, budi pekerti yang luhur sebagai daun-daunnya, dan menahan
diri dari segala yang diharamkan Allah adalah buahnya.
كلّ
مولود يولد على الفطرة فآنّ ابواه يهوّدانه او ينصّرانه او يمجّسانه
“Semua bayi yang dilahirkan
dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang meyahudikan, mengkristenkan atau yang
memajusikannya. (HR. Bukhori).
URGENSI
(PENTINGNYA) IMAN DALAM PEMBENTUKAN SYAKHSIAH TOYYIBAH (PRIBADI YANG BAIK) DAN
USROH TOYYIBAH (KELUARGA YANG BAIK)
1. Iman
Merupakan Sumber Kekuatan
Iman merupakan komponen terpenting yang akan
menumbuhkan kekuatan serta mempengaruhi terhadap terbentuknya pribadi dan
keluarga yang baik. Dalam hal ini peranan hati sangatlah dominan karena hati
merupakan wadah yang akan menerima terhadap keimanan, dan mempengaruhi terhadap
jasad untuk melakukan amal sholih. apabila hati diisi dan dihiasi dengan
nilai-nilai keimanan maka kita akan merasakan selalu ada dalam lindungan Allah
dan takut akan siksaan-Nya, sehingga tumbuh sebuah kekuatan yang mendorong
untuk senantiasa menjadi hamba yang baik.
Rasulallah saw bersabada:
“Ketahuilah
bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka seluruh
jasad akan baik dan jika ia rusak maka seluruh jasad juga akan rusak.
Ketahuilah, itu adalah hati”.
Iman Al
Ghozali berkata:
“Bahwa manusia itu terdiri atas wujud
luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut ruh. Ruh inilah yang
beliau sebut hati nurani. Beliau menggambarkan jasad merupakan kerajaan dan
hati nuranu sebagai rajanya, akal sebagai perdana mentri, sedangkan panca indra
sebagi mentri-mentrinya dan organ-organ lain sebagai tentara-tentaranya. Nafsu
sebagai pemungut pajak dan amarah sebagai petugas polisi.
2. Iman
Merupakan Sumber Kebahagiaan
Kebahagiaan merupakan impian yang dirindukan oleh
setiap insan, tidak ada seorangpun yang tidak merindukannya, dari mulai
kalangan bawah sampai kalangan atas semuanya merindukan akan kebahagiaan dalam
hidup.
Lalu dimana kebahagiaan itu? Persoalan ini dari
zaman purbakala sampai sekarang tak kunjung selesai dan tetap menjadi teka teki
yang belum terjawab atau sudah terjawab namun satu sama lain saling berbeda.
Kemudian islam menjawab persoalan ini. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya akan
diperoleh dengan keimanan dan amal sholeh. Allah swt berfirman dalam QS. 16:97
dan QS. 2:25
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang Telah mereka kerjakan”.
“Dan
sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa
bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya”.
Dari
kedua ayat diatas memberikan informasi yang jelas, bahwa yang akan meraih
kebahagiaan hanyalah pribadi-pribadi mukmin yang beramal shalih, apabila kita
menginginkan kebahagiaan yang hakiki maka bentuklah pribadi dan keluarga kita
menjadi pribadi dan keluarga yang baeriman dan beramal sholeh.
3. Iman
Merupakan Sumber Ketenangan Jiwa
Ketenangan jiwa merupakan sumber utama untuk mendapatkan
kebahagiaan, maka tidak ada kebahagiaan kalau tidak ada ketenangan, begitu pula
tidak akan ada ketenangan tanpa keimanan.
Ketenangan jiwa adalah anugrah dari Allah swt yang
diturunkan ke dalam hati orang yang beriman. QS. 48:4
“Dia-lah yang telah menurunkan
ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas
keimanan mereka (yang telah ada)”
Mengapa ketenangan jiwa hanya berhak dimiliki oleh
orang yang beriman? Karena:
- Orang yang beriman menempuh jalan hidup sesuai dengan fitroh yang ditanamkan oleh Allah ke dalam jiwanya (yaitu tauhid). QS. 7:172
- Fitroh manusia itu tidak akan merasakan dengan peradaban maupun dengan ilmu pengetahuan, kecuali hanya dengan keimanan yang dihiasi dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. QS. 13:2
Akhirnya,
semoga kita dapat memperbaiki penjagaan diri dan keluarga dari hari ke hari
dengan lebih baik lagi, sehingga Allah berkenan mengumpulkan kita di dalam
jannah-Nya merengkuh kebahagiaan hakiki, Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar