Betapa sentral dan strategisnya kedudukan sejarah dalam
Islam. Nilai strategis dari kedudukan sejarah dapat dilihat dari fungsi-fungsi
yang terkandung didalamnya, sebagaimana disebutkan dalam Qs. 11:120, 12:111
Dari
keterangan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut terdapat beberapa fungsi sejarah, yang
dapat di gololongkan kedalam tiga kelompok, yakni :
1.
Ibroh , Mauidloh , Nakala , Dzikro
(tadzkiroh)
2.
Hudan , Tafsil , Tatsbit ,
3.
Tasdiq , Rohmah
a.
Sebagai Ibroh
Kata Ibroh ( العِبرَةُ )
jamaknya dari adalah al-ibaru ( العِبَرُ )
mengadung arti peringatan, tauladan atau pelajaran : Fungsi ibroh dari sejarah
Berarti mengambil (menarik) pesan-pesan (pelajaran) yang terkandung dalam
setiap peristiwa sejarah untuk dijadikan cermin dalam menjalani kehidupan .
Dalam setiap peristiwa sejarah terkandung perinsip-perinsip, nilai-nilai, dan
tauladan sebagai pesan yang bias dijadikan rujukan, pedoman, dan contoh (mode)
untuk diterapkan dalam konteks sejarah yang di hadapi.
Pengertian ibroh tidak bias di lepas dari konteks Uswah
(Qs: 33:21). Perbedaan antara Ibroh dan Uswah adalah kalau Uswah
adalah pola dari keseluruhan sejarah dari awal hingga akhir atau disebut
pula dengan Sunnah Rosul SAW. Sedangkan ibroh adalah moment-moment (episode)
sejarah tertentu dalam proses menegakkan Sunnah Rosululloh tersebut. Jadi Uswah
bersifat menyeluruh sebagai pola baku yang tidak bias berubah, sedangkan
ibroh adalah bagian-bagian rincian dari proses uswah tersebut. Suatu
sejarah dapat dijadikan ibroh manakala pesan sejarah atau ibroh tersebut bisa
diterapkan dalam rangka menjalankan menegakkan uswah.
Selain itu, suatu peristiwa sejarah bisa di jadikan ibroh
(Sampel) apabila ada kesesuaian (korelasi) antara kejadian dan situasi yang di
hadapi (baik dari segi latar belakang sebab, alasan dan tujuan). Dengan sejarah
masa lalu yang menjadi rujukan ibroh tersebut, dengan kata lain kita dapat
mengambil ibroh dari sejarah masa lalu (baik sejarah Rosul, para Nabi, dan kaum
muslimin terdahulu) ketika ada kesamaan situasi dan kondisi yang di hadapi
dalam rangka menegakan uswah hasanah Rosululoh Saw.
Adapun peristiwa-peristiwa sejarah yang dapat dijadikan
ibroh tidak hanya terdapat pada sejarah para Rosul, Nabi dan kaum muslimin pra-
Muhammad Rosululoh Saw, tetapi juga terdapat contoh-contoh ibroh pada perjalan
sejarah Muhammad Rosululloh Saw. Maksudnya, selain sebagai Uswah dalam perjalan
sejarah rosululloh Saw .Juga terdapat ibroh-ibroh yang dapat di ambil untuk
kehidupan umat Islam setelah masa beliau. Namum demikian, tidak setiap sejarah
Rosululoh Saw. Dapat kita jadikan Ibroh, karena ada peristiwa-peristiwa
tertentu yang bersifat khusus (unik) dan berlaku hanya untuk masa Rosululoh
Saw. Saja. Perisriwa atau kijadian khhusus ini sesuai dengan konteks jaman,
budaya, (Kultur) dan keadaan social – masyarakat yang dihadapi Rosul ketika
itu. Peristiwa-peristiwa yang khusus ini berkaitan dengan status Muhammad.
Sebagai dasar (manusia) dan bukan Muhammad sebagai Rosul.
Dalam kepastiannya sebagai basar, sejarah Muhammad saw. Terikat dalam konsisi
lingkungan, jiwa jaman serta kultur (budaya) yang berkembang pada masa itu.
Seperti tentang teknologi dalam berperang, dimana dalam peperangan kerika itu
Rosululloh Saw. Menggunakan Panah, tombak, mengendarai kuda onta dan dll. Semua
itu sesuai dengan jamannya sehingga ia tidak bisa di jadikan ibroh oleh kita
hari ini. Tegasnya segala sesuatu yang di lakukan oleh Muhammad Saw. Dalam
kedudukannya sebagai basar bukan termasuk perinsif yang wajib di ikuti (tentang
perbedaan Muhammad sebagai basar dan Rosul akan di jelaskan pada pembahasan selanjutnya).
Fungsi ibroh dari sejarah misalnya dalam contoh khusus
orang-orang Yahudi di usir dari negara Madinah :
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang
kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran
yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun
yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa)
Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak
mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka
memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan
orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai
orang-orang yang mempunyai wawasan yang dimaksud dengan ahli Kitab ialah orang-orang
Yahudi Bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar
dari Madinah”.
Ayat ini menerangkan peristiwa pengusiran kaum Yahudi Bani
Nadzir di sebabkan oleh sikap dan perbuatan mereka yang terbukti melanggar
aturan hokum Negara (Madinah) di samping rencana makar mereka untuk membunuh
pribadi Rosul Saw, penampakan sikap permusuhan dan pembakangan kamu Yahuhi Bani
Nadzir tehadap kepemimpinan Rosul Saw. Tersebut tentu saja tidak lahir
tiba-tiba tanpa sebab yang melatar-belakanya, melainkan hal itu di dorong
berbagai factor, baik karena alasan kepentingan ideoligis, politis, ekonomis
hingga alas an untuk mempertahankan tradisi mereka. Semua pakrtor tersebut pada
akhirnya memuncak, yang nampak upaya-upaya maker mereka terhadap pemerintahan
Islam. Atasi sikap dan tindakan itu mereka layak dan pantas dapat hukuman dari
Rosul Saw. Setimpal dengan pelanggaran yang mereka perbuat.
Peristiwa pengusiran kamum pembangkang Yahudi ini adalah
cuplikan peristiwa yang di alami Rosulloh Saw. Pada masa (Pase) Madinah.
Peristiwa ini bisa kita ambil sebagai ibroh apabila ada kesamaam situasi dan
kondisi dengan sejarah yang kita jalani. Misalnya jika terjadi peristiwa yang
sama, yakni adanya upaya-upaya pembangkangan dan perbuatan maker dari
sekelompok warga madinah seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi
diatas, maka apa yang di lakukan oleh Rosul saw. Terhadap kaum Yahudi tersebut
dapat di jadikan sebagai ibroh. Sebagaimana pada akhir ayat tersebut di
katakana “Maka ambilah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran (Ibroh)”.
Contoh lain adalah pada saat terjadi perang Badar, seperti
dilukiskan dalam Qs. Ali - Imron: 13 yaitu Peristwa ini melukiskan keadaan
mental kaum Musyrikin ketika berhadapan dengan kaum Muslimin di medan perang
(pertempuran). Ibroh yang bisa di tarik dari peristiwa ini adalah bahwa
kualitas dapat mengalahkan kuantitas yang tidak berkualitas. Seperti di
sebutkan dalam Qs. 8:65 bahwa “dua puluh orang yang sabar akan dapat
mengalahkan 200 orang, dan 100 orang yang sabar mampu mengalahkan 1000
orangkafir”. Hal ini tigas pula dalam akhir ayat Qs. 2:249 berbunyi “berapa
banyak terjadi golongan sedikit dapat mengalahkan golongan banyak dengan izin
Alloh, dan Alloh beserta orang-orang yang sabar”.
Perang Badar dan pengusiran Yahudi Bani Nadzir diatas
terjadi pada saat Rosul dan kkaum Muslimin telah hijrah ke Madinah (priode
Madinah). Namun demikian, sesungguhnya dalam fase sejarah Rosul Saw. Terdapat
ibroh-ibroh yang bisa di ambil sebagai pelajaran (pesan) bagi setiap individu
muslimin maupun harokah Islam (lembaga) dalam menentukan kebijakan dan program
gerakanya, sebagaimana Muhammad Rosululloh saw. pun mengambil ibroh-ibroh dari
Rosul-rosul sebelum beliau (Qs. 79:15 -26)
Demikian pula kita dapat mengambil ibroh dari kasus-kasus
atau moment-moment kejadian sepesisik tertentu, apabila ada kesamaan situasi
dengan kenteks sejarah yang dijalani. Pada
intinya setiap pengambilan ibroh harus ada dalam bingkai penegakan Uswah. Tidak
ada ibroh diluar uswah. Mengambil ibroh diluar uswah, selain tidak legitimit
(abash dan bernilai) juga bisa merusak dan membayahakan prinsif strategis
harokah. Singkatnya, ibroh dapat dijadikan sebagai metode atau tauladan dalam
memproses memperjuangkan prinsif strategi (yakni Sunnah Rosululloh Saw).
b.
Sebagai Mau’idhoh
Kata mau’idhoh (الموعظة ) bentuk masdar dari kata kerjanya وعظ يعظ وعظا وعظة artinya : ajaran, pelajaran baik, anjuran,
petunjuk, peringatan teguran yang baik. Sejarah merupakan bentuk pendidikan
Alloh terhadap kaum muslimin sebagai peringatan dalam menjalani Sunnah
Rosululloh saw.
Mau’idhoh adalah metode atau system pendidikan Alloh yang di
berikan melalui proses sejarah. Pendidikan sejarah pada dasarnya untuk
membentuk dan meningkatkan kualitas, sehingga dengan proses sejarah ini
kematangan (kedewasaan) dan kesempurnaan individu dan masyarakat muslim akan
terbentuk .
Didalam setiap proses fase sejarah terdapat berbagai
kejadian yang membuat kita semakin faham dan yakin terhadap kebenaran harokah
(lembaga) yang kita perjuangkan. Adapun bentuk-bentuk pendidikan Alloh melalui
sejarah ini bisa berupa kemenangan dan kekalahan, ujian, cobaan, godaan,
rintangan dan tantangan yang akan selalu mengisi dan mengiringi setiap fase
dari sejarah yang kita jalani.
Tujuan pendidikan Alloh melalui sejarah ini adalah untuk
melahirkan sosok ummat yang memiliki kualitas mu’min, mujahid, istiqomah dan
shobirun. Ummat yang memiliki kualitas ini tentunya hanya akan lahir melalui
interaksi dan keterlibatan diri terhadap sejarah harokah secara total.
Maksudnya ketika seseorang terikat dan mengikat diri dalam setiap program
perjuangan yang digulirkan oleh harokah. Karena dalam keterikatan dan
keterlibatan itulah dia akan mendapat berbagai pendidikan dari Alloh yang
diberikan melalui proses sejarah harokah tersebut. Oleh karena itu, Mustahil
seseorang istiqomah dan sabar tanpa merasakan ujian, cobaan tersebut dan
rintangan dari apa yang perjuangkannya.
Metode pendidikan Alloh melalui sejarah inilah yang telah
diberikan Alloh kepada kaum muslimin di masa Rosul saw. Dalam setiap fase
perjuangannya, Rosul dan para sahabatnya selalu dihadapkan dengan berbagai
mlapetaka (ba’tsa), kesenangan (dloro) serta di guncang (juljilu)
(Qs. 2:214). Mereka harus menghadapi tipu daya, tekanan fisik maupun mental
melalui ancaman pembunuhan, pemenjaraan dan pengusiran dari kaum musyrikin
Quraisy (Qs. 8:30).
Berbagai ujian pahit maupun manis tersebut akan di alami
pula oleh ummat Islam yang mengikuti sejarah yang sama dengan pola sejarah
Rosul Saw. Berbagai tekanan, cobaan dan rintangan, baik yang bersumber dari
dalam maupun dari luar pada hakekatnya adalah bentuk pendidikan terbaik yang
sedang dan akan di berikan Alloh terhadap ummat Islam. Dalam proses perjalan
sejarahnya mereka akan mengahadapi kenyataan-kenyataan serta
“peristiwa-peristiwa”mereka yang sama sebagaimana hal itu di alami dan
dirasakan oleh para pendahulu mereka. Berbagai resiko pahit (ba’tsa, dloro, dan juljilu) merupakan
dari proses tarbiyah Alloh kepada kaum muslimin untuk meningkatkan kualitas
sebagai syarat (pra-kondisi) yang menghantarkan mereka menuju tercapainya
sebuah kemenangan (fatah-falah) serta kemuliaan dan ketinggian derajat, baik عند الله maupun عند النّاس . (Lihat 3:137-142, 29:2,3).
Pendidikan Alloh melalui sejarah ini bertingkat-tingkat
seiring dengan fase-fase sejarah yang akan dilalui ummat. Dan dalam setiap fase
sejarah tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan yang bentuk dan kualitasnya
antara satu fase dengan fase berikutnya. Setiap fase dalam harokah Islam adalah
menaik dan semakin meniggi (progressif). Pada fase makah misalnya, kondisi
ummat dan harokah pada masa ini berada dalam keadaan istidh’af (mustadhafin /
tertindas). Tidak ada kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki, akibatnya
kehidupan mereka diliputi oleh khouf (takut) dan penidasan. Nilai pendidikan
yang terkandung dalam fase Mekkah (istidh’af) ini adalah untuk meningkatkan
untuk kualitas keimanan, kesabaran, kejuhudan, disamping, menumbuhkan sikap
tawakal, khaof, dan roja’ dalam diri kaum muslimin terhadap Alloh SWT. Lihat
Qs. 2:214, 3:139.
Selain mendidik secara mental spiritual, kondisi istih’af
pada fase makiyah ini mengandung pendidikan hukum dan poitik serta berbagai
bentuk pendidikan lainnya yang diterima oleh ummat Islam. Pendidikan politik
dari fase Mekkah (Istidh’af) ini misalnya adalah menyadarkan ummat akan
arti pentingnya kekuasaan politik (yakni tegaknya Negara Islam yang merdeka)
bagi kehidupan mereka. Tegaknya kekuasaan politik ini tidak hanya untuk
melindungi dan melepaskan ummat dari penindasan kaum musyrikin Mekkah, tetapi lebih
darin itu sebagai sarana dan tempat untuk menegakkan prinsif-prinsif keimanan
dan keIslaman (hukum) yang mereka yakini, yang selamanya masa Makiyah mustahil
mereka capai.
Demikianlah ketika ummat memasuki fase-fase sejarak
berikutnya, mereka akan dihadapkan pada situasi, kondisi, ujian dan tantangan
yang berbagai konsekuensi dan implikasi (akibat) yang berbeda dengan fase
Mekkah sebelumnya.
Demikianlah cara Alloh dalam mendidik hamba-hamba-Nya
melalui perjalanan sejarah mereka. Harus disadari bahwa semua perjalanan
sejarah, baik yang sudah, sedang maupun yang akan di lalui pada dasarnya
mengandung nilai-nilai pendidikan. Ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang
menimpa ummat, sebagai cara Alloh mendewasakan dan menyempurnakan kualitas
ummat-Nya. Pada akhirnya melalui proses pendidikan ini akan melahirkan
ummat-ummat yang berkualitas “khoer ummat”
(ummat yang terbaik) (Qs. 3:110) dan “Ummatan
Washaton”.
- Sebagai peringatan (Nakala)
Bagian dari fungsi Mau’dloh diatas, terdapat fungsi
lain dari sejarah ini yakni sebagai peringatan (Nakala النّكال ) 4 . Peringatan ini kita
peroleh dari kejadian – kijadian yang telah terjadi beruap hukuman (siksa) yang
menimpa orang-orang yang melakukan pelanggaran. Seperti dalam kasus kaum Nabi
Musa yang di sebut dalam Qs. 2:66.
“Dan
sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari
Sabtu, lalu kami berfirman kepada mereka :” Jadilah kamu kera yang hina. Maka
kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi
mereka yang dating kemudian, serta menjadi pelajara bagi orang yang bertaqwa”
Kisah ini menerangkan tentang pembalasan terhadap Bani’
Isro’il atas pelanggaran perjanjian mereka dengan Alloh Swt. Pemabalasan
tersebut merupakan konsekuensi (logis) dari sebuah kesalahan yang disengaja
dilakukan.
Contoh lainnya misalnya diungkap dalam Qs.4:84. Ayat ini
menceritakan keengganan sebagian kaum muslimin di Madinah pada zaman Rosululloh
saw. Untuk berperang, padahal perintah perang telah diwajibkan. Dasar
keengganan untuk mentaati intruksi Rosululloh tersebut tiada lain karena ada
penyakit dalam hati mereka (munafiq). Dengan sebab itulah Alloh mengancam
mereka dengan azdab (siksa) sebagai hukuman buat mereka.
Setiap sebab itu akan melahirkan akibat, dan setiap akibat
akan dirasakan oleh orang yang melakukannya. Contoh-contoh peringatan tersebut
berlaku sebagai hukum (Norma) sejarah yang mengikat setiap ummat, yang tidak
akan ada perubahan dalam hukum tersebut. Oleh karena itu pengulangan sejarah
itu bisa terjadi kapan-pun dimana pun manakala hal sama dilakukan.
Setiap peringatan bertujuan untuk memberi efek jera dan
pelajaran bagi mereka yang menyaksikan. Sehingga menutup peluang terjadi
pengulangan kesalahan yang sama dilain waktu dan tempat. Selain itu, memberikan
dorongan kepada ummat untuk terus menerus memelihara diri dari kecenderungan
untuk melakukan tindakan-tindakan yang bisa mengundang turunnya adzab, serta
tetap kosisten terhadap setiap janji, dan taat terhadap aturan-hukum yang telah
di sepakati agar meerka terhindar dan terpelihara dari murka Alloh sebagaimana telah di tunjukkan dalam sejarah
ummat-ummat terdahulu.
Ketika sebuah janji telah diiqrarkan, peraturan telah di
tetapkan dan hokum telah di tegakkan maka pelanggaran terhadap semua itu, baik
dalam bentuk penegakan, pengingkaran, pelanggaran permusuhan adalah isyarat
akan di turunkannya hukuman kepada mereka. Inilah janji Alloh dan Alloh tidak
mengingkari janji-Nya.
- Sebagai Dzikro (Tadzkiroh)
Dzikro ( الذكرى )
artinya adalah peringatan. Maksudnya sejarah sebagai sarana dzikir kepada
Alloh. Sejarah tidak akan berfungsi sebagai sarana dzikir apabila kita tidak
memahami dan menghayati makna dan nilai dari setiap peristiwa sejarah tersebut.
Sebingga pantas terdapat banyak ayat dalam Al-Quran yang memerintah untuk
melakukan penelitian terhadap sejarah (seperti : 47:10, 12:109, 12: 46). Dari
aktivitas Tandzurun (penelitian dan pengkajian) terhadap sejarah maka
akan di ketahui bahwa setiap peristiwa sejarah adalah ayat-ayat Alloh. Dalam
peristiwa sejarah ada keteraturan, norma-norma yang mengikat (berlaku)
didalamnya. Dan setiap gerak sejarah memiliki arah tertentu yang menjadi
tujuannya. Dengan aktivitas tandzurun akan di fahami bahwa setiap
peristiwa sejarah baik yang besar maupun yang kecil tidak terjadi secara
kebetulan, sia-sia dan tanpa tujuan, tetapi ada hukum-hukum yang mendasari
mengapa peristiwa sejarah tersebut itu terjadi.
Adanya keteraturan sejarah ini sudah pasti tidak akan
berjalan (berlaku) tanta adanya Dzat
yang Maha Kuasa yang mampu mengatur dan mengendalikannya. Dengan penelitian
sejarah tersebut seseorang akan sampai pada keyakinan bahwa Dzat (Al-Haq) yang
mengatur, memelihara dan mengurus jalannya seluruh sejarah ummat manusia ini.
Lebih jauh ia akan mengetahui bahwa Alloh adalah Al-Haq yang memiliki dan
menguasai perjalanan ummat manusia.
Dengan memahami sejarah seorang akan memahami eksistensi
Al-Haq (Alloh) dibalik setiap kejadian dan peristiwa. Ia mampu menangkap
perinsif dan subtensi kebenaran yang terkandung didalam peristiwa sejarah, baik
yang telah, sedang dan yang akan datang terjadi. Dengan proses tandzurun akan
menghantarkan pada Al-Haq. Ia akan memahami bahwa semua peristiwa adalah bukti
dari Rububiyah Alloh. Bahwa Alloh adalah pengatur, pemelihara dan pengurus dari
sejarah ummat manusia. Tidak satu peristiwa pun yang lepas dari kendali
Rububiyah Alloh. Bahwa bukanlah manusia yang menentukan hukum sejarah sendir,
tetapi ada norma-norma sejarah yang berasal dari luar diri manusia dimana semua
hukum-hukum sejarah itu mengikat dan membelenggu manusia sehingga ia tidak
keluar dari padanya.
Seperti contoh tentang hukum “sebab-akibat” yang berlaku
dalam sejarah. Misalnya Qur’an menegaskan, betapa banyak dalam kaum-kaum yang
musnah dari muka bumi ini di sebabkan oleh sikap dan perbuatan mereka menentang
terhadap da’wah Rosul yang datang kepada mererka. (Qs. 50:36-37, 7:74-79).
Namun demikian, aktivitas tandzurun (penelitian terhadap
sejarah) tidak akan melahirkan dzikro (tadzkiroh) jika tidak dilandasi
tadabbur, (membaca ayat-ayat kalamiah / Al-Quran). Banyak orang yang
meneliti sejarah namun pemahamannya tidak membuatkannya sadar (Dzikir) kepada
Alloh bahkan sebaliknya menambah kekufurannya. Hal ini karena ada pentunjuk
yang mendasai aktivitas tandzurunnya. Ayat kalamiyah (Al-Quran) adalah
pentunjuk yang akan menjelaskan ayat-ayat kauniyah yang berlaku terhadap
hakekat dan makna dari sejarah. Dengan menghubungkan setiap peristiwa sejarah
dengan ayat-ayat kalamiyah maka seseorang akan semakin faham terhadap hakekat
dan makna dari sejarah. Dan ini akan menambah kesadaran (tadzkiroh) kepada
Alloh Saw. setiap kali melihat dan menjalani sejarahnya.
Oleh karena itu dengan memahami sejarah seorang akan semakin
sadar terhadap eksistensi diri serta tugas dan tanggungjawabnya dalam menjalani
kehidupan. Bahwa perjalanan sejarah ini tiada lain adalah beribadah kepada
Alloh dengan melaksanakan setiap amanah Alloh yang dibebankan kepadanya,
sebagai jalan yang menghantarkannya kepada tujuan tertinggi dari kehidupan ini
yakni tercapainya rahmat dan Mardlotillah fi dunia wal –Akhiroh.
- Sebagai Hudan
Al-Huda ( الهدى ) artinya adalah petunjuk. Sejarah
berfungsi sebagai Hudan maksudnya sejarah memberi petunjuk arah bagi
kaum Muslimin dalam menjalani kehidupannya. Dari sejarah akan tergambar dengan
jelas dari mana kehidupan ini dimulai hidup, harus dan akan kemana perjalan
hidup ini berakhir serta bagaimana kehidupan ini diisi (dijalani). Sejarah dalam hal ini berfungsi menerangi setiap langkah
yang telah, sedang dan akan di jalani (Qs. 3:137-138, 12/111).
Memahami tujuan hidup adalah dasar fundamental dari
kehidupan ini, karena dari sinilah kehidupan seseorang ditentukan. Jika
seseorang tidak faham terhadap tujuan hidup yang sesungguhnya berarti ia tidak
menjalani kehidupan ini dengan benar. Tujuan dan cita-cita hidup itulah yang
akan mengarahkan dan membimbing setiap tingkah laku seseorang. Dan proses
mencapai tujuan hidup tersebut diwujudkan melalui perjalan sejarahnya.
Tujuan hidup ini yang akan menentukan bernilai tidaknya
tindakan yang sedang dan yang akan dilakukan. Sejarah yang kita jalani hari ini
di nilai benar apabila semua tahapan dan proses sejarah tersebut mengarah pada
tujuan yang benar. Demikian pula sejarah sebuah harokah Islam sudah pasti
memiliki arah tujuan yang jelas sebagaimana ditetapkan ajaran Islam itu
sendiri. Adapun dari tujuan dari harokah Islam tiada lain adalah لإلائ الكلمة
الله وتقاء مرضات الله serta ليظهره على دين
كلّه . . Kearah tujuan itulah setiap proses dan
tahapan sejarah bergerak. Tujuan dan cita-cita itu menjadi patokan dan arahan
kemana semua bergerak ummat Islam ini harus ditunjukan.
Dengan memahami tujuan maka akan diketahui pula titik awal
pemberangkatan. Dalam rangka menuju tujuan yang hendak dicapai, maka terlebih
dahulu harus diketahui dari mana awal pemberangkatan sejarah harokah (Lembaga) ini. Memahami tujuan harokah
tanpa memahami dari mana dan atau sedang dimana, sama seperti orang yang tahu
tujuan ke Jakarta tetapi tidak tahu sedang dimana ia berada, sudah pasti ia
tidak akan sampai pernah pada tujuannya. Demikian pula sebaliknya, tahu posisi
sedang dimana tentang tidak tahu tujuaan mau kemana, maka akan tersesat
selamanya.
Dari pemahaman tentang arah-tujuan dan titik awal
pemberangkatan diatas, maka akan diketahui bagaimana cara serta langkah-langkah
apa saja yang harus ditempuh untuk sampai pada tujuan tersebut. Selain itu akan
difahami pula berbagai resiko, rintangan, cobaan dan tantangan dari perjalanan
tersebut.
Rosululloh memberikan petunjuk demikian jelas tentang titik
awal pemberangkatan serta tujuan akhir dari sejarah harokahnya. Sejarah
Rosululloh Saw. Telah sangat sempurna menjelaskan bagaiamana seseorang manusia
yang harus menjalani hidup yang meghantarkannya kepada keselamatan dan
kebahagiaan. Beliua memnerikan Uswah Hasanah kepada kita dari awal
hingga akhir. Yaitu mulai dari Iqro (Qs. 96:1-5) sebagai titik awal
pemberangkatan (Bi’tsah Risalah)
hinga “اليوم أكملت لكم دينكم ..... “.
(Qs. 5:3). Sebagai tujuan akhir dan puncak kesempurnaan.
Gamabaran sejarah Rosul tersebut menjadi petunjuk bagi
perjalan sejarah ummat Islam hari ini yang ittiba’ terhadap Rosululloh Saw.
(Qs. 3:331, 40:38). Dengan petunjuk sejarah Rosul tersebut nampak jelaslah
bentangan sejarah yang akan di jalani oleh ummat Islam dari awal Islam hingga
tujuan akhir. Dengan memahami tujuan dan titik awal harokah, maka akan semakin
jelaslah apa yang seharusnya dilakukan oleh ummat dan harokah tersebut untuk
mewujudkan tujuan ndan cita-cita perjuangannya.
- Sebagai Tafsil
At-tafsil ( التفصيل) adalah kebalikan dari Al-Ijmali, artinya
adalah perincian atau detail. Sejarah berfungsi sebagai Tafsil maksudnya adalah
setiap peristiwa sejarah adalah rangakaian tahapan yang akan menghubungkan
titik awal (Pemberangkatan) sampai
kepada tujuan dan cita-cita perjuangannya.
Fungsi sejarah sebagai tafsil adalah untuk melaksanakan dan
mewujudkan fungsi hudan sebelumnya. Kalau fungsi hudan adalah memberi petunjuk
tentang awal (dari mana) dan arah tujuan, sedangkan fungsi tafsil dari sejarah
adalah sebagai perincian pelaksanaan dan perwujudan dari fungsi hudan tersebut.
Dalam hal ini sejarah menurut Islam tidak hanya memberi petunjuk tentang arah
hidup yang harus di tuju, tetapi juga memberi panduan rincian pelaksanaan untuk
mencapai tujuan tersebut. Panduan perincian sejarah ini akan menghubungkan
antara titik awal pemberangkatan dan tujuan akhir.
Dengan perincian sejarah akan nampak jelas tahapan-tahapan
yang harus dilalui untuk mencapai tujuan harokah. Dengan perincian sejarah (Tafsil) akan diketahui dengan jelas dan
mendetail tahapan-tahapan mana yang harus ditempuh, serta akan difahami mana
hal yang harus di dahulukan (di prioritaskan) dan mana hal-hal yang harus di
akhirkan atau di lakukan kemudian. Sehingga dengan perincian tersebut akan
semakin jelas langkah-langkah serta hubungan dan kesinambungan antara satu
tahapan dengan tahapan yang lainnya.
Fungsi tafsil ini nampak dalam perjalan sejarah Rosululloh
Saw. Sesuai dengan bimbingan wahyu, sejarah Rosululloh Saw. berawal dari iqro
(Qs. 96:1-5) dan diikuti ayat berikutnya Qs. Al-Fatihah 1-7 lalu ayat
berikutnya Qs. 68:1-8 dan seterusnya hingga ayat yang terakhir yaitu Qs.
Al-Maidah ayat 3 rincian perjalan sejarah Rosul ini tidak terpenggal-penggal
atau terpisah satu sama lain, melainkan antara satu tahap ke tahap berikutnya
memiliki hubungannya yang sangat kuat dan tidak bisa di pisahkan. Tahap yang
satu dilanjutkan dan di jelaskan oleh tahap berikutnya dan setiap tahap
menuntut (mengandung Konseksuensi) lahirnya. Tahap berikutnya. Tahapan yang
satu menjadi dasar menuju tahap berikutnya. Demikian seterusnya setiap tahapan
sejarah saling berkaitan dan berkesinambungan satu sama lain secara utuh dan
jelas dari awal hingga akhir (finish) Qs. 12:111)
Seperti contoh tidak akan lahirnya masa (Fase) Madinah sebelum ummat melalui masa
Makiyah. Masa Makiyah memberi landasan dasar terbentuknya masa Madinah
tersebut. Memasuki madinah tanpa di dasari masa Mekkah adalah sesuatu yang
mustahil. Kalaupun bisa saja ummat memasuki masa Madinah tanpa di awali masa
Mekkah, namun masa tersebut akan mudah hacur dan runtuh, karena tidak dibangun
diatas dasar yang kokoh. Seperti halnya membangun rumah yang tidak diawali dari
sebuah pondasi, maka dapat dipastikan akan mudah runtuh diterpa angin.
Singkatnya, dengan tafsil akan diketahui tahapan-tahapan sejarah yang harus di
jalani secara tertib berkesinambungan. Decara kronologis.
Fungsi tafsil tidak hanya memberi gambaran rinci tentang
tahapan-tahapan yang harus di jalani, tepapi juga memberi rincian pelaksanaan
dalam setiap tahapan tersebut. Sehingga akan diketahui mana yang menjadi
pondasi dan mana tiang dan atap hal apa yang harus di lakukan (dibangun) pada
setiap tahapan sejarah. Mana aspek-aspek yang bisa mendukung serta memperkuat
setiap tahapan tersebut. Dengan demikian jelas bahwa tanpa petunjuk rinci
(Tafsil) tersebut mustahil akan tercapai tujuan dengan baik dan benar. Seperti
tujuan membangun sebuah rumah tanpa sebuah petunjuk rinci tentang bagaimana
rumah tersebut harus dibangun. Demikianlah, tidak hanya memberi panduan tentang
awal dan arah tujuan yang harus di capai tetapi juga menjelaskan bagaimana
rincian langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Sehingga dengan berpedoman terhadap tafsil sejarah tersebut kehidupan ummat
akan benar-benar tertib (berstuktur 0 dan dikendali kepada arah tujuan yang
ingin di raih .
Dengan fungsi tafsil ini akan menjelaskan segala sesuatu
peristiwa, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Sehingga ummat
akan memahami mana langkah dan perbuatan yang benar sesuai dengan hudan dan
sebaliknya langakah yang menyimpangkan dan menjauhkan ummat dari arah tujuan.
Dengan demikian, melaui sejarah ummat akan semakin faham terhadap realitas
kehidupan yang dijalaninya. Ia akan berjalan dengan langkah yang pasti, kerena
ia tahu bahwa setiap fase dan setiap langkah dari sejarahnya akan
menghantarkannya kepada tujuan tertinggi yang di idam-idamkan.
Demikian kesadaran terhadap fungsi tafsil dari sejarah
tersebut harus benar-benar dihayati dan di yakini serta di rasakan, bahwa fase kita
hari ini dan setiap perjalanan yang hasur kita lakukan menjadi penentu untuk
tersampainya kepada tujuan hidup, yakni dlohirnya din Islam didalam kehidupan
ini.
- Sebagai Tasbit
Kata tasbit mengandung arti menetapkan, mengekalkan,
mangukuhkan. Pungsi sejarah sebagai tasbit maksudnya bahwa melalui pemahan dan
penghayatan terhadap sejarah akan mengkokohkan keyakinan dalam diri sehingga
tidak tergoyahkan dari wijhah yang haq.
Melalui pemahaman dan penghayatan terhadap sejarah akan
semakin menambah dan meperkuat keimanan dalam diri. Karena didalam sejarah
inilah seseorang akan melihat dan merasakan bukti-bukti kebenaran dari apa yang
diyakininya. Sejarah pada dasarnya adalah sarana dan wadah dalam membuktikan
dan mewujudkan keimanan dan keIslaman, baik dalam lingkup indipidu atau
ijtima’i. Keimanan seseorang akan dibuktikan melalui perjalanan sejarahnya.
Oleh karena itu melalui peroses sejarah ia akan merasakan berbagai ujian,
godaan dan tangtangan serta berbagai resiko lainnya yang merintangi setiap
langkahnya dalam mewujudkan keimanan dan keIslamannya, sebagaimana hal itu
dialami oleh Rosul-Rosul dan kaum muslimin sebelumnya.
Seorang mampu menarik makna dari setiap peristiwa sejarah.
Bahwa ada hikmah dibalik setiap kejadian. Ia menyadari semua ujian dan tantangan
serta rintangan apa saja yang akan dialami dalam proses penegakkan Risalah
tersebut. Semua itu akan semakin mengukuhkan keyakinannya terhadap sejarah
harokah (lembaga yang ia perjuangkan. Ia tidak hanya mampu mencapai haqqul
yaqin, bahkan lebih jauh ia mampu musyahadah (menyaksi) terhadap kebenaran dari
wijhah harokahnya tersebut. Pada tingkat ini seseorang tidak hanya memiliki
kemampuan meluhat dengan mata bathiniyahnya hakekat kebenaran dibalik setiap
penomena sejarah, tetapi juga mampu merasakan dan melebur diri dengan
perjalanan sejarah tersebut. Inilah yang akan melahirkan ketenangan (sakinah)
dalam jiwa-jiwa kaum muslimin (Qs. 48:4). Ia tidak hanya mampu melihat
kebenaran dari harokahnya, tetapi juga mampu menghayati dan merasakan setiap
perisip-perinsip kebenaran yang diyakini tersebut dalam realitas sejarah
harokahnya.
Orang yang telah Haqul yaqin dan Musyahadah terhadap
sejarah (Harokah) nya adalah orang
yang tidak ada lagi jarak yang memisahkan dirinya dengan harokahnya. Ia tidak
hanya meyakini landasan-landasan yang menjadi bukti akan kebenaran dari
harokahnya tetapi juga mampu menjadi pelaku sejarah yang akan merubah,
memperbaharui (meromabak) keadaan sejarah diri maupun masyarakatnya sesuai
dengan perinsif-perinsif Al-Haq yang ia yakini. Orang seperti ini adalah
Ideolog, reformer, dan refolisoner dan selalu berusaha memperjuangkan tegaknya
kembali (merekonstruksi dan merektualisasi) setiap nilai-nilai dan
ajaran-ajaran Islam seperti yang telah di tegakan oleh sejarah ummat di masa
lalu kedalam kehidupan sejarah diri pribadi dan masyarakatnya.
“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami
ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan
dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan
bagi orang-orang yang beriman”.
- Tashdiq
Tashdiq mengandung arti membenarkan, meneguhkan. Sejarah
sebagai tashdiq maksudnya sejarah menjadi legitimasi (Landasan Kebenaran). Kebenaran sejarah hari ini diukur dari sejarah
masa lalu, apakah ada kesinambungan dan kesesuaiana antara sejarah hari ini
dengan sejarah ummat masa lalu.
Jika di kaitkan dengan harokah, maka sejarah menjadi
landasan bukti benar tidaknya sebuah harokah. Sejarah masa lalu menjadi bukti
kebenaran hari ini, dan sebaliknya sejarah hari ini membenarkan bukti kebenaran
sejarah masa lalu. Melalui sejarah ini akan diketahui adakah kesinambungan dan
kesesuaian antara sejarah harokah tersebut dengan sejarah Islam dimasa lalu.
Adapun parameter (ukuran) yang menjadi landasan kebenaran
sebuah harokah adalah adanya kesinambungan ideologis dan historis hari ini
dengan masa lalu dan masa yang akan datang. Yang di maksud kesinambungan
ideologis adalah pertama, adanya hubungan dan kesinambungan yang tak terputus
antara perjuangan ideologi Islam (Tauhid) dari ummat masa lalu dengan ummat
masa kini. Kedua, adanya kesamaan misi ideology yang di perjuangkan dan di
tegakkan oleh ummat hari ini dengan misi ideology yang telah di tegakkan oleh
ummat Islam di masa lalu (yakni misi Tauhid / Islam).
Sedangkan yang di maksud kesinambungan historis juga
mengandung dua arti. Pertama sejarah hari ini memiliki kesinambungan
yang tidak terputus dengan sejarah ummat masa lalu, dimana sejarah ummat hari
ini adalah untuk meneruskan sejarah ummat Islam sebelumnya. Yakni dimaksud
meneruskan/ melanjutkan disini adalah dalam hal penegakan visi – misi,
kepemimpinan dan manhaj Al-Haq (Islam /
Tauhid). Sehingga tidak ada keputusan sejarah antara masa lalu dan dengan
sejarah kita jalani hari ini. Kedua, proses sejarah ummat hari ini
sesuai dengan proses sejarah yang di lalui oleh sejarah ummat masa lalu.
Maksudnya, sejarah ummat hari ini merupakan rekonstruksi dan reaktualisai (upaya
menegakkan kembali dari sejarah ummat
sebelumnya. Dengan demikian, ada “
kesamaan” perjalanan sejarah yang dilalui ummat hari ini dengan perjalanan
sejarah ummat masa lalu tersebut.
Sejarah hari ini menjadi bathal jika tidak ada benang merah
yang menghubungkan dengan sejarah Al-Islam di masa lalu. Akibatnya, segala yang
dilakukan oleh ummat Islam hari ini tidak memiliki dasar (Legitimasi) yang membenarkan terhadap apa yang mereka lakukan.
Dengan kata lain apa yang dilakukan hari ini adalah sesuatu yang baru yang
tidak terkait dengan sejarah Al-Haq sebelumnya.
Sejarah dalam Islam adalah sejarah yang berkesinambungan
antara satu ummat dengan ummat berikutnya tanpa terputus. Demikian Al-Quran
menerangkan bahwa setiap habis ajal suatu ummat maka akan diutus kembali ummat
yang lainnya. Demikian pula setiap Rosul wafat maka akan di utus Rosul-rosul.
Diawali dari sejarah Nabi Adam kemudian dilanjutkan oleh
Rosul dan nabi serta ummat berikutnya secara tidak terputus. Rosul yang satu
melanjutkan sejarah Rosul sebelumnya, dan setiap Rosul yang di utus memiliki
kesinambungan histories yang sejarah dengan sejarah Rosul-rosul sebelumnya. Ini
Urwatul Wusqo, sebuah benang merah yang tidak terputus dari mulai sejarah Nabi
Adam hingga sejarah ummat di akhir Jaman kelak. Adanya Urwatul Wusqo yang
menjadi pembenaran (Tasdiq Musoddiq)
antara ummat dengan ummat yang lainnya.
Demikian dengan sejarah harokah yang sedang di perjuangkan
oleh ummat Islam hari ini adalah membenarkan tentang sejarah Islam dimasa lalu.
Proses perjuangan ummat hari ini adalah dalam rangka meneruskan dan menegakkan
kembali misi ideologis (Al-Islam / Tauhid)
dari perjuangan ideology yang sama dari ummat-ummat terdahulu. Selain menjadi
tasdiq terhadap sejarah Islam dimasa lalu, sejarah hari ini juga akan membenarkan
(dasar legitimasi) terhadap segala apa yang dilakukan dimasa yang akan datang
(sejarah masa depan).
- Rohmat
Sejarah merupakan wujud curahan kasih sayang dan kecintaan
(rahmat) yang di karuniakan Alloh kepada hamba-hamba-Nya. Melalui keterlibatan
kedalam proses sejarah (harokah Islam) ini akan terasa bagaimana wujud
Rohmaniah dan Rohimiah Alloh (seperti Qs. 4:95-96, 3:159). Curahan rahmat ini
hanya di berikan kepada hamba-hamba pilihan Alloh (Musthofaenal Akhyar ), yakni
mereka beriman, berhijrah, dan berjihad fi sabilillah (Qs. 2:218, 2:157),
menegakan ketaatan kepada Alloh dan Rosul dalam setiap langkah dan gerak
sejarahnya. Mereka ini bersama-sama dengan orang-orang yang di anugrahi ni’mat
oleh Alloh, yaitu nabi-nabi, para sidikin, dan syuhada serta orang-orang soleh
(Qs. 4:69). Karena mereka inilah orang-orang yang benar-benar mengharaf rohmat
dan ridlo Alloh Swt. (يرجون رحمة الله )
serta tidak pernah putus asa terhadap rohmat Alloh tersebut. Curahan Rohmatulla,
yang menjadi haq bagi orang-orang yang menghambakan diri hanya kepada عزّ وجلّ semata-mata.
Melalui perjalan sejarah dengan berbagai luka-liku di
dalamnya akan menyadarkan kita bahwa bukanlah usaha manusia yang menyampaikan
pada maksud cita-cita, bukan pula amal dan ikhtiyar manusia yang dapat
melaksanakan maksud yang manapun juga, melainkan semua itu hanyalah tergantung
kepada Kurnia Alloh semata-mata. Tanggung jawab manusia (ummat) hanyalah
melakukan daya upaya, ikhtiyar, usaha, tegasnya melakukan waijib suci, demi
mencukupkan perintah Alloh semata, dengan mentaati uswah hasanah Rosul Saw.
Oleh karena itu, membangun persiapan dan kesiapan untuk menerima curahan rahmat
itulah yang menjadi tanggungjawab setiap ummat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar