Minggu, 20 November 2016

Fungsi Sejarah



Betapa sentral dan strategisnya kedudukan sejarah dalam Islam. Nilai strategis dari kedudukan sejarah dapat dilihat dari fungsi-fungsi yang terkandung didalamnya, sebagaimana disebutkan dalam Qs. 11:120, 12:111
Dari keterangan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut terdapat beberapa fungsi sejarah, yang dapat di gololongkan kedalam tiga kelompok, yakni :
1.      Ibroh , Mauidloh , Nakala , Dzikro (tadzkiroh)
2.      Hudan , Tafsil , Tatsbit ,
3.      Tasdiq , Rohmah

a.      Sebagai Ibroh
Kata Ibroh ( العِبرَةُ   ) jamaknya dari adalah al-ibaru ( العِبَرُ  ) mengadung arti peringatan, tauladan atau pelajaran : Fungsi ibroh dari sejarah Berarti mengambil (menarik) pesan-pesan (pelajaran) yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah untuk dijadikan cermin dalam menjalani kehidupan . Dalam setiap peristiwa sejarah terkandung perinsip-perinsip, nilai-nilai, dan tauladan sebagai pesan yang bias dijadikan rujukan, pedoman, dan contoh (mode) untuk diterapkan dalam konteks sejarah yang di hadapi.
Pengertian ibroh tidak bias di lepas dari konteks Uswah (Qs: 33:21). Perbedaan antara Ibroh dan Uswah adalah kalau Uswah adalah pola dari keseluruhan sejarah dari awal hingga akhir atau disebut pula dengan Sunnah Rosul SAW. Sedangkan ibroh adalah moment-moment (episode) sejarah tertentu dalam proses menegakkan Sunnah Rosululloh tersebut. Jadi Uswah bersifat menyeluruh sebagai pola baku yang tidak bias berubah, sedangkan ibroh adalah bagian-bagian rincian dari proses uswah tersebut. Suatu sejarah dapat dijadikan ibroh manakala pesan sejarah atau ibroh tersebut bisa diterapkan dalam rangka menjalankan menegakkan uswah.
Selain itu, suatu peristiwa sejarah bisa di jadikan ibroh (Sampel) apabila ada kesesuaian (korelasi) antara kejadian dan situasi yang di hadapi (baik dari segi latar belakang sebab, alasan dan tujuan). Dengan sejarah masa lalu yang menjadi rujukan ibroh tersebut, dengan kata lain kita dapat mengambil ibroh dari sejarah masa lalu (baik sejarah Rosul, para Nabi, dan kaum muslimin terdahulu) ketika ada kesamaan situasi dan kondisi yang di hadapi dalam rangka menegakan uswah hasanah Rosululoh Saw.
Adapun peristiwa-peristiwa sejarah yang dapat dijadikan ibroh tidak hanya terdapat pada sejarah para Rosul, Nabi dan kaum muslimin pra- Muhammad Rosululoh Saw, tetapi juga terdapat contoh-contoh ibroh pada perjalan sejarah Muhammad Rosululloh Saw. Maksudnya, selain sebagai Uswah dalam perjalan sejarah rosululloh Saw .Juga terdapat ibroh-ibroh yang dapat di ambil untuk kehidupan umat Islam setelah masa beliau. Namum demikian, tidak setiap sejarah Rosululoh Saw. Dapat kita jadikan Ibroh, karena ada peristiwa-peristiwa tertentu yang bersifat khusus (unik) dan berlaku hanya untuk masa Rosululoh Saw. Saja. Perisriwa atau kijadian khhusus ini sesuai dengan konteks jaman, budaya, (Kultur) dan keadaan social – masyarakat yang dihadapi Rosul ketika itu. Peristiwa-peristiwa yang khusus ini berkaitan dengan status Muhammad.
Sebagai dasar (manusia) dan bukan Muhammad sebagai Rosul. Dalam kepastiannya sebagai basar, sejarah Muhammad saw. Terikat dalam konsisi lingkungan, jiwa jaman serta kultur (budaya) yang berkembang pada masa itu. Seperti tentang teknologi dalam berperang, dimana dalam peperangan kerika itu Rosululloh Saw. Menggunakan Panah, tombak, mengendarai kuda onta dan dll. Semua itu sesuai dengan jamannya sehingga ia tidak bisa di jadikan ibroh oleh kita hari ini. Tegasnya segala sesuatu yang di lakukan oleh Muhammad Saw. Dalam kedudukannya sebagai basar bukan termasuk perinsif yang wajib di ikuti (tentang perbedaan Muhammad sebagai basar dan Rosul akan di jelaskan pada pembahasan selanjutnya).
Fungsi ibroh dari sejarah misalnya dalam contoh khusus orang-orang Yahudi di usir dari negara Madinah :
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan yang dimaksud dengan ahli Kitab ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah”.
Ayat ini menerangkan peristiwa pengusiran kaum Yahudi Bani Nadzir di sebabkan oleh sikap dan perbuatan mereka yang terbukti melanggar aturan hokum Negara (Madinah) di samping rencana makar mereka untuk membunuh pribadi Rosul Saw, penampakan sikap permusuhan dan pembakangan kamu Yahuhi Bani Nadzir tehadap kepemimpinan Rosul Saw. Tersebut tentu saja tidak lahir tiba-tiba tanpa sebab yang melatar-belakanya, melainkan hal itu di dorong berbagai factor, baik karena alasan kepentingan ideoligis, politis, ekonomis hingga alas an untuk mempertahankan tradisi mereka. Semua pakrtor tersebut pada akhirnya memuncak, yang nampak upaya-upaya maker mereka terhadap pemerintahan Islam. Atasi sikap dan tindakan itu mereka layak dan pantas dapat hukuman dari Rosul Saw. Setimpal dengan pelanggaran yang mereka perbuat.
Peristiwa pengusiran kamum pembangkang Yahudi ini adalah cuplikan peristiwa yang di alami Rosulloh Saw. Pada masa (Pase) Madinah. Peristiwa ini bisa kita ambil sebagai ibroh apabila ada kesamaam situasi dan kondisi dengan sejarah yang kita jalani. Misalnya jika terjadi peristiwa yang sama, yakni adanya upaya-upaya pembangkangan dan perbuatan maker dari sekelompok warga madinah seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi diatas, maka apa yang di lakukan oleh Rosul saw. Terhadap kaum Yahudi tersebut dapat di jadikan sebagai ibroh. Sebagaimana pada akhir ayat tersebut di katakana “Maka ambilah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran (Ibroh)”.
Contoh lain adalah pada saat terjadi perang Badar, seperti dilukiskan dalam Qs. Ali - Imron: 13 yaitu Peristwa ini melukiskan keadaan mental kaum Musyrikin ketika berhadapan dengan kaum Muslimin di medan perang (pertempuran). Ibroh yang bisa di tarik dari peristiwa ini adalah bahwa kualitas dapat mengalahkan kuantitas yang tidak berkualitas. Seperti di sebutkan dalam Qs. 8:65 bahwa “dua puluh orang yang sabar akan dapat mengalahkan 200 orang, dan 100 orang yang sabar mampu mengalahkan 1000 orangkafir”. Hal ini tigas pula dalam akhir ayat Qs. 2:249 berbunyi “berapa banyak terjadi golongan sedikit dapat mengalahkan golongan banyak dengan izin Alloh, dan Alloh beserta orang-orang yang sabar”.
Perang Badar dan pengusiran Yahudi Bani Nadzir diatas terjadi pada saat Rosul dan kkaum Muslimin telah hijrah ke Madinah (priode Madinah). Namun demikian, sesungguhnya dalam fase sejarah Rosul Saw. Terdapat ibroh-ibroh yang bisa di ambil sebagai pelajaran (pesan) bagi setiap individu muslimin maupun harokah Islam (lembaga) dalam menentukan kebijakan dan program gerakanya, sebagaimana Muhammad Rosululloh saw. pun mengambil ibroh-ibroh dari Rosul-rosul sebelum beliau (Qs. 79:15 -26)
Demikian pula kita dapat mengambil ibroh dari kasus-kasus atau moment-moment kejadian sepesisik tertentu, apabila ada kesamaan situasi dengan kenteks sejarah yang dijalani. Pada intinya setiap pengambilan ibroh harus ada dalam bingkai penegakan Uswah. Tidak ada ibroh diluar uswah. Mengambil ibroh diluar uswah, selain tidak legitimit (abash dan bernilai) juga bisa merusak dan membayahakan prinsif strategis harokah. Singkatnya, ibroh dapat dijadikan sebagai metode atau tauladan dalam memproses memperjuangkan prinsif strategi (yakni Sunnah Rosululloh Saw).

b.      Sebagai Mau’idhoh
Kata mau’idhoh (الموعظة ) bentuk masdar dari kata kerjanya  وعظ يعظ وعظا وعظة  artinya : ajaran, pelajaran baik, anjuran, petunjuk, peringatan teguran yang baik. Sejarah merupakan bentuk pendidikan Alloh terhadap kaum muslimin sebagai peringatan dalam menjalani Sunnah Rosululloh saw.
Mau’idhoh adalah metode atau system pendidikan Alloh yang di berikan melalui proses sejarah. Pendidikan sejarah pada dasarnya untuk membentuk dan meningkatkan kualitas, sehingga dengan proses sejarah ini kematangan (kedewasaan) dan kesempurnaan individu dan masyarakat muslim akan terbentuk .
Didalam setiap proses fase sejarah terdapat berbagai kejadian yang membuat kita semakin faham dan yakin terhadap kebenaran harokah (lembaga) yang kita perjuangkan. Adapun bentuk-bentuk pendidikan Alloh melalui sejarah ini bisa berupa kemenangan dan kekalahan, ujian, cobaan, godaan, rintangan dan tantangan yang akan selalu mengisi dan mengiringi setiap fase dari sejarah yang kita jalani.
Tujuan pendidikan Alloh melalui sejarah ini adalah untuk melahirkan sosok ummat yang memiliki kualitas mu’min, mujahid, istiqomah dan shobirun. Ummat yang memiliki kualitas ini tentunya hanya akan lahir melalui interaksi dan keterlibatan diri terhadap sejarah harokah secara total. Maksudnya ketika seseorang terikat dan mengikat diri dalam setiap program perjuangan yang digulirkan oleh harokah. Karena dalam keterikatan dan keterlibatan itulah dia akan mendapat berbagai pendidikan dari Alloh yang diberikan melalui proses sejarah harokah tersebut. Oleh karena itu, Mustahil seseorang istiqomah dan sabar tanpa merasakan ujian, cobaan tersebut dan rintangan dari apa yang perjuangkannya.
Metode pendidikan Alloh melalui sejarah inilah yang telah diberikan Alloh kepada kaum muslimin di masa Rosul saw. Dalam setiap fase perjuangannya, Rosul dan para sahabatnya selalu dihadapkan dengan berbagai mlapetaka (ba’tsa), kesenangan (dloro) serta di guncang (juljilu) (Qs. 2:214). Mereka harus menghadapi tipu daya, tekanan fisik maupun mental melalui ancaman pembunuhan, pemenjaraan dan pengusiran dari kaum musyrikin Quraisy (Qs. 8:30).
Berbagai ujian pahit maupun manis tersebut akan di alami pula oleh ummat Islam yang mengikuti sejarah yang sama dengan pola sejarah Rosul Saw. Berbagai tekanan, cobaan dan rintangan, baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar pada hakekatnya adalah bentuk pendidikan terbaik yang sedang dan akan di berikan Alloh terhadap ummat Islam. Dalam proses perjalan sejarahnya mereka akan mengahadapi kenyataan-kenyataan serta “peristiwa-peristiwa”mereka yang sama sebagaimana hal itu di alami dan dirasakan oleh para pendahulu mereka. Berbagai resiko pahit (ba’tsa, dloro, dan juljilu) merupakan dari proses tarbiyah Alloh kepada kaum muslimin untuk meningkatkan kualitas sebagai syarat (pra-kondisi) yang menghantarkan mereka menuju tercapainya sebuah kemenangan (fatah-falah) serta kemuliaan dan ketinggian derajat, baik عند الله   maupun عند النّاس . (Lihat 3:137-142, 29:2,3).
Pendidikan Alloh melalui sejarah ini bertingkat-tingkat seiring dengan fase-fase sejarah yang akan dilalui ummat. Dan dalam setiap fase sejarah tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan yang bentuk dan kualitasnya antara satu fase dengan fase berikutnya. Setiap fase dalam harokah Islam adalah menaik dan semakin meniggi (progressif). Pada fase makah misalnya, kondisi ummat dan harokah pada masa ini berada dalam keadaan istidh’af (mustadhafin / tertindas). Tidak ada kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki, akibatnya kehidupan mereka diliputi oleh khouf (takut) dan penidasan. Nilai pendidikan yang terkandung dalam fase Mekkah (istidh’af) ini adalah untuk meningkatkan untuk kualitas keimanan, kesabaran, kejuhudan, disamping, menumbuhkan sikap tawakal, khaof, dan roja’ dalam diri kaum muslimin terhadap Alloh SWT. Lihat Qs. 2:214, 3:139.
Selain mendidik secara mental spiritual, kondisi istih’af pada fase makiyah ini mengandung pendidikan hukum dan poitik serta berbagai bentuk pendidikan lainnya yang diterima oleh ummat Islam. Pendidikan politik dari fase Mekkah (Istidh’af) ini misalnya adalah menyadarkan ummat akan arti pentingnya kekuasaan politik (yakni tegaknya Negara Islam yang merdeka) bagi kehidupan mereka. Tegaknya kekuasaan politik ini tidak hanya untuk melindungi dan melepaskan ummat dari penindasan kaum musyrikin Mekkah, tetapi lebih darin itu sebagai sarana dan tempat untuk menegakkan prinsif-prinsif keimanan dan keIslaman (hukum) yang mereka yakini, yang selamanya masa Makiyah mustahil mereka capai.
Demikianlah ketika ummat memasuki fase-fase sejarak berikutnya, mereka akan dihadapkan pada situasi, kondisi, ujian dan tantangan yang berbagai konsekuensi dan implikasi (akibat) yang berbeda dengan fase Mekkah sebelumnya.
Demikianlah cara Alloh dalam mendidik hamba-hamba-Nya melalui perjalanan sejarah mereka. Harus disadari bahwa semua perjalanan sejarah, baik yang sudah, sedang maupun yang akan di lalui pada dasarnya mengandung nilai-nilai pendidikan. Ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang menimpa ummat, sebagai cara Alloh mendewasakan dan menyempurnakan kualitas ummat-Nya. Pada akhirnya melalui proses pendidikan ini akan melahirkan ummat-ummat yang berkualitas “khoer ummat” (ummat yang terbaik) (Qs. 3:110) dan “Ummatan Washaton”.

  1. Sebagai peringatan (Nakala)
Bagian dari fungsi Mau’dloh diatas, terdapat fungsi lain dari sejarah ini yakni sebagai peringatan (Nakala النّكال ) 4 . Peringatan ini kita peroleh dari kejadian – kijadian yang telah terjadi beruap hukuman (siksa) yang menimpa orang-orang yang melakukan pelanggaran. Seperti dalam kasus kaum Nabi Musa yang di sebut dalam Qs. 2:66.
“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu kami berfirman kepada mereka :” Jadilah kamu kera yang hina. Maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang dating kemudian, serta menjadi pelajara bagi orang yang bertaqwa”
Kisah ini menerangkan tentang pembalasan terhadap Bani’ Isro’il atas pelanggaran perjanjian mereka dengan Alloh Swt. Pemabalasan tersebut merupakan konsekuensi (logis) dari sebuah kesalahan yang disengaja dilakukan.
Contoh lainnya misalnya diungkap dalam Qs.4:84. Ayat ini menceritakan keengganan sebagian kaum muslimin di Madinah pada zaman Rosululloh saw. Untuk berperang, padahal perintah perang telah diwajibkan. Dasar keengganan untuk mentaati intruksi Rosululloh tersebut tiada lain karena ada penyakit dalam hati mereka (munafiq). Dengan sebab itulah Alloh mengancam mereka dengan azdab (siksa) sebagai hukuman buat mereka.
Setiap sebab itu akan melahirkan akibat, dan setiap akibat akan dirasakan oleh orang yang melakukannya. Contoh-contoh peringatan tersebut berlaku sebagai hukum (Norma) sejarah yang mengikat setiap ummat, yang tidak akan ada perubahan dalam hukum tersebut. Oleh karena itu pengulangan sejarah itu bisa terjadi kapan-pun dimana pun manakala hal sama dilakukan.
Setiap peringatan bertujuan untuk memberi efek jera dan pelajaran bagi mereka yang menyaksikan. Sehingga menutup peluang terjadi pengulangan kesalahan yang sama dilain waktu dan tempat. Selain itu, memberikan dorongan kepada ummat untuk terus menerus memelihara diri dari kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan yang bisa mengundang turunnya adzab, serta tetap kosisten terhadap setiap janji, dan taat terhadap aturan-hukum yang telah di sepakati agar meerka terhindar dan terpelihara dari murka Alloh  sebagaimana telah di tunjukkan dalam sejarah ummat-ummat terdahulu.
Ketika sebuah janji telah diiqrarkan, peraturan telah di tetapkan dan hokum telah di tegakkan maka pelanggaran terhadap semua itu, baik dalam bentuk penegakan, pengingkaran, pelanggaran permusuhan adalah isyarat akan di turunkannya hukuman kepada mereka. Inilah janji Alloh dan Alloh tidak mengingkari janji-Nya.

  1. Sebagai Dzikro (Tadzkiroh)
Dzikro ( الذكرى  ) artinya adalah peringatan. Maksudnya sejarah sebagai sarana dzikir kepada Alloh. Sejarah tidak akan berfungsi sebagai sarana dzikir apabila kita tidak memahami dan menghayati makna dan nilai dari setiap peristiwa sejarah tersebut. Sebingga pantas terdapat banyak ayat dalam Al-Quran yang memerintah untuk melakukan penelitian terhadap sejarah (seperti : 47:10, 12:109, 12: 46). Dari aktivitas Tandzurun (penelitian dan pengkajian) terhadap sejarah maka akan di ketahui bahwa setiap peristiwa sejarah adalah ayat-ayat Alloh. Dalam peristiwa sejarah ada keteraturan, norma-norma yang mengikat (berlaku) didalamnya. Dan setiap gerak sejarah memiliki arah tertentu yang menjadi tujuannya. Dengan aktivitas tandzurun akan di fahami bahwa setiap peristiwa sejarah baik yang besar maupun yang kecil tidak terjadi secara kebetulan, sia-sia dan tanpa tujuan, tetapi ada hukum-hukum yang mendasari mengapa peristiwa sejarah tersebut itu terjadi.
Adanya keteraturan sejarah ini sudah pasti tidak akan berjalan (berlaku) tanta adanya Dzat yang Maha Kuasa yang mampu mengatur dan mengendalikannya. Dengan penelitian sejarah tersebut seseorang akan sampai pada keyakinan bahwa Dzat (Al-Haq) yang mengatur, memelihara dan mengurus jalannya seluruh sejarah ummat manusia ini. Lebih jauh ia akan mengetahui bahwa Alloh adalah Al-Haq yang memiliki dan menguasai perjalanan ummat manusia.
Dengan memahami sejarah seorang akan memahami eksistensi Al-Haq (Alloh) dibalik setiap kejadian dan peristiwa. Ia mampu menangkap perinsif dan subtensi kebenaran yang terkandung didalam peristiwa sejarah, baik yang telah, sedang dan yang akan datang terjadi. Dengan proses tandzurun akan menghantarkan pada Al-Haq. Ia akan memahami bahwa semua peristiwa adalah bukti dari Rububiyah Alloh. Bahwa Alloh adalah pengatur, pemelihara dan pengurus dari sejarah ummat manusia. Tidak satu peristiwa pun yang lepas dari kendali Rububiyah Alloh. Bahwa bukanlah manusia yang menentukan hukum sejarah sendir, tetapi ada norma-norma sejarah yang berasal dari luar diri manusia dimana semua hukum-hukum sejarah itu mengikat dan membelenggu manusia sehingga ia tidak keluar dari padanya.
Seperti contoh tentang hukum “sebab-akibat” yang berlaku dalam sejarah. Misalnya Qur’an menegaskan, betapa banyak dalam kaum-kaum yang musnah dari muka bumi ini di sebabkan oleh sikap dan perbuatan mereka menentang terhadap da’wah Rosul yang datang kepada mererka. (Qs. 50:36-37, 7:74-79).
Namun demikian, aktivitas tandzurun (penelitian terhadap sejarah) tidak akan melahirkan dzikro (tadzkiroh) jika tidak dilandasi tadabbur, (membaca ayat-ayat kalamiah / Al-Quran). Banyak orang yang meneliti sejarah namun pemahamannya tidak membuatkannya sadar (Dzikir) kepada Alloh bahkan sebaliknya menambah kekufurannya. Hal ini karena ada pentunjuk yang mendasai aktivitas tandzurunnya. Ayat kalamiyah (Al-Quran) adalah pentunjuk yang akan menjelaskan ayat-ayat kauniyah yang berlaku terhadap hakekat dan makna dari sejarah. Dengan menghubungkan setiap peristiwa sejarah dengan ayat-ayat kalamiyah maka seseorang akan semakin faham terhadap hakekat dan makna dari sejarah. Dan ini akan menambah kesadaran (tadzkiroh) kepada Alloh Saw. setiap kali melihat dan menjalani sejarahnya.
Oleh karena itu dengan memahami sejarah seorang akan semakin sadar terhadap eksistensi diri serta tugas dan tanggungjawabnya dalam menjalani kehidupan. Bahwa perjalanan sejarah ini tiada lain adalah beribadah kepada Alloh dengan melaksanakan setiap amanah Alloh yang dibebankan kepadanya, sebagai jalan yang menghantarkannya kepada tujuan tertinggi dari kehidupan ini yakni tercapainya rahmat dan Mardlotillah fi dunia wal –Akhiroh.

  1. Sebagai Hudan
Al-Huda ( الهدى ) artinya adalah petunjuk. Sejarah berfungsi sebagai Hudan maksudnya sejarah memberi petunjuk arah bagi kaum Muslimin dalam menjalani kehidupannya. Dari sejarah akan tergambar dengan jelas dari mana kehidupan ini dimulai hidup, harus dan akan kemana perjalan hidup ini berakhir serta bagaimana kehidupan ini diisi (dijalani). Sejarah dalam hal ini berfungsi menerangi setiap langkah yang telah, sedang dan akan di jalani (Qs. 3:137-138, 12/111).
Memahami tujuan hidup adalah dasar fundamental dari kehidupan ini, karena dari sinilah kehidupan seseorang ditentukan. Jika seseorang tidak faham terhadap tujuan hidup yang sesungguhnya berarti ia tidak menjalani kehidupan ini dengan benar. Tujuan dan cita-cita hidup itulah yang akan mengarahkan dan membimbing setiap tingkah laku seseorang. Dan proses mencapai tujuan hidup tersebut diwujudkan melalui perjalan sejarahnya.
Tujuan hidup ini yang akan menentukan bernilai tidaknya tindakan yang sedang dan yang akan dilakukan. Sejarah yang kita jalani hari ini di nilai benar apabila semua tahapan dan proses sejarah tersebut mengarah pada tujuan yang benar. Demikian pula sejarah sebuah harokah Islam sudah pasti memiliki arah tujuan yang jelas sebagaimana ditetapkan ajaran Islam itu sendiri. Adapun dari tujuan dari harokah Islam tiada lain adalah لإلائ الكلمة الله وتقاء مرضات الله   serta ليظهره على دين كلّه .   . Kearah tujuan itulah setiap proses dan tahapan sejarah bergerak. Tujuan dan cita-cita itu menjadi patokan dan arahan kemana semua bergerak ummat Islam ini harus ditunjukan.
Dengan memahami tujuan maka akan diketahui pula titik awal pemberangkatan. Dalam rangka menuju tujuan yang hendak dicapai, maka terlebih dahulu harus diketahui dari mana awal pemberangkatan sejarah harokah (Lembaga) ini. Memahami tujuan harokah tanpa memahami dari mana dan atau sedang dimana, sama seperti orang yang tahu tujuan ke Jakarta tetapi tidak tahu sedang dimana ia berada, sudah pasti ia tidak akan sampai pernah pada tujuannya. Demikian pula sebaliknya, tahu posisi sedang dimana tentang tidak tahu tujuaan mau kemana, maka akan tersesat selamanya.
Dari pemahaman tentang arah-tujuan dan titik awal pemberangkatan diatas, maka akan diketahui bagaimana cara serta langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh untuk sampai pada tujuan tersebut. Selain itu akan difahami pula berbagai resiko, rintangan, cobaan dan tantangan dari perjalanan tersebut.
Rosululloh memberikan petunjuk demikian jelas tentang titik awal pemberangkatan serta tujuan akhir dari sejarah harokahnya. Sejarah Rosululloh Saw. Telah sangat sempurna menjelaskan bagaiamana seseorang manusia yang harus menjalani hidup yang meghantarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan. Beliua memnerikan Uswah Hasanah kepada kita dari awal hingga akhir. Yaitu mulai dari Iqro (Qs. 96:1-5) sebagai titik awal pemberangkatan (Bi’tsah Risalah) hinga “اليوم أكملت لكم دينكم .....  “. (Qs. 5:3). Sebagai tujuan akhir dan puncak kesempurnaan.
Gamabaran sejarah Rosul tersebut menjadi petunjuk bagi perjalan sejarah ummat Islam hari ini yang ittiba’ terhadap Rosululloh Saw. (Qs. 3:331, 40:38). Dengan petunjuk sejarah Rosul tersebut nampak jelaslah bentangan sejarah yang akan di jalani oleh ummat Islam dari awal Islam hingga tujuan akhir. Dengan memahami tujuan dan titik awal harokah, maka akan semakin jelaslah apa yang seharusnya dilakukan oleh ummat dan harokah tersebut untuk mewujudkan tujuan ndan cita-cita perjuangannya.

  1. Sebagai Tafsil
At-tafsil ( التفصيل) adalah kebalikan dari Al-Ijmali, artinya adalah perincian atau detail. Sejarah berfungsi sebagai Tafsil maksudnya adalah setiap peristiwa sejarah adalah rangakaian tahapan yang akan menghubungkan titik awal (Pemberangkatan) sampai kepada tujuan dan cita-cita perjuangannya.
Fungsi sejarah sebagai tafsil adalah untuk melaksanakan dan mewujudkan fungsi hudan sebelumnya. Kalau fungsi hudan adalah memberi petunjuk tentang awal (dari mana) dan arah tujuan, sedangkan fungsi tafsil dari sejarah adalah sebagai perincian pelaksanaan dan perwujudan dari fungsi hudan tersebut. Dalam hal ini sejarah menurut Islam tidak hanya memberi petunjuk tentang arah hidup yang harus di tuju, tetapi juga memberi panduan rincian pelaksanaan untuk mencapai tujuan tersebut. Panduan perincian sejarah ini akan menghubungkan antara titik awal pemberangkatan dan tujuan akhir.
Dengan perincian sejarah akan nampak jelas tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan harokah. Dengan perincian sejarah (Tafsil) akan diketahui dengan jelas dan mendetail tahapan-tahapan mana yang harus ditempuh, serta akan difahami mana hal yang harus di dahulukan (di prioritaskan) dan mana hal-hal yang harus di akhirkan atau di lakukan kemudian. Sehingga dengan perincian tersebut akan semakin jelas langkah-langkah serta hubungan dan kesinambungan antara satu tahapan dengan tahapan yang lainnya.
Fungsi tafsil ini nampak dalam perjalan sejarah Rosululloh Saw. Sesuai dengan bimbingan wahyu, sejarah Rosululloh Saw. berawal dari iqro (Qs. 96:1-5) dan diikuti ayat berikutnya Qs. Al-Fatihah 1-7 lalu ayat berikutnya Qs. 68:1-8 dan seterusnya hingga ayat yang terakhir yaitu Qs. Al-Maidah ayat 3 rincian perjalan sejarah Rosul ini tidak terpenggal-penggal atau terpisah satu sama lain, melainkan antara satu tahap ke tahap berikutnya memiliki hubungannya yang sangat kuat dan tidak bisa di pisahkan. Tahap yang satu dilanjutkan dan di jelaskan oleh tahap berikutnya dan setiap tahap menuntut (mengandung Konseksuensi) lahirnya. Tahap berikutnya. Tahapan yang satu menjadi dasar menuju tahap berikutnya. Demikian seterusnya setiap tahapan sejarah saling berkaitan dan berkesinambungan satu sama lain secara utuh dan jelas dari awal hingga akhir (finish) Qs. 12:111)
Seperti contoh tidak akan lahirnya masa (Fase) Madinah sebelum ummat melalui masa Makiyah. Masa Makiyah memberi landasan dasar terbentuknya masa Madinah tersebut. Memasuki madinah tanpa di dasari masa Mekkah adalah sesuatu yang mustahil. Kalaupun bisa saja ummat memasuki masa Madinah tanpa di awali masa Mekkah, namun masa tersebut akan mudah hacur dan runtuh, karena tidak dibangun diatas dasar yang kokoh. Seperti halnya membangun rumah yang tidak diawali dari sebuah pondasi, maka dapat dipastikan akan mudah runtuh diterpa angin. Singkatnya, dengan tafsil akan diketahui tahapan-tahapan sejarah yang harus di jalani secara tertib berkesinambungan. Decara kronologis.
Fungsi tafsil tidak hanya memberi gambaran rinci tentang tahapan-tahapan yang harus di jalani, tepapi juga memberi rincian pelaksanaan dalam setiap tahapan tersebut. Sehingga akan diketahui mana yang menjadi pondasi dan mana tiang dan atap hal apa yang harus di lakukan (dibangun) pada setiap tahapan sejarah. Mana aspek-aspek yang bisa mendukung serta memperkuat setiap tahapan tersebut. Dengan demikian jelas bahwa tanpa petunjuk rinci (Tafsil) tersebut mustahil akan tercapai tujuan dengan baik dan benar. Seperti tujuan membangun sebuah rumah tanpa sebuah petunjuk rinci tentang bagaimana rumah tersebut harus dibangun. Demikianlah, tidak hanya memberi panduan tentang awal dan arah tujuan yang harus di capai tetapi juga menjelaskan bagaimana rincian langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sehingga dengan berpedoman terhadap tafsil sejarah tersebut kehidupan ummat akan benar-benar tertib (berstuktur 0 dan dikendali kepada arah tujuan yang ingin di raih .
Dengan fungsi tafsil ini akan menjelaskan segala sesuatu peristiwa, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Sehingga ummat akan memahami mana langkah dan perbuatan yang benar sesuai dengan hudan dan sebaliknya langakah yang menyimpangkan dan menjauhkan ummat dari arah tujuan. Dengan demikian, melaui sejarah ummat akan semakin faham terhadap realitas kehidupan yang dijalaninya. Ia akan berjalan dengan langkah yang pasti, kerena ia tahu bahwa setiap fase dan setiap langkah dari sejarahnya akan menghantarkannya kepada tujuan tertinggi yang di idam-idamkan.
Demikian kesadaran terhadap fungsi tafsil dari sejarah tersebut harus benar-benar dihayati dan di yakini serta di rasakan, bahwa fase kita hari ini dan setiap perjalanan yang hasur kita lakukan menjadi penentu untuk tersampainya kepada tujuan hidup, yakni dlohirnya din Islam didalam kehidupan ini.

  1. Sebagai Tasbit
Kata tasbit mengandung arti menetapkan, mengekalkan, mangukuhkan. Pungsi sejarah sebagai tasbit maksudnya bahwa melalui pemahan dan penghayatan terhadap sejarah akan mengkokohkan keyakinan dalam diri sehingga tidak tergoyahkan dari wijhah yang haq.
Melalui pemahaman dan penghayatan terhadap sejarah akan semakin menambah dan meperkuat keimanan dalam diri. Karena didalam sejarah inilah seseorang akan melihat dan merasakan bukti-bukti kebenaran dari apa yang diyakininya. Sejarah pada dasarnya adalah sarana dan wadah dalam membuktikan dan mewujudkan keimanan dan keIslaman, baik dalam lingkup indipidu atau ijtima’i. Keimanan seseorang akan dibuktikan melalui perjalanan sejarahnya. Oleh karena itu melalui peroses sejarah ia akan merasakan berbagai ujian, godaan dan tangtangan serta berbagai resiko lainnya yang merintangi setiap langkahnya dalam mewujudkan keimanan dan keIslamannya, sebagaimana hal itu dialami oleh Rosul-Rosul dan kaum muslimin sebelumnya.
Seorang mampu menarik makna dari setiap peristiwa sejarah. Bahwa ada hikmah dibalik setiap kejadian. Ia menyadari semua ujian dan tantangan serta rintangan apa saja yang akan dialami dalam proses penegakkan Risalah tersebut. Semua itu akan semakin mengukuhkan keyakinannya terhadap sejarah harokah (lembaga yang ia perjuangkan. Ia tidak hanya mampu mencapai haqqul yaqin, bahkan lebih jauh ia mampu musyahadah (menyaksi) terhadap kebenaran dari wijhah harokahnya tersebut. Pada tingkat ini seseorang tidak hanya memiliki kemampuan meluhat dengan mata bathiniyahnya hakekat kebenaran dibalik setiap penomena sejarah, tetapi juga mampu merasakan dan melebur diri dengan perjalanan sejarah tersebut. Inilah yang akan melahirkan ketenangan (sakinah) dalam jiwa-jiwa kaum muslimin (Qs. 48:4). Ia tidak hanya mampu melihat kebenaran dari harokahnya, tetapi juga mampu menghayati dan merasakan setiap perisip-perinsip kebenaran yang diyakini tersebut dalam realitas sejarah harokahnya.
Orang yang telah Haqul yaqin dan Musyahadah terhadap sejarah (Harokah) nya adalah orang yang tidak ada lagi jarak yang memisahkan dirinya dengan harokahnya. Ia tidak hanya meyakini landasan-landasan yang menjadi bukti akan kebenaran dari harokahnya tetapi juga mampu menjadi pelaku sejarah yang akan merubah, memperbaharui (meromabak) keadaan sejarah diri maupun masyarakatnya sesuai dengan perinsif-perinsif Al-Haq yang ia yakini. Orang seperti ini adalah Ideolog, reformer, dan refolisoner dan selalu berusaha memperjuangkan tegaknya kembali (merekonstruksi dan merektualisasi) setiap nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam seperti yang telah di tegakan oleh sejarah ummat di masa lalu kedalam kehidupan sejarah diri pribadi dan masyarakatnya.
“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”.

  1. Tashdiq
Tashdiq mengandung arti membenarkan, meneguhkan. Sejarah sebagai tashdiq maksudnya sejarah menjadi legitimasi (Landasan Kebenaran). Kebenaran sejarah hari ini diukur dari sejarah masa lalu, apakah ada kesinambungan dan kesesuaiana antara sejarah hari ini dengan sejarah ummat masa lalu.
Jika di kaitkan dengan harokah, maka sejarah menjadi landasan bukti benar tidaknya sebuah harokah. Sejarah masa lalu menjadi bukti kebenaran hari ini, dan sebaliknya sejarah hari ini membenarkan bukti kebenaran sejarah masa lalu. Melalui sejarah ini akan diketahui adakah kesinambungan dan kesesuaian antara sejarah harokah tersebut dengan sejarah Islam dimasa lalu.
Adapun parameter (ukuran) yang menjadi landasan kebenaran sebuah harokah adalah adanya kesinambungan ideologis dan historis hari ini dengan masa lalu dan masa yang akan datang. Yang di maksud kesinambungan ideologis adalah pertama, adanya hubungan dan kesinambungan yang tak terputus antara perjuangan ideologi Islam (Tauhid) dari ummat masa lalu dengan ummat masa kini. Kedua, adanya kesamaan misi ideology yang di perjuangkan dan di tegakkan oleh ummat hari ini dengan misi ideology yang telah di tegakkan oleh ummat Islam di masa lalu (yakni misi Tauhid / Islam).
Sedangkan yang di maksud kesinambungan historis juga mengandung dua arti. Pertama sejarah hari ini memiliki kesinambungan yang tidak terputus dengan sejarah ummat masa lalu, dimana sejarah ummat hari ini adalah untuk meneruskan sejarah ummat Islam sebelumnya. Yakni dimaksud meneruskan/ melanjutkan disini adalah dalam hal penegakan visi – misi, kepemimpinan dan manhaj Al-Haq (Islam / Tauhid). Sehingga tidak ada keputusan sejarah antara masa lalu dan dengan sejarah kita jalani hari ini. Kedua, proses sejarah ummat hari ini sesuai dengan proses sejarah yang di lalui oleh sejarah ummat masa lalu. Maksudnya, sejarah ummat hari ini merupakan rekonstruksi dan reaktualisai (upaya menegakkan kembali  dari sejarah ummat sebelumnya. Dengan demikian, ada “ kesamaan” perjalanan sejarah yang dilalui ummat hari ini dengan perjalanan sejarah ummat masa lalu tersebut.
Sejarah hari ini menjadi bathal jika tidak ada benang merah yang menghubungkan dengan sejarah Al-Islam di masa lalu. Akibatnya, segala yang dilakukan oleh ummat Islam hari ini tidak memiliki dasar (Legitimasi) yang membenarkan terhadap apa yang mereka lakukan. Dengan kata lain apa yang dilakukan hari ini adalah sesuatu yang baru yang tidak terkait dengan sejarah Al-Haq sebelumnya.
Sejarah dalam Islam adalah sejarah yang berkesinambungan antara satu ummat dengan ummat berikutnya tanpa terputus. Demikian Al-Quran menerangkan bahwa setiap habis ajal suatu ummat maka akan diutus kembali ummat yang lainnya. Demikian pula setiap Rosul wafat maka akan di utus Rosul-rosul.
Diawali dari sejarah Nabi Adam kemudian dilanjutkan oleh Rosul dan nabi serta ummat berikutnya secara tidak terputus. Rosul yang satu melanjutkan sejarah Rosul sebelumnya, dan setiap Rosul yang di utus memiliki kesinambungan histories yang sejarah dengan sejarah Rosul-rosul sebelumnya. Ini Urwatul Wusqo, sebuah benang merah yang tidak terputus dari mulai sejarah Nabi Adam hingga sejarah ummat di akhir Jaman kelak. Adanya Urwatul Wusqo yang menjadi pembenaran (Tasdiq Musoddiq) antara ummat dengan ummat yang lainnya.
Demikian dengan sejarah harokah yang sedang di perjuangkan oleh ummat Islam hari ini adalah membenarkan tentang sejarah Islam dimasa lalu. Proses perjuangan ummat hari ini adalah dalam rangka meneruskan dan menegakkan kembali misi ideologis (Al-Islam / Tauhid) dari perjuangan ideology yang sama dari ummat-ummat terdahulu. Selain menjadi tasdiq terhadap sejarah Islam dimasa lalu, sejarah hari ini juga akan membenarkan (dasar legitimasi) terhadap segala apa yang dilakukan dimasa yang akan datang (sejarah masa depan).

  1. Rohmat
Sejarah merupakan wujud curahan kasih sayang dan kecintaan (rahmat) yang di karuniakan Alloh kepada hamba-hamba-Nya. Melalui keterlibatan kedalam proses sejarah (harokah Islam) ini akan terasa bagaimana wujud Rohmaniah dan Rohimiah Alloh (seperti Qs. 4:95-96, 3:159). Curahan rahmat ini hanya di berikan kepada hamba-hamba pilihan Alloh (Musthofaenal Akhyar ), yakni mereka beriman, berhijrah, dan berjihad fi sabilillah (Qs. 2:218, 2:157), menegakan ketaatan kepada Alloh dan Rosul dalam setiap langkah dan gerak sejarahnya. Mereka ini bersama-sama dengan orang-orang yang di anugrahi ni’mat oleh Alloh, yaitu nabi-nabi, para sidikin, dan syuhada serta orang-orang soleh (Qs. 4:69). Karena mereka inilah orang-orang yang benar-benar mengharaf rohmat dan ridlo Alloh Swt. (يرجون رحمة الله   ) serta tidak pernah putus asa terhadap rohmat Alloh tersebut. Curahan Rohmatulla, yang menjadi haq bagi orang-orang yang menghambakan diri hanya kepada عزّ وجلّ   semata-mata.
Melalui perjalan sejarah dengan berbagai luka-liku di dalamnya akan menyadarkan kita bahwa bukanlah usaha manusia yang menyampaikan pada maksud cita-cita, bukan pula amal dan ikhtiyar manusia yang dapat melaksanakan maksud yang manapun juga, melainkan semua itu hanyalah tergantung kepada Kurnia Alloh semata-mata. Tanggung jawab manusia (ummat) hanyalah melakukan daya upaya, ikhtiyar, usaha, tegasnya melakukan waijib suci, demi mencukupkan perintah Alloh semata, dengan mentaati uswah hasanah Rosul Saw. Oleh karena itu, membangun persiapan dan kesiapan untuk menerima curahan rahmat itulah yang menjadi tanggungjawab setiap ummat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar